-
Mbak Rara kembali jadi sorotan warganet di tengah bencana karhutla.
-
Warga mengaitkan klaim pengendali cuaca miliknya dengan kabut asap.
-
Pemerintah menegaskan penanganan karhutla butuh aksi nyata di lapangan.
Suara.com - Sosok Mbak Rara atau Raden Rara Istiati Wulandari menjadi orang yang paling dicari netizen di dunia maya di tengah kasus kebakaran hutan Kalimantan dan Sumatera. Terlebih Mbak Rara pernah mengaku punya remote langit untuk turunkan hujan.
Mbak Rara adalah seorang pawang hujan dan peramal tarot asal Indonesia yang lahir di Jayapura pada 22 Oktober 1983. Namanya menjadi fenomena nasional hingga internasional setelah melakukan aksi ritual mengendalikan cuaca di tengah sirkuit pada ajang MotoGP Mandalika 2022.
Kini akun @indonesian.core viral karena memposting sosok Mbak Rara di tengah kasus kebakaran hutan.
![Mbak Rara Pawang Hujan ditemui di Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (1/9/2022) [Suara.com/Rena Pangesti]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2022/09/01/30129-mbak-rara-pawang-hujan-ditemui-di-senayan-jakarta-pusat-kamis-192022-suaracomrena-pangesti.jpg)
"Di tengah karhutla yang melanda sejumlah wilayah Indonesia, sosok Mbak Rara, pawang hujan yang pernah viral saat MotoGP Mandalika, kembali mengundang perhatian warganet," tulis akun itu.
"Tak sedikit yang kembali menyinggung namanya di tengah kebakaran hutan dan lahan yang memicu kabut asap. Namun, penanganan karhutla tetap membutuhkan upaya nyata, mulai dari pemadaman hingga pencegahan agar api tidak semakin meluas."
Mbak Rara pernah diwawancara podcast Deddy Corbuzier. Di sana dia mengaku bisa turunkan hujan.
"Langit itu atas izin Tuhan milik Rara. Di langit itu terisi teman-teman Rara, para pekerja, para pembalap, pokoknya pemerintah," kata Rara 2022 lalu.
masih terjadi dan menyebabkan kabut asap pekat, terutama di wilayah Kalimantan seperti Palangka Raya (Kalimantan Tengah) dan Kalimantan Barat.
Langit di Palangka Raya sempat berubah menjadi oranye dan gelap akibat kabut asap pekat karhutla. Warga mengeluhkan kualitas udara yang buruk dan menyesakkan.
Data pemantauan mencatat adanya titik api di beberapa wilayah seperti Kabupaten Kapuas, Kotawaringin Barat, Seruyan (Kalimantan Tengah), Ketapang (Kalimantan Barat), hingga sebagian wilayah di Jawa dan Sulawesi. Presiden Prabowo Subianto menyatakan luas kebakaran sempat turun di bawah seribu hektare, namun pihak berwenang menegaskan risiko belum berakhir.