-
AS dan Iran menunjukkan kemajuan diplomasi untuk menghentikan ancaman perang serta membuka Selat Hormuz.
-
Kesepakatan damai yang semakin dekat membuat harga minyak dunia langsung turun lebih dari 7 persen.
-
Perundingan intensif ini berlangsung lewat perantara Qatar dan Pakistan jelang pemilu sela di Amerika Serikat.
Suara.com - Amerika Serikat dan Iran memberikan sinyal kemajuan signifikan dalam pembicaraan diplomatik untuk mengakhiri perselisihan yang berisiko memicu perang terbuka. Peluang perdamaian ini muncul bertepatan dengan mengendurnya ketegangan di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital energi dunia.
Presiden AS Donald Trump menyatakan keyakinannya bahwa kesepakatan dengan Teheran berada di depan mata. Langkah diplomasi intensif ini bergulir tepat sehari sebelum pemungutan suara pemilu sela AS berlangsung.
Kabar membaiknya komunikasi kedua negara langsung memberikan dampak positif pada pasar global. Harga minyak dunia tercatat merosot lebih dari 7 persen akibat proyeksi berakhirnya penutupan Selat Hormuz.

Wakil Presiden AS JD Vance turut membenarkan keberhasilan awal dari rangkaian dialog rahasia tersebut. Pihaknya terus mengupayakan ruang negosiasi tambahan untuk mencapai hasil permanen.
"Kami tentu telah mencapai kemajuan. Kita lihat saja apakah kami bisa mencapai kemajuan lebih lanjut," ujar Vance kepada para wartawan.
Pemerintah Iran membuka opsi pembukaan kembali Selat Hormuz dengan syarat ketat melalui perantara negara ketiga. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengonfirmasi adanya komunikasi tidak langsung yang sedang berlangsung intensif dengan Washington.
“Mengingat sensitivitas dan gawatnya situasi saat ini, konsultasi dan musyawarah sangat intensif,” kata Araghchi dalam video wawancara dengan kantor berita resmi IRNA.
Araghchi menyebutkan dua kawasan memegang peranan penting dalam mengalirkan pesan kedua pihak.
“Qatar dan Pakistan memainkan peran mediasi yang sangat aktif dalam negosiasi ini,” tambahnya.
Proses negosiasi ini berlangsung di bawah dorongan kuat negara-negara besar dunia seperti China dan Rusia. Langkah tersebut semakin nyata setelah JD Vance mengirimkan surat resmi kepada pejabat keamanan nasional Iran.
Di sisi lain, respons dari dalam negeri Iran menunjukkan optimisme atas pesan yang dikirimkan AS. Wakil Presiden Pertama Iran Mohammad Reza Aref menilai ikhtiar diplomatik AS sebagai bukti posisi tawar pasukannya yang kuat.
Ketegangan militer dan lonjakan harga bahan bakar selama delapan bulan terakhir menjadi komoditas politik panas di AS. Partai Republik berusaha mempertahankan dominasi di Kongres dari kejaran Partai Demokrat yang memanfaatkan keresahan pemilih.
Sebelum sinyal damai ini menguat, Trump sempat melontarkan ancaman keras terhadap Iran dalam kampanye politiknya. “Pada titik tertentu kita harus memberi mereka palu,” ucap Trump pada kampanye sebelumnya.
Namun, "bisa saja terjadi," tulis Trump di platform Truth Social miliknya mengenai peluang kesepakatan damai. Ia juga menegaskan bahwa "Iran menginginkan penyelesaian secepat mungkin."
Isu perselisihan kedua negara memuncak sejak Iran memblokir Selat Hormuz yang memicu krisis energi global. Tekanan ekonomi dan ancaman eskalasi militer akhirnya memaksa kedua pihak membuka opsi perundingan kembali di bawah pengawasan internasional.