- Fotografer Firdaus Wajidi dan tujuh orang lainnya hilang bersama kapal cepat Arupadhatu I di Selat Sunda pada 7 September 2026.
- Rombongan tersebut dilaporkan hilang di perairan Selat Sunda ketika hendak menjalankan tugas peliputan di kawasan Gunung Anak Krakatau.
- Astrid Puspita bersama keluarga melakukan prosesi tabur bunga di laut untuk mengenang suaminya yang belum ditemukan.
Suara.com - Pesan terakhir itu masih tersimpan dalam ingatan Astrid Puspita. Menjelang pukul 14.00 WIB, suaminya, Firdaus Wajidi, berpamitan hendak menyeberang ke Pulau Sebesi di area Selat Sunda, Lampung.
Firdaus hanya mengirim pesan singkat, memberi tahu ke sang istri bahwa dirinya sedang bersiap menyeberang.
Astrid membalas pesan itu pada pukul 14.38 WIB. Namun, balasannya tak pernah sampai kepada Firdaus. Pesan tersebut hanya menunjukkan satu centang. Hingga kini, tak ada balasan lain dari suaminya.
Firdaus, fotografer kantor berita Anadolu Agency, menjadi salah satu dari delapan orang yang hilang setelah kapal cepat Arupadhatu I yang mereka tumpangi dilaporkan hilang di perairan Selat Sunda pada 7 September 2026.
Mereka berangkat untuk menjalankan tugas peliputan di kawasan Gunung Anak Krakatau.
Sejak hari itu, Firdaus tak pernah kembali ke rumah.
Bagi Astrid, kepergian suaminya bukan sekadar kehilangan pasangan.
Ia kehilangan sosok yang selama ini menemaninya membesarkan anak-anak, berbagi pekerjaan rumah, dan memenuhi hampir setiap keinginan keluarga mereka.
“Dia benar-benar membantu saya mengasuh anak-anak. Kita benar-benar ngasuh berdua,” kata Astrid.
Ia terbiasa menjalani hari bersama Firdaus. Dalam pengasuhan anak-anak, mereka berbagi peran. Astrid tak pernah merasa harus menanggung semuanya sendirian. Justru, ia merasa dirinya dan anak-anak begitu dimanjakan oleh Firdaus.
“Tidak ada kata tidak, apa pun yang kami inginkan hampir semua diiyakan sama dia,” ujarnya.
Namun, sejak pesan terakhir itu, kebersamaan yang selama ini mereka jalani berubah menjadi penantian panjang.

Laut Begitu Luas
Keinginan untuk mendatangi perairan tempat Firdaus terakhir kali berkarya muncul dari Astrid sendiri. Ia ingin melakukan sesuatu untuk suaminya, sekaligus mengenang tujuh korban lain yang turut hilang bersama Firdaus.
Gagasan tabur bunga itu mula-mula ia bicarakan dengan keluarganya sendiri. Setelah mendapat kesepakatan dari ibu, ayah, dan kakak-kakaknya, Astrid menghubungi keluarga Firdaus. Mereka menyambut baik rencana tersebut. Citra, sahabat Firdaus, kemudian turut bergabung.
Perjalanan itu membawa Astrid dan anak-anaknya mendekati lokasi pencarian yang selama ini hanya mereka dengar dari cerita orang lain.
Anak-anaknya sempat begitu bersemangat ketika Astrid mengatakan bahwa mereka akan pergi ke tempat pencarian sang ayah. Namun, bayangan mereka tentang Carita ternyata berbeda dengan kenyataan yang terbentang di hadapan mata. Laut itu begitu luas.
Di tengah hamparan air yang membentang, tak ada rumah tempat mereka bisa pulang bersama Firdaus. Tak ada sosok ayah yang bisa mereka lihat dari kejauhan. Yang ada hanya laut, tempat sang ayah terakhir kali menjalankan pekerjaannya.
Astrid kemudian mulai menaburkan bunga ke laut. Anak-anaknya mengikuti, mula-mula dengan wajah yang masih menyimpan keceriaan. Namun, ketika melihat ibunya menangis, anak laki-lakinya ikut larut dalam kesedihan.
Astrid memeluknya. Ia tak meminta anaknya berhenti menangis.
"Lepasin semuanya. Kalau mau nangis kita lepasin semuanya. Jangan ditahan. Lepasin biar kakak plong," ujar Astrid kepada anaknya.
Ia juga mengajak anak-anaknya memanggil sang ayah, menyimpan harapan bahwa Firdaus akan kembali.
Di hadapan laut yang luas, mereka berusaha menyampaikan rindu kepada seseorang yang tak diketahui keberadaannya.

Sembilan menit berlalu dalam tabur bunga itu. Tak banyak kata yang terucap. Hanya doa, tangis, dan kenangan tentang seorang suami serta ayah yang belum kembali ke rumah.
Bagi Astrid, tabur bunga bukan berarti menyerah pada penantian. Ia masih menyimpan harapan agar Firdaus segera ditemukan, apa pun kondisinya.
Ia juga memiliki keyakinan yang terus ditanamkannya kepada anak-anak: Firdaus hanya dipinjamkan kepada keluarga mereka untuk sementara waktu.
Saya percaya Daus itu hanya dipinjamkan. Itu yang selalu saya tanamkan ke anak-anak.
Astrid mengatakan Firdaus hanya dipinjamkan kepada mereka sampai Minggu, 6 September. Keyakinan itu menjadi caranya menghadapi kehilangan yang belum menemukan kepastian.
Ia bahkan berharap Firdaus bisa ditemukan bertepatan dengan hari ulang tahunnya. Bukan karena ia tahu apa yang akan terjadi, melainkan karena ia ingin penantian panjang itu segera berakhir.
Di antara doa yang dipanjatkan dan bunga yang dilepaskan ke laut, Astrid menyampaikan pesan sederhana kepada suaminya.
“Bahagia selalu di sana kamu berada. Cuma pengin biar ketemu aja sih. Biar cepat ditemuin.”

Firasat Tak Terduga
Kesedihan itu juga dirasakan Citra, sahabat Firdaus. Bahkan, sebelum kabar hilangnya Firdaus diterima, Citra mengaku sempat mengalami perasaan yang sulit ia jelaskan.
Dua hari sebelum Firdaus dinyatakan hilang, dadanya terasa sesak. Saat salat, air matanya tiba-tiba mengalir deras ketika ia bersujud. Ia tak tahu apa yang sedang dirasakannya ataupun apa yang seharusnya dilakukan.
Citra bahkan sempat bergegas mengunjungi makam ayahnya. Namun, saat itu, ia tetap tak memahami kesedihan yang datang tanpa alasan yang jelas baginya.
Hingga pada sore harinya, sebuah telepon datang membawa kabar bahwa Firdaus hilang.

“Sampai akhirnya sore gua ditelepon bahwa Nganga hilang gitu,” kenangnya, menggunakan panggilan akrab untuk Firdaus.
Sejak saat itu, perasaan yang sebelumnya tak ia mengerti mendapatkan konteks yang menyakitkan. Sahabatnya tak diketahui keberadaannya, menyisakan pertanyaan yang belum terjawab.
Di perairan Anak Krakatau, bunga-bunga itu akhirnya terlepas dari tangan Astrid dan keluarganya. Laut kembali membentang, menyimpan lokasi terakhir Firdaus dan tujuh orang lainnya diketahui berada.
Sembilan menit mungkin terasa singkat dibandingkan panjangnya penantian keluarga. Namun, bagi Astrid, perjalanan itu menjadi cara untuk mendekat ke tempat terakhir suaminya berkarya, membawa anak-anaknya mengenal laut yang kini menjadi bagian dari cerita keluarga mereka.