- Delegasi ARLI menghadiri dua forum internasional di Quanzhou, China, pada tanggal 25 hingga 28 Oktober 2026.
- Pertemuan yang diinisiasi Xiamen University dan FAO ini bertujuan membahas peluang kerja sama industri rumput laut global.
- Kolaborasi lintas negara tersebut diharapkan mampu memperkuat daya saing serta memperluas pasar rumput laut nasional.
Suara.com - Delegasi Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) bertolak ke Kota Quanzhou, Provinsi Fujian, China, untuk menghadiri dua forum internasional yang membahas peluang kerja sama dan pengembangan industri rumput laut global.
Delegasi terdiri atas Ketua Umum ARLI Safari Azis, Kepala Bidang Organisasi dan Keanggotaan ARLI yang juga Direktur Maccedde Global Mandiri, Asdar Marsuki, serta Kepala Bidang Komunikasi dan Humas ARLI yang juga General Manager Persada Semesta, Indra Santoso.
Kehadiran delegasi ARLI merupakan undangan dari Xiamen University dan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO).
Mereka mewakili pengurus asosiasi sekaligus pelaku usaha rumput laut Indonesia dari sektor hulu hingga hilir.
Dua agenda utama yang akan diikuti adalah CAIA (China Algae Industry Association), ARLI (Asosiasi Rumput Laut Indonesia) and SIAP (Seaweed Industry Association of the Philippines) Chairman Level Symposium of The Seaweed Association pada 25–26 Oktober 2026.
Selanjutnya, delegasi akan mengikuti Global Symposium on Seaweed Cooperation and Development pada 27–28 Oktober 2026.
Kedua kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung di International Conference Hall, Yingbing Building, Quanzhou.
Bahas Peluang Bisnis Rumput Laut dari Hulu ke Hilir
Kepala Bidang Organisasi dan Keanggotaan ARLI, Asdar Marsuki, mengatakan pertemuan internasional tersebut menjadi kesempatan untuk menggali potensi, peluang kerja sama, sekaligus tantangan industri rumput laut dari hulu hingga hilir.
Menurut Asdar yang juga Alumni Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin, forum mempertemukan berbagai pemangku kepentingan industri rumput laut dari sejumlah negara.
Mulai dari pembudidaya, eksportir dan importir, industri pengolahan, peneliti perguruan tinggi, hingga organisasi nonpemerintah dan asosiasi yang menjalankan program pengembangan rumput laut.
Peserta dan pembicara dijadwalkan berasal dari berbagai negara, di antaranya China, Indonesia, Filipina, Malaysia, Chili, Inggris, Skotlandia, Australia, dan Madagaskar.
“Kesempatan ini sangat penting untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam menjalankan usaha atau program pengembangan rumput laut dari berbagai negara,” kata Asdar, yang juga Ketua 1 IKA Perikanan Unhas.
Ia berharap pertemuan tersebut tidak berhenti pada pertukaran informasi, tetapi berlanjut menjadi kerja sama konkret antarpelaku utama industri rumput laut.
Perkuat Daya Saing Rumput Laut Indonesia