Media Inggris Ingatkan Kebakaran Hutan Bukan Cuma di Kalimantan, Papua Juga Parah

Pebriansyah Ariefana

Kamis, 15 Oktober 2026 | 16:53 WIB
Media Inggris Ingatkan Kebakaran Hutan Bukan Cuma di Kalimantan, Papua Juga Parah
Media asing BBC membongkar parahnya kebakaran hutan Papua yang dipicu proyek strategis nasional. (BBC)
baca 10 detik
  • Media Inggris BBC menyoroti krisis karhutla Papua yang diperparah oleh pembukaan lahan proyek nasional.

  • Kabut asap beracun dari Merauke meluas hingga Sulawesi dan mengganggu kesehatan serta aktivitas warga.

  • Kerusakan hutan skala besar melenyapkan ruang hidup masyarakat adat serta memicu lonjakan suhu ekstrem.

Suara.com - Laporan media Inggris BBC mengungkapkan kebakaran hutan dan lahan tidak hanya terjadi di Kalimantan dan Sumatera. Di Papua tahun 2026 telah menghancurkan puluhan ribu hektare area tutupan pohon. Bencana lingkungan ini meluas drastis akibat pembersihan lahan skala besar untuk Proyek Strategis Nasional di Papua Selatan.

Papua Selatan kini berubah menjadi pusat krisis kabut asap yang melumpuhkan penerbangan serta memicu penyakit pernapasan warga. Pencemaran udara akibat pembakaran hutan ini melintasi batas pulau hingga mencapai wilayah Sulawesi dan Maluku.

Semburan asap tebal yang mengarah ke utara membuktikan bahwa krisis ekologi di kawasan timur Indonesia sudah masuk tahap darurat. Pemerintah pusat melalui BNPB justru hanya melaporkan sisa kebakaran seluas 639,23 hektare tanpa mencantumkan data Papua.

Ketidaksesuaian data pemerintah ini memicu kritik keras karena mengabaikan kenyataan lapangan yang dirasakan masyarakat adat sejak Agustus. Bencana asap berbulan-bulan ini berakar dari pembukaan hutan untuk kawasan pangan dan energi seluas dua juta hektare di Merauke.

"Asap masih tebal, mulai banyak yang batuk di sini karena polusi. Sudah susah juga mendapatkan air. Tahun-tahun lalu itu pernah juga tapi tidak terlalu. Ini sampai masyarakat setengah mati," kata Yonas, warga distrik Ilwayab, Merauke, Papua Selatan, dikutip dari BBC.

Semburan partikel beracun kini memaksa anak-anak sekolah menghirup udara berbahaya setiap kali berangkat menuntut ilmu. Aktivitas penggusuran lahan oleh korporasi sawit dan tebu disinyalir menjadi titik awal munculnya ledakan api.

Lembaga swadaya masyarakat menemukan bahwa pola titik api berbanding lurus dengan kawasan izin konsesi bisnis.

"Saya lihat sampai sekarang, kebakaran semakin hebat dan kebanyakan titik-titiknya itu ada di daerah konsesi perkebunan kelapa sawit maupun di lokasi-lokasi Proyek Strategis Nasional," ujar Franky Samperante dari Yayasan Pusaka Bentala Rakyat.

Upaya konfirmasi media terhadap Kementerian Pertahanan selaku pengelola proyek pangan nasional tidak mendapat jawaban hingga kini. Ketidaktegasan pengawasan membuat jarak pandang di permukiman warga anjlok drastis hingga tersisa beberapa ratus meter.

baca juga

"Jarak pandang itu hanya 200 meter saja. Kalau malam itu sudah tidak bisa. Puncaknya (asap tebal) memang di bulan Oktober ini," ucapnya.

Masyarakat setempat terpaksa bertahan hidup di tengah kepungan polusi tanpa adanya skema evakuasi yang memadai.

Kondisi ekologis yang rusak parah melenyapkan kenyamanan iklim mikro yang dahulu menyelimuti daratan Merauke.

"Dulu itu, sejuk pada pagi hari atau sore hari, apalagi malam. Sekarang, sekitar jam 2-3 malam itu puncak suhu panas terasa sekali di tubuh itu. Tidur tidak nyaman. Hari-hari juga tidak terasa angin, kalau dapat angin itu sudah rezeki," kata Vincen.

Penggundulan vegetasi alami menghilangkan benteng pertahanan tanah terhadap penyebaran kobaran api musim kemarau.

Hilangnya benteng alam tersebut mengakibatkan komoditas pertanian milik warga lokal habis dilalap api yang tak terkendali.

"Kami yang hidup bertahun-tahun semasa hutan masih utuh, ada musim panas yang kami bilang musim panas keras, tapi tidak seperti yang ini," ujarnya.

"Ini lebih keras lagi karena hutan itu tidak ada," kata Vincen yang kebun pisang, karet, dan sagu miliknya ikut terbakar saat api meluas.

Lonjakan deforestasi di Kabupaten Merauke memecahkan rekor angka kehilangan pohon tertinggi dibanding daerah lain di Papua.

Ancaman kualitas udara berbahaya pada akhirnya merusak proses pendidikan generasi muda di kawasan terdampak.

Anak-anak sekolah di Manokwari terpaksa menghentikan kegiatan tatap muka demi menghindari bahaya paparan zat beracun.

Keputusan meliburkan sekolah diambil setelah Indeks Standar Pencemar Udara menunjukkan kategori yang mengkhawatirkan kesehatan.

Pemerintah Indonesia menetapkan Kabupaten Merauke sebagai pusat pengembangan food estate dan energi nasional melalui Permenko Perekonomian Nomor 8 Tahun 2023. Kebijakan ini mengalokasikan lebih dari dua juta hektare lahan yang tersebar di sembilan distrik utama untuk industri perkebunan padi, tebu, dan sawit.

Eksploitasi lahan secara masif ini memperparah tren deforestasi kawasan, di mana Merauke mencatatkan kehilangan tutupan pohon terbesar mencapai 180 kilohektare berdasarkan data Global Nature Watch. Deforestasi struktural inilah yang merusak daya dukung lingkungan hingga memicu bencana karhutla berulang dengan dampak paling parah sepanjang sejarah Papua pada 2026.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bekas Musuh Orba Sentil Ego Prabowo: Atasi Karhutla Harus Kerjasama, Timor Leste Siap Bantu

Bekas Musuh Orba Sentil Ego Prabowo: Atasi Karhutla Harus Kerjasama, Timor Leste Siap Bantu

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 16:34 WIB

Partikel PM2.5 Kabut Asap Indonesia Ancam Timor Leste, Warga Diminta Tutup Pintu dan Jendela

Partikel PM2.5 Kabut Asap Indonesia Ancam Timor Leste, Warga Diminta Tutup Pintu dan Jendela

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 16:14 WIB

Bekas Provinsi Indonesia Tutup Sekolah di Seluruh Negeri karena Kebakaran Hutan RI

Bekas Provinsi Indonesia Tutup Sekolah di Seluruh Negeri karena Kebakaran Hutan RI

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 16:00 WIB

Terkini

Media Inggris Ingatkan Kebakaran Hutan Bukan Cuma di Kalimantan, Papua Juga Parah

Media Inggris Ingatkan Kebakaran Hutan Bukan Cuma di Kalimantan, Papua Juga Parah

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 16:53 WIB

IHSG Makin Terpuruk ke Level 5.800, Ini Penyebabnya

IHSG Makin Terpuruk ke Level 5.800, Ini Penyebabnya

Bisnis | Kamis, 15 Oktober 2026 | 16:52 WIB

Kemendagri Evaluasi Layanan Satyalancana Karya Satya Bagi PNS Daerah

Kemendagri Evaluasi Layanan Satyalancana Karya Satya Bagi PNS Daerah

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 16:50 WIB

Baby Oil Bisa Dipakai Apa Aja? Ini Efeknya untuk Kulit Anak dan Orang Dewasa

Baby Oil Bisa Dipakai Apa Aja? Ini Efeknya untuk Kulit Anak dan Orang Dewasa

Lifestyle | Kamis, 15 Oktober 2026 | 16:48 WIB

Jelang 2 Tahun Pemerintahan Prabowo, Kebebasan Pers di Indonesia Disorot Lembaga Dunia

Jelang 2 Tahun Pemerintahan Prabowo, Kebebasan Pers di Indonesia Disorot Lembaga Dunia

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 16:47 WIB

Negara Kekurangan Lapangan Kerja, Rakyat Disuruh Berwirausaha

Negara Kekurangan Lapangan Kerja, Rakyat Disuruh Berwirausaha

Your Say | Kamis, 15 Oktober 2026 | 16:45 WIB

Malaysia Kaji Rencana Proyek Kereta Api Trans-Borneo Hubungkan Kalimantan hingga Brunei

Malaysia Kaji Rencana Proyek Kereta Api Trans-Borneo Hubungkan Kalimantan hingga Brunei

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 16:43 WIB

Tanda Tanya Kapolri Kompak Pindah Tiga Mantan Kapolresta Solo ke Lemdiklat

Tanda Tanya Kapolri Kompak Pindah Tiga Mantan Kapolresta Solo ke Lemdiklat

Jakarta | Kamis, 15 Oktober 2026 | 16:41 WIB

Prabowo Setuju Bantuan Asing Tangani Karhutla, BPNB: Kita Lihat Bantuan Apa Saja

Prabowo Setuju Bantuan Asing Tangani Karhutla, BPNB: Kita Lihat Bantuan Apa Saja

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 16:40 WIB

Jejak Akademis dan Desa, Rektor IPB Alim Setiawan Slamet Kini Resmi Jabat Wamentan

Jejak Akademis dan Desa, Rektor IPB Alim Setiawan Slamet Kini Resmi Jabat Wamentan

Bogor | Kamis, 15 Oktober 2026 | 16:39 WIB

×