- Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto menyatakan laboratorium narkoba di Pidie, Aceh, dikendalikan jaringan internasional.
- Tim gabungan menggerebek laboratorium di Pidie pada Jumat, 23 Oktober 2026, dan menyita sabu-sabu seberat 1,2 ton.
- Penggerebekan tersebut berhasil menangkap 11 tersangka serta menyelamatkan sekitar 6 juta jiwa dari ancaman narkoba.
Suara.com - Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto mengungkapkan laboratorium narkoba yang memproduksi 1,2 ton sabu-sabu di kawasan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie, Aceh, dikendalikan ahli kimia berpengalaman dari jaringan internasional
"Dari prosesnya, laboratorium sabu-sabu di Pidie, Aceh, tersebut menunjukkan bahwa dikelola jaringan dengan ahli kimia berpengalaman," kata Suyudi di Pidie, Jumat (23/10/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan Kapolri dalam kunjungannya ke bangunan toko yang dijadikan laboratorium untuk memproduksi metamfetamin cair menjadi sabu-sabu dalam bentuk kristal.
Sebelumnya, tim gabungan menggerebek bangunan toko tersebut dan menemukan 20 drum metamfetamin cair dan 500 kilogram sabu-sabu dengan total berat kotor mencapai 1,2 ton.
Kapolri mengatakan operasi pengungkapan laboratorium narkoba tersebut berawal dari informasi pengiriman ratusan kilogram metamfetamin cair dari China menuju Aceh pada Februari 2026. Barang terlarang tersebut masuk Aceh pada Mei 2026.
Selanjutnya, terdeteksi dua orang warga negara China berinisial LJ (45) dan XM (42) datang ke Aceh untuk melakukan survei.
Kedua orang tersebut merupakan ahli kimia dan diduga sebagai koki atau peracik metamfetamin cair menjadi kristal.
"Keduanya masuk ke Aceh melalui Malaysia dan berada di Aceh selama 10 hari. Selama di Aceh, keduanya diduga melakukan survei. Mereka kembali Malaysia pada awal Juni 2026," kata Kapolri sebagaimana dilansir Antara.
Selanjutnya, jaringan keduanya kembali terdeteksi mengirim metamfetamin cair dengan berat hampir satu ton ke Aceh. Cairan tersebut dimasukkan kaleng hijau guna mengelabui petugas.
Kapolri mengatakan LJ dan XM terdeteksi melakukan perjalanan dari China ke Kuala Lumpur dan bertemu dengan P, warga negara Indonesia, pada pertengahan Oktober 2026.
Selama di Malaysia, LJ dan XM mendapat bantuan akomodasi dari MN, warga negara Indonesia.
"Kemudian LJ dan XM beserta MN terdeteksi mendarat di Banda Aceh. Mereka dijemput seseorang berinisial RI. Dari Banda Aceh, mereka menuju sebuah toko di Jeunieb, Kabupaten Bireuen, Aceh," kata Kapolri.
Tim gabungan juga menerima informasi LJ menghubungi seseorang berinisial LX yang diduga bos jaringan narkotika dan mengabarkan bahwa produksi metamfetamin cair menjadi kristal sudah dimulai.
Kapolri mengatakan tim gabungan mendapat informasi bahwa LJ dan XM berada di toko yang dijadikan laboratorium rahasia di kawasan Mutiara Timur. Selain itu, sejumlah barang bukti dikeluarkan dari toko tersebut
"Akhirnya, tim gabungan menggerebek toko tersebut bersamaan dengan penindakan di empat lokasi terpisah lainnya di Kabupaten Bireuen, Kabupaten Aceh Utara, dan Kota Lhokseumawe, secara serentak," kata Kapolri.