- Kabut asap lintas batas di Malaysia berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi bulanan hingga mencapai Rp5,8 triliun.
- Sektor pariwisata, penerbangan, pertanian, dan konstruksi mengalami gangguan aktivitas serta penurunan produktivitas yang signifikan akibat polusi.
- Biaya nasional untuk mengatasi penyakit terkait kabut asap meningkat tajam dan membebani sistem kesehatan masyarakat.
Suara.com - Kabut asap lintas batas yang berkepanjangan berpotensi menggerus perekonomian Malaysia hingga RM1,5 miliar atau sekitar Rp5,8 triliun per bulan.
Kerugian tersebut mencakup gangguan aktivitas bisnis, meningkatnya biaya kesehatan, hingga penurunan produktivitas pekerja.
Sejumlah pakar memperkirakan dampak ekonomi kabut asap saat ini mencapai RM20 juta hingga RM50 juta per hari.
Jika kondisi tersebut terus berlanjut, total kerugian bulanan diperkirakan berada di kisaran RM600 juta hingga RM1,5 miliar.
Profesor ekonomi Sunway University, Dr Yeah Kim Leng, mengatakan angka tersebut masih merupakan perkiraan konservatif.
Menurutnya, dampak kabut asap dapat semakin besar apabila gangguan terhadap berbagai sektor ekonomi terus berlangsung.
“Kerugian ekonomi sebenarnya berpotensi membengkak hingga RM600 juta sampai RM1,5 miliar per bulan,” kata Yeah, seperti dikutip Malay Mail dari laporan The Star.
![Sejumlah kendaraan melintas di atas jembatan Siak III yang dipenuhi kabut asap di Pekanbaru, Riau, Rabu (7/10/2026). [ANTARA FOTO/Rony Muharrman/YU]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/10/08/85432-kabut-asap-pekanbaru-kabut-asap-di-pekanbaru.jpg)
Pariwisata dan Penerbangan Paling Terdampak
Yeah Kim Leng menilai sektor pariwisata dan penerbangan menjadi dua bidang yang paling rentan terhadap dampak kabut asap.
Polusi udara dapat mengurangi jumlah kedatangan wisatawan hingga 8 persen dan memicu kerugian produk domestik bruto (PDB) yang diperkirakan mencapai RM1,5 miliar.
Penurunan kualitas udara dapat membuat wisatawan membatalkan perjalanan, sementara jarak pandang yang terbatas berpotensi mengganggu operasional penerbangan.
Kondisi tersebut juga dapat menekan pendapatan pelaku usaha yang bergantung pada aktivitas pariwisata.
Sektor pertanian dan perkebunan turut menghadapi tekanan. Petani sayuran di Johor dilaporkan mengalami penurunan produksi, sedangkan hasil panen buah-buahan disebut turun hingga separuh.
Industri kelapa sawit juga berpotensi merasakan dampak kabut asap dengan jeda waktu enam hingga 12 bulan.
Artinya, kerugian tidak selalu terlihat secara langsung ketika kabut asap mulai menyelimuti suatu wilayah.
Selain itu, polusi dan jarak pandang yang buruk dapat memperlambat pengiriman barang, menghentikan sementara pekerjaan konstruksi, serta mengurangi jumlah pengunjung pusat perbelanjaan.
Biaya Kesehatan Akibat Kabut Asap Terus Meningkat
Dampak kabut asap tidak hanya dirasakan oleh dunia usaha, tetapi juga masyarakat yang terpapar polusi udara.
Spesialis kedokteran kesehatan masyarakat Universiti Sains Islam Malaysia (USIM), Dr Mohd Hafiz Jaafar, mengatakan biaya pengobatan langsung hanya menggambarkan sebagian kecil dari keseluruhan kerugian.
Ia menyebut biaya nasional akibat penyakit yang berkaitan dengan kabut asap meningkat dari sekitar RM21 juta pada krisis 1997 menjadi RM410 juta pada 2013.
“Angka tersebut hanya mencakup biaya medis untuk penyakit pernapasan. Kabut asap juga berdampak pada jantung dan pembuluh darah, yang belum sepenuhnya kita perhitungkan,” kata Hafiz dikutip dari Sinar Harian.
Menurutnya, paparan polusi udara dapat menambah beban sistem kesehatan sekaligus menimbulkan kerugian tidak langsung bagi perusahaan.
Pekerja yang sakit, tidak masuk kerja, atau tetap bekerja tetapi mengalami penurunan kemampuan dapat mengurangi produktivitas secara signifikan.
“Ada biaya tersembunyi, seperti karyawan yang tidak masuk kerja, karyawan yang hadir tetapi tidak dapat bekerja secara optimal, serta hilangnya produktivitas,” ujarnya.
Hafiz menegaskan bahwa kabut asap bukan semata-mata persoalan kesehatan, melainkan juga masalah ekonomi yang dapat membebani perusahaan dan negara.