Prasmanan MBG Dikritik Pakar: yang Perlu Dibenahi Pengolahan di SPPG, Bukan Penyajian

Vania Rossa, Hiskia Andika Weadcaksana

Kamis, 08 Oktober 2026 | 10:22 WIB
Prasmanan MBG Dikritik Pakar: yang Perlu Dibenahi Pengolahan di SPPG, Bukan Penyajian
Ilustrasi MBG. (Suarajogja.id/Putu Ayu Palupi)
baca 10 detik
  • Pakar UGM Agustinus Subarsono menilai uji coba prasmanan Makan Bergizi Gratis di sekolah pada Kamis (8/10/2026) tidak menyelesaikan masalah utama keracunan.
  • Ia menyatakan perbaikan tata kelola program harus berfokus pada proses pengolahan makanan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi untuk mencegah kontaminasi.
  • Sebagai solusi, ia menyarankan penggunaan kemasan boks yang lebih praktis atau transfer dana langsung ke orang tua jika SPPG sulit ditertibkan.

Suara.com - Uji coba penyajian program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dinilai belum menyentuh inti persoalan. 

Pakar Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada (UGM), Agustinus Subarsono, menilai bahwa pembenahan tata kelola MBG seharusnya berpusat pada perbaikan proses pemrosesan dan pengolahan makanan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), bukan sekadar mengubah teknis penyajian di lingkungan sekolah.

"Metode penyajian menu adalah masalah sekunder, meskipun secara teoritik bisa juga terjadi kontaminasi bakteri dan virus," kata Subarsono kepada Suara.com, Kamis (8/10/2026).

Menurutnya pembuat kebijakan harus bertindak cepat menelusuri akar masalah utama keracunan yang umumnya dipicu oleh kontaminasi bakteri, virus, atau parasit sejak proses pembuatan di dapur.

"Penting bagi pembuat kebijakan menelusuri akar masalah keracunaan dan memberikan diagnose yang tepat, misalnya penyebab keracunan adalah karena menu terkontaminasi oleh bakteri, virus atau parasit dalam proses pembuatannya," tandasnya.

"Dengan demikian, kebijakan yang diambil adalah pencegahan agar tidak tidak terjadi kontaminasi pada proses pemasakan menu," imbuhnya.

Lebih lanjut, Subarsono menyatakan bahwa penataan ulang sistem MBG harus diarahkan secara menyeluruh pada pengolahan makanan di SPPG. Pembenahan kualitas pada tahap pemrosesan jauh lebih mendesak untuk memastikan jaminan keamanan pangan bagi para siswa penerima program.

Ia memperingatkan bahwa skema prasmanan di sekolah justru berpotensi memunculkan masalah baru terkait kebersihan dan membengkaknya biaya operasional. 

Makanan yang disajikan secara terbuka berisiko tinggi terkontaminasi, serta menuntut penyediaan ruang khusus, meja penyajian, pengawasan antrean, hingga fasilitas pengelolaan limbah makanan dan pencucian alat makan.

baca juga

Skema penyajian di dalam kelas pun dinilai kurang realistis sebab berisiko membuat ruang kelas kotor dan menyita waktu istirahat siswa yang sangat terbatas. 

"Manajemen waktu dan resiko hendaknya menjadi pertimbangan utama kalau disajikan di tiap kelas," tandasnya.

Subarsono menyoroti bahaya laten jika murid dan guru dilibatkan dalam persiapan penyajian melalui tugas piket bergilir. 

Keterlibatan tersebut tidak hanya mengganggu tugas formal mereka sebagai tenaga pendidik dan pelajar. Lebih dari itu ada risiko menggeser beban tanggung jawab serta konsekuensi hukum dari SPPG selaku lembaga profit kepada pihak sekolah.

"Ketika murid dan guru dilibatkan dalam persiapan penyajian dalam skema tugas bergilir, kasihan mereka karena diribetkan di luar kompetensi mereka di tengah-tengah tugas formal yang tidak ringan. Di samping itu, saya khawatir, di kemudian hari kalau ada kasus keracunan, pihak SPPG akan melempar tanggung ke pihak sekolah," ungkapnya.

Sebagai solusi ideal, Subarsono memandang bahwa penyajian dalam bentuk kemasan boks tetap jauh lebih praktis dan minim kerumitan bagi pihak sekolah maupun siswa.

"Dengan demikian, reform tentang tatakelola MBG fokus pada tahap pemrosesan menu di SPPG, bukan pada tahap penyajian di sekolah," tegasnya.

Namun, jika BGN terbukti kesulitan menertibkan SPPG yang terus-menerus memicu kasus keracunan siswa, ia memberikan opsi alternatif yang dianggapnya lebih efisien dan tepat sasaran.

"Kalau sekiranya BGN terlalu repot menertibkan SPPG yang selama ini menyebabkan keracunan murid, maka lebih baik transfer dana MBG ke ruang tua saja jauh lebih praktis," tandasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Geger Penemuan Mayat Pria Terikat Borgol di Bekas Bangunan SPPG

Geger Penemuan Mayat Pria Terikat Borgol di Bekas Bangunan SPPG

News | Rabu, 07 Oktober 2026 | 15:13 WIB

Jamal Mirdad Rilis Lagu Nasi Hangat, Bawa Pesan tentang Gizi dan Masa Depan Anak Indonesia

Jamal Mirdad Rilis Lagu Nasi Hangat, Bawa Pesan tentang Gizi dan Masa Depan Anak Indonesia

Entertainment | Selasa, 06 Oktober 2026 | 20:14 WIB

Uji Coba MBG Prasmanan di Yogyakarta: Siswa Puas, tapi Masih Ada Sisa Makanan 3,3 Kg

Uji Coba MBG Prasmanan di Yogyakarta: Siswa Puas, tapi Masih Ada Sisa Makanan 3,3 Kg

News | Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:24 WIB

Terkini

Butuh Bahan Bacaan? Ini 5 Rekomendasi Novel tentang Kehidupan

Butuh Bahan Bacaan? Ini 5 Rekomendasi Novel tentang Kehidupan

Your Say | Kamis, 08 Oktober 2026 | 10:20 WIB

Kabut Asap, Sebagian Besar Kecamatan di Pelalawan Liburkan Sekolah

Kabut Asap, Sebagian Besar Kecamatan di Pelalawan Liburkan Sekolah

Riau | Kamis, 08 Oktober 2026 | 10:19 WIB

Patokan Iuran Bulan Dana ke ASN Jakarta Bikin Gaduh! PMI DKI Panggil Seluruh Pimpinan Wilayah

Patokan Iuran Bulan Dana ke ASN Jakarta Bikin Gaduh! PMI DKI Panggil Seluruh Pimpinan Wilayah

News | Kamis, 08 Oktober 2026 | 10:19 WIB

Agen Pos Butuh Internet Buat Kerja, Paket Khusus Disiapkan Mulai Rp12 Ribu

Agen Pos Butuh Internet Buat Kerja, Paket Khusus Disiapkan Mulai Rp12 Ribu

Tekno | Kamis, 08 Oktober 2026 | 10:19 WIB

Melihat Langsung Dapur 'Stunt Fighting': Saat 1 Detik Bertarung Butuh Keringat Panjang

Melihat Langsung Dapur 'Stunt Fighting': Saat 1 Detik Bertarung Butuh Keringat Panjang

Your Say | Kamis, 08 Oktober 2026 | 10:18 WIB

4 Pemain Timnas Indonesia Tak Dipakai John Herdman di FIFA ASEAN Cup 2026, 2 dari Persija Jakarta

4 Pemain Timnas Indonesia Tak Dipakai John Herdman di FIFA ASEAN Cup 2026, 2 dari Persija Jakarta

Bola | Kamis, 08 Oktober 2026 | 10:18 WIB

5 Cara Mengepel Lantai agar Tidak Bau Amis, Auto Bersih dan Wangi

5 Cara Mengepel Lantai agar Tidak Bau Amis, Auto Bersih dan Wangi

Lifestyle | Kamis, 08 Oktober 2026 | 10:16 WIB

Java United Butuh Dukungan di Jatidiri, Tiket Lawan Borneo FC Dipangkas Jadi Rp27 Ribu

Java United Butuh Dukungan di Jatidiri, Tiket Lawan Borneo FC Dipangkas Jadi Rp27 Ribu

Jawa Tengah | Kamis, 08 Oktober 2026 | 10:11 WIB

Ijazah Gibran Disorot Media Asing Usai Mahkamah Konstitusi Tolak Gugatan PHPU

Ijazah Gibran Disorot Media Asing Usai Mahkamah Konstitusi Tolak Gugatan PHPU

News | Kamis, 08 Oktober 2026 | 10:07 WIB

Disdik Bentuk Tim Khusus Dampingi Mental Korban Kekerasan Guru SMKN 27 Jakarta

Disdik Bentuk Tim Khusus Dampingi Mental Korban Kekerasan Guru SMKN 27 Jakarta

News | Kamis, 08 Oktober 2026 | 10:07 WIB

×