-
Menhaj Gus Irfan mengangkat dua putra kandungnya sebagai tenaga ahli Kemenhaj.
-
Pengangkatan dua anak Menhaj Gus Irfan resmi tertuang dalam Keputusan Menteri.
-
Dua anak Menhaj Gus Irfan merupakan cicit dari pendiri NU.
Suara.com - Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Mochamad Irfan Yusuf atau yang akrab disapa Gus Irfan tengah menjadi perbincangan publik, setelah memboyong dua putra kandungnya ke dalam struktur Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj).
Kedua anak Gus Irfan, Menteri Haji dan Umrah tersebut, yakni Barbarossa Muhammad Farros dan Gibran Muhammad Fawwaz yang menduduki posisi strategis sebagai tenaga ahli menteri.
Bahkan, pengangkatan dua anak kandung Menteri Haji dan Umrah tersebut secara resmi masuk dalam Keputusan Menteri Haji dan Umrah Nomor 3 Tahun 2026.
Dalam beleid tersebut, kedua putra Gus Irfan terdaftar di antara sembilan nama tenaga ahli yang dipercaya untuk memperkuat kementerian haji dan umrah.
Kendati demikian, hingga kini rincian bidang atau tupoksi spesifik yang diemban keduanya di lingkungan kerja kementerian belum diumumkan secara terbuka ke publik.

Dalih Gus Irfan: Berjuang Tanpa Gaji di Awal Merintis
Menanggapi sorotan publik, Gus Irfan sempat membeberkan alasan di balik keputusannya merekrut darah dagingnya sendiri.
Gus Irfan menjelaskan bahwa Barbarossa dan Gibran, bersama sejumlah santri, memiliki andil besar sejak masa-masa awal pembentukan Badan Penyelenggara (BP) Haji pada Oktober 2024 lalu.
Kala itu, lembaga tersebut dirintis dengan keterbatasan fasilitas tanpa kantor resmi, tanpa dukungan staf birokrasi, dan mereka rela tidak menerima gaji selama 3 hingga 4 bulan pertama.
Setelah fondasi terbentuk, sebagian santri kembali ke pondok pesantren atau aktivitas semula, sementara keterlibatan kedua anaknya kini diformalkan ke dalam struktur penasihat.
Meski begitu, publik tentu penasaran dengan rekam jejak kedua anak Menteri Haji dan Umrah tersebut sebagai tenaga ahli di Kemenhaj.
Berasal dari Trah Elit Nahdlatul Ulama
Di luar perbincangan soal jabatan barunya, Barbarossa dan Gibran sejatinya lahir dari garis nasab ulama besar di Indonesia.
Keduanya merupakan cicit dari ulama kharismatik pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy'ari, dan cucu dari KH Yusuf Hasyim.
Keluarga besar ini memiliki akar sejarah yang kuat di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.