Mengapa Proyek Karbon Biru di Indonesia Masih Sulit Mendapatkan Pendanaan?

Bimo Aria Fundrika

Senin, 12 Oktober 2026 | 15:55 WIB
Mengapa Proyek Karbon Biru di Indonesia Masih Sulit Mendapatkan Pendanaan?
Pemandangan udara yang menakjubkan dari air laut dan garis pantai Lombok, Indonesia. (dok.Pexels/Luqman Hakim)

Suara.com - Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan karbon biru. Sayangnya, potensi tersebut tidak secara otomatis membuat proyek ini mudah mendapatkan pendanaan.

Permasalahan inilah yang menjadi salah satu pembahasan utama dalam sesi "Carbon Talk: Unlocking Blended Financing for Indonesia's Blue Carbon Ecosystem" di acara Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026.

Pada sesi tersebut, para pembicara menyoroti kebutuhan modal sejak tahap awal pengembangan proyek. Modal tersebut diperlukan sebelum proyek itu menghasilkan dan menjual kredit karbon.

Co-Founder dan Chief Executive Officer CarbonEthics, Bimo Soewadji, menyebutkan Indonesia tidak kekurangan potensi karbon biru maupun minat pembelian. Menurutnya, persoalan yang masih butuh untuk dijembatani adalah modal untuk mengembangkan proyek hingga siap mendapatkan investasi.

"Yang kurang itu modal di awal-awal, patient money buat mendanai biaya pembangunan proyeknya," ujar Bimo.

Ia menilai modal tersebut dibutuhkan untuk menekan risiko proyek hingga menjadi layak investasi dan bisa dikembangkan dalam skala lebih besar.

Bimo menjelaskan, proses pengembangan proyek karbon biru tidak bisa langsung dimulai dari penanaman mangrove.

Terlebih dahulu para pengembang ini untuk melakukan pendekatan dengan masyarakat, membahas program-program kerja, memastikan kondisi lahan, hingga menentukan metode restorasi yang sesuai.

Tidak dapat dipungkiri bahwa proses tersebut membutuhkan waktu dan biaya. Di samping itu, kredit karbon sendiri baru dapat diterbitkan setelah berbagai tahapan pengembangan dan verifikasi terpenuhi.

baca juga

Chairman Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Shinta Kamdani mengatakan proyek karbon biru rata-rata membutuhkan modal awal yang besar. Biaya tersebut antara lain digunakan untuk kejelasan lahan, kajian ilmiah, dan keterlibatan masyarakat.

"Para pengelola proyek harus menggunakan uang mereka sendiri terlebih dahulu untuk mendanai pemulihan alam, penelitian sains, dan kegiatan warga, sebelum kredit karbon mereka diverifikasi dan bisa dijual," papar Shinta.

Karena itu, pembiayan tidak bisa hanya dengan mengandalkan modal komersial. Skema blended finance diperlukan dengan mengkombinasikan beberapa jenis sumber pendanaan sesuai tingkat risikonya.

Blended Finance Bisa Tekan Risiko Sebelum Modal Komersial Masuk

Carbon Talk: Unlocking Blended Financing for Indonesia's Blue Carbon Ecosystem, Grand Ballroom Kempinski, Jakarta, Selasa (6/10). (dok.Pribadi/Chairun Nisa)
Carbon Talk: Unlocking Blended Financing for Indonesia's Blue Carbon Ecosystem, Grand Ballroom Kempinski, Jakarta, Selasa (6/10). (dok.Pribadi/Chairun Nisa)

Shinta menerangkan bahwa pendanaan non-komersial dapat digunakan lebih dulu untuk membiayai persiapan proyek dan mengurangi risiko investasi. Sementara itu, modal komersial baru bisa masuk setelah proyek memiliki kesiapan dan bukti yang lebih kuat.

pendanaan itulah yang dipakai untuk membiayai kajian ilmiah, kejelasan tenure (masa jabatan), keterlibatan masyarakat, hingga mekanisme seperti jaminan, first-loss, dan asuransi.

Dalam sesi tematik tersebut, perwakilan dari Conversation International yang menjabat sebagai Nature Finance Vice President for the Asia-Pasific Region, Jan Yoshioka, juga menjelaskan peran catalytic finance (pembiayaan katalitik) dalam tahap awal proyek.

Menurut Jan sendiri, pendanaan filantropi mampu memfasilitasi grant atau recoverable grant untuk membantu pengembang melewati tahap pra-kelayakan dan studi kelayakan.

Setelah proyek memiliki bukti awal dan lebih matang, catalytic capital maupun modal komersial dapat masuk untuk mendorong tahap berikutnya.

Sementara itu, Head of Asia and Head of Asset Management dari Rubicon Carbon, Flora Ji, menilai perjalanan proyek menuju investasi merupakan proses mengurangi risiko secara bertahap.

Ia memandang grant ini bisa saja digunakan pada tahap awal dalam studi kelayakan. Selanjutnya, catalytic dan conventional capital dapat mendorong proyek percontohan untuk terus membangun kepercayaan dan bukti nyata.

"Di tahap awal, sangat dibutuhkan dana hibah untuk mendanai uji kelayakan proyek ini. Tapi setelah itu, baru kita butuh pendanaan katalis dan modal konvensional untuk mulai menjalani proyek percontohannya," terang Flora.

Setelah proyek sudah dipastikan berjalan, commercial growth fund dapat digunakan untuk implementasi dan replikasi.

Dengan begitu, setiap jenis modal memiliki peran berbeda dalam siklus pengembangan proyek karbon biru.

Bimo pun menilai dukungan public-private partnership juga dapat membantu membangun pipeline proyek menjadi lebih siap untuk investasi dan bankable.

Sebab, pembiayan tersebut sangat penting, mengingat proyek karbon biru memiliki modal awal yang tinggi dan periode pengembaliannya pun tidak berlangsung sebentar.

Kini tantangannya tidak lagi pada bagaimana modal itu didapatkan, melainkan juga bagaimana memposisikan setiap sumber modal pada tahap yang lebih akurat.

Blended finance kemudian diharapkan mampu mengintegrasikan kebutuhan tersebut sehingga potensi karbon biru Indonesia bisa berkembang menjadi proyek yang layak untuk diinvestasikan sekaligus memberikan manfaat besar bagi masyarakat pesisir.

Penulis: Chairunisa

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Indonesia Sustainability 360 Forum 2026: Kolaborasi Lintas Sektor Dorong Transformasi Ekonomi Hijau

Indonesia Sustainability 360 Forum 2026: Kolaborasi Lintas Sektor Dorong Transformasi Ekonomi Hijau

News | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 19:26 WIB

Mengapa RAPBN 2027 Dinilai Belum Cukup Mendukung Ekonomi Hijau?

Mengapa RAPBN 2027 Dinilai Belum Cukup Mendukung Ekonomi Hijau?

News | Jum'at, 21 Agustus 2026 | 17:55 WIB

Belanja Pengadaan Pemerintah Tembus Rp1.193 Triliun, Jadi Motor Ekonomi Hijau

Belanja Pengadaan Pemerintah Tembus Rp1.193 Triliun, Jadi Motor Ekonomi Hijau

Bisnis | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 09:35 WIB

Terkini

Bareskrim Polri-Polrestabes Medan Gerebek THM, Vape Narkoba Disita

Bareskrim Polri-Polrestabes Medan Gerebek THM, Vape Narkoba Disita

Sumut | Senin, 12 Oktober 2026 | 15:55 WIB

Menggali Mahitala: Merawat Kehidupan, Membangun Kemandirian di Bumi Kawasi

Menggali Mahitala: Merawat Kehidupan, Membangun Kemandirian di Bumi Kawasi

Bisnis | Senin, 12 Oktober 2026 | 15:52 WIB

Syahrir: Penutupan Ekspor Benih Lobster Tak Cukup Hentikan Penyelundupan

Syahrir: Penutupan Ekspor Benih Lobster Tak Cukup Hentikan Penyelundupan

Sulsel | Senin, 12 Oktober 2026 | 15:48 WIB

PLTU Sumut-1 Bisa Bebani Negara Rp4,8 Triliun, Energi Bersih Terbarukan Jadi Solusi?

PLTU Sumut-1 Bisa Bebani Negara Rp4,8 Triliun, Energi Bersih Terbarukan Jadi Solusi?

Sumut | Senin, 12 Oktober 2026 | 15:45 WIB

A Waffle Lot of Love!: Kisah Persahabatan Manis yang Mengundang Tawa

A Waffle Lot of Love!: Kisah Persahabatan Manis yang Mengundang Tawa

Your Say | Senin, 12 Oktober 2026 | 15:45 WIB

Persib Bandung Desak Penyerangan Bus Tim di Rest Area Batang Diusut Tuntas

Persib Bandung Desak Penyerangan Bus Tim di Rest Area Batang Diusut Tuntas

Jabar | Senin, 12 Oktober 2026 | 15:41 WIB

Tak Cukup Bicara soal Haid, Remaja Perempuan Perlu Edukasi Kesehatan Reproduksi

Tak Cukup Bicara soal Haid, Remaja Perempuan Perlu Edukasi Kesehatan Reproduksi

Health | Senin, 12 Oktober 2026 | 15:39 WIB

SIGUMI Diluncurkan di Karangasem, Dorong Kesiapsiagaan Bencana di Kawasan Wisata

SIGUMI Diluncurkan di Karangasem, Dorong Kesiapsiagaan Bencana di Kawasan Wisata

Your Say | Senin, 12 Oktober 2026 | 15:34 WIB

Persib U-18 Diserang Suporter Ini di Rest Area KM 360 Batang, Kepolisian Didesak Usut Tuntas

Persib U-18 Diserang Suporter Ini di Rest Area KM 360 Batang, Kepolisian Didesak Usut Tuntas

Bola | Senin, 12 Oktober 2026 | 15:33 WIB

Ranjau Selat Hormuz Makan Korban Lagi, Kapal Supertanker Bawa 2 Juta Barel Minyak Meledak

Ranjau Selat Hormuz Makan Korban Lagi, Kapal Supertanker Bawa 2 Juta Barel Minyak Meledak

News | Senin, 12 Oktober 2026 | 15:32 WIB

×