Apa Itu Bakteri Yersinia Pestis? Diduga Bocor di Lab RUsia, Sumber dari Wabah Black Death

Galih Prasetyo

Kamis, 08 Oktober 2026 | 11:30 WIB
Apa Itu Bakteri Yersinia Pestis? Diduga Bocor di Lab RUsia, Sumber dari Wabah Black Death
Apa Itu Bakteri Yersinia Pestis? Diduga Bocor di Lab RUsia, Sumber dari Wabah Black Death [Istimewa]
baca 10 detik
  • Pekerja lab Rusia bernama Daria Shipilova meninggal di Shelekhov pada September akibat paparan bakteri Yersinia pestis.
  • Otoritas kesehatan Rusia menempatkan hampir 200 orang dalam pengawasan medis setelah melakukan kontak dengan korban tersebut.
  • Para ahli menilai kemungkinan kasus ini memicu pandemi baru sangat rendah karena penularannya terbatas.

Suara.com - Kematian misterius pekerja lab asal Rusia, Daria Shipilova di Institut Antipes Siberia dan Timur Jauh pada awal September lalu baru terkuak.

Kematian Daria memunculkan kekhawatiran munculnya kembali wabah Black Death seperti pada abad ke-14.

Hal ini lantaran Daria meninggal misterius akibat terpapar bakteri Yersinia Pestis yang bocor.

Korban dirawat di rumah sakit pada akhir September dan meninggal beberapa hari kemudian di Shelekhov, wilayah dekat Irkutsk.

Ilustrasi Black Death. [Shutterstock]
Ilustrasi Black Death. [Shutterstock]

Awalnya, sejumlah pejabat Rusia menyebut korban meninggal akibat penyakit pes.

Namun, otoritas kesehatan Rusia kemudian membantah adanya hubungan tersebut dan menyatakan penyebab kematiannya adalah pneumonia yang belum diketahui sumbernya.

Kasus ini berkembang setelah hampir 200 orang yang pernah melakukan kontak dengan Shipilova dilaporkan berada dalam pengawasan medis.

Surat kabar Rusia Izvestia menyebut sekitar 197 orang menjalani observasi sebagai langkah pencegahan.

Apa itu Bakteri Yersinia Pesti

baca juga

Pes disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis.

Bakteri tersebut dikenal sebagai penyebab wabah Black Death yang menewaskan sebagian besar penduduk Eropa pada abad ke-14.

Bakteri pes secara alami dapat ditemukan pada sejumlah populasi hewan pengerat liar.

Penularan kepada manusia paling sering terjadi melalui gigitan kutu yang telah terinfeksi, tetapi manusia juga dapat tertular melalui kontak dengan hewan sakit atau material yang terkontaminasi.

Khusus pes paru, penularan dapat terjadi melalui percikan droplet dari orang yang terinfeksi ketika batuk.

Karakteristik inilah yang membuat pes paru mendapat perhatian lebih besar dalam penanganan kesehatan masyarakat.

Pes dapat muncul dalam tiga bentuk utama, yakni pes bubonik, pes septikemia, dan pes paru.

Pes bubonik merupakan bentuk yang paling umum dan ditandai pembengkakan kelenjar getah bening atau munculnya bubo.

Sementara itu, pes septikemia terjadi ketika bakteri masuk ke dalam aliran darah dan dapat berkembang menjadi kondisi serius.

Pes paru merupakan bentuk yang paling berbahaya karena menyerang sistem pernapasan dan dapat ditularkan antarmanusia.

Penyakit tersebut dapat muncul sebagai komplikasi pes yang tidak ditangani maupun akibat menghirup droplet dari pasien yang terinfeksi.

Kematian Misterius Teknisi Lab Rusia: Diduga Kebocoran Bakteri Pes, Bakal Ada Wabah Baru? [MundoEConflicto]
Kematian Misterius Teknisi Lab Rusia: Diduga Kebocoran Bakteri Pes, Bakal Ada Wabah Baru? [MundoEConflicto]

Pes Paru Berkembang Sangat Cepat

Pes paru dikenal memiliki perjalanan penyakit yang cepat. Gejalanya dapat berupa lemas, sesak napas, nyeri dada, batuk serta keluarnya dahak yang terkadang bercampur darah.

Tanpa pengobatan, penyakit tersebut dapat berakibat fatal. Namun, pes dapat diobati dengan antibiotik jika diagnosis dan terapi dilakukan sedini mungkin.

Malick Gibani, profesor klinis vaksinologi bakteri di Imperial College London, menjelaskan bahwa pengobatan dini menjadi faktor penting dalam meningkatkan peluang pasien untuk bertahan hidup.

“Penyakit ini dapat diobati dengan antibiotik, terutama jika pengobatan dimulai sejak dini,” ujar Gibani kepada Science Media Centre.

Orang yang diketahui memiliki paparan berisiko tinggi juga dapat diberikan antibiotik sebagai profilaksis setelah paparan atau menjalani karantina sesuai penilaian medis.

Apakah Bisa Menjadi Pandemi Baru?

Para ahli menilai kemungkinan kasus ini berkembang menjadi pandemi sangat rendah.

Salah satu alasannya adalah pasien pes paru biasanya mengalami perburukan kondisi dalam waktu relatif cepat sehingga peluang melakukan kontak dengan banyak orang menjadi lebih terbatas.

Selain itu, penularan pes paru terutama membutuhkan kontak dekat melalui droplet pernapasan.

Penyakit ini tidak menyebar melalui aerosol dalam jarak jauh seperti sejumlah penyakit pernapasan lainnya.

Alice Hughes, profesor ilmu konservasi di University of Melbourne, menilai kemungkinan penyebaran lebih lanjut juga kecil apabila paparan terjadi di laboratorium dan fasilitas tersebut telah menjalani proses dekontaminasi.

“Jika orang-orang segera dikarantina, sangat kecil kemungkinan penyakit ini menyebar lebih jauh,” ujar Hughes kepada Science Media Centre.

Ian Jones, profesor virologi di University of Reading, juga menilai kasus tersebut kemungkinan merupakan insiden laboratorium yang jarang terjadi dan tidak akan berkembang menjadi wabah besar.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kematian Misterius Teknisi Lab Rusia Picu Alarm Wabah Black Death Sesi 2, WHO Buka Suara

Kematian Misterius Teknisi Lab Rusia Picu Alarm Wabah Black Death Sesi 2, WHO Buka Suara

News | Kamis, 08 Oktober 2026 | 11:19 WIB

Kematian Misterius Teknisi Lab Rusia: Diduga Kebocoran Bakteri Pes, Bakal Ada Wabah Baru?

Kematian Misterius Teknisi Lab Rusia: Diduga Kebocoran Bakteri Pes, Bakal Ada Wabah Baru?

News | Kamis, 08 Oktober 2026 | 11:10 WIB

Peneliti Meninggal Diduga Akibat Bakteri Wabah Mematikan, AS Minta Rusia Transparan

Peneliti Meninggal Diduga Akibat Bakteri Wabah Mematikan, AS Minta Rusia Transparan

Health | Rabu, 07 Oktober 2026 | 08:08 WIB

Rendi Apriyanto Dikontrak 6 Bulan Tentara Bayaran Rusia, 18 September Telepon, 8 Hari Kemudian Tewas

Rendi Apriyanto Dikontrak 6 Bulan Tentara Bayaran Rusia, 18 September Telepon, 8 Hari Kemudian Tewas

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 16:24 WIB

Tewas di Medan Perang, Rendi Apriyanto Dikontrak Jadi Tentara Bayaran Rusia Bagian Logistik

Tewas di Medan Perang, Rendi Apriyanto Dikontrak Jadi Tentara Bayaran Rusia Bagian Logistik

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 14:02 WIB

Terkini

Apa Itu Bakteri Yersinia Pestis? Diduga Bocor di Lab RUsia, Sumber dari Wabah Black Death

Apa Itu Bakteri Yersinia Pestis? Diduga Bocor di Lab RUsia, Sumber dari Wabah Black Death

News | Kamis, 08 Oktober 2026 | 11:30 WIB

Usia 20-an Bukan Batasan: Kita Boleh Melangkah Lebih Pelan saat Dunia Sibuk Berlari

Usia 20-an Bukan Batasan: Kita Boleh Melangkah Lebih Pelan saat Dunia Sibuk Berlari

Your Say | Kamis, 08 Oktober 2026 | 11:30 WIB

Penderita ISPA di Kuansing Meningkat Drastis Imbas Pekatnya Kabut Asap Karhutla

Penderita ISPA di Kuansing Meningkat Drastis Imbas Pekatnya Kabut Asap Karhutla

Riau | Kamis, 08 Oktober 2026 | 11:29 WIB

5 Rekomendasi Sneakers Putih Terbaik untuk Mix and Match Harian

5 Rekomendasi Sneakers Putih Terbaik untuk Mix and Match Harian

Lifestyle | Kamis, 08 Oktober 2026 | 11:28 WIB

Daftar 6 Zodiak yang Bakal Bangkit dari Keterpurukan Ekonomi di Oktober 2026

Daftar 6 Zodiak yang Bakal Bangkit dari Keterpurukan Ekonomi di Oktober 2026

Lifestyle | Kamis, 08 Oktober 2026 | 11:27 WIB

Dolar Menguat, Harga Komponen Naik, Pendapatan IOTF Tetap Tumbuh 16%

Dolar Menguat, Harga Komponen Naik, Pendapatan IOTF Tetap Tumbuh 16%

Bisnis | Kamis, 08 Oktober 2026 | 11:27 WIB

Apa Itu Pekan Antariksa Dunia 2026? Kenali Sejarah dan Tujuan Peringatannya

Apa Itu Pekan Antariksa Dunia 2026? Kenali Sejarah dan Tujuan Peringatannya

Tekno | Kamis, 08 Oktober 2026 | 11:23 WIB

Kematian Misterius Teknisi Lab Rusia Picu Alarm Wabah Black Death Sesi 2, WHO Buka Suara

Kematian Misterius Teknisi Lab Rusia Picu Alarm Wabah Black Death Sesi 2, WHO Buka Suara

News | Kamis, 08 Oktober 2026 | 11:19 WIB

Orang-orang Ini Jadi Penentu Nasib Gibran Sebagai Wakil Presiden, Buntut Kasus Ijazah SMA

Orang-orang Ini Jadi Penentu Nasib Gibran Sebagai Wakil Presiden, Buntut Kasus Ijazah SMA

News | Kamis, 08 Oktober 2026 | 11:19 WIB

RI Impor 840 Ribu Ton Nikel dari Brasil, Filipina Hingga Turki Sepanjang 2026

RI Impor 840 Ribu Ton Nikel dari Brasil, Filipina Hingga Turki Sepanjang 2026

Bisnis | Kamis, 08 Oktober 2026 | 11:15 WIB

×