- Bareskrim menahan eks Kapolri Listyo Sigit Prabowo dan dua jenderal terkait dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto.
- Kasus penyadapan ini terungkap berdasarkan investigasi panjang Suara.com bersama konsorsium IndonesiaLeaks mengenai perangkat spionase Pegasus buatan Israel.
- Kepolisian Israel membeli perangkat spionase Pegasus pada Desember 2013 dan menggunakannya untuk menyadap warga negara sendiri.
Suara.com - Kasus dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto yang menyeret petinggi Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) memasuki babak serius.
Bareskrim menahan tiga jenderal termasuk eks Kapolri Listyo Sigit Prabowo yang diduga berada di balik operasi rahasia tersebut, sementara satu jenderal bintang dua lainnya masih menjalani pemeriksaan sebagai saksi.
Dua petinggi Polri yang turut ditahan adalah Kepala Divisi Hukum (Kadivkum) Polri Irjen Ahrie Sonta Nasution dan Widyaiswara Kepolisian Utama TK I Sespim Lemdiklat Polri Irjen Eko Hadi Santoso.
Sementara itu, Irjen Slamet Uliandi masih berstatus saksi dalam perkara tersebut.
Terkuaknya kasus penyadapan Prabowo ini memiliki kaitan dengan investigasi panjang Suara.com bersama konsorsium IndonesiaLeaks sekitar tiga tahun silam.
Investigasi tersebut menelusuri perburuan perangkat spionase mutakhir kelas militer asal Israel, Pegasus.

Pegasus Juga Dipakai Polisi Israel
Perangkat lunak besutan perusahaan teknologi Israel, NSO Group, itu dikenal memiliki kemampuan menyusup ke telepon seluler untuk mengakses berbagai informasi pribadi.
Dikutip dari laporan investigasi media Israel, calcalistech, Pegasus pernah digunakan Kepolisian Israel untuk menyadap telepon genggam warga negaranya sendiri.
Sejumlah target dilaporkan mencakup wali kota, pemimpin demonstrasi anti-pemerintah, hingga mantan pegawai perusahaan milik pemerintah.
Dalam laporannya, media tersebut mengungkap penggunaan Pegasus untuk meretas ponsel warga dari jarak jauh, mengambil informasi, membaca pesan, hingga mendengarkan percakapan telepon.
Dibeli Sejak 2013, Biayanya Puluhan Juta Shekel
Kepolisian Israel pertama kali membeli Pegasus dari NSO Group pada Desember 2013, ketika Yohanan Danino menjabat sebagai kepala kepolisian.
Sistem tersebut mulai dioperasikan pada masa kepemimpinan penggantinya, Roni Alsheikh, yang dilantik pada Desember 2015 setelah sebelumnya menjabat sebagai wakil kepala badan keamanan dalam negeri Israel, Shin Bet.
Alsheikh disebut menjadi salah satu pejabat yang mendorong peningkatan penggunaan perangkat lunak tersebut. Biaya pembelian, pemeliharaan, dan operasional Pegasus dilaporkan mencapai puluhan juta shekel selama bertahun-tahun.
Informasi yang diperoleh melalui unit SIGINT juga disebut dapat diteruskan kepada lembaga penegak hukum lainnya.
Di antaranya Otoritas Sekuritas Israel, Otoritas Persaingan Israel, otoritas pajak, hingga Departemen Investigasi Internal Kepolisian.
Aktivis Anti-Netanyahu Ikut Jadi Sasaran
Salah satu kelompok yang menjadi target penyadapan adalah para aktivis yang memimpin demonstrasi menentang mantan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Aksi protes terhadap Netanyahu semakin menguat sepanjang 2020, ketika pandemi Covid-19 melanda Israel dan pemerintah memberlakukan pembatasan aktivitas masyarakat.
Di tengah meningkatnya tekanan politik, polisi disebut memperketat tindakan terhadap demonstran, termasuk para pemimpinnya.
Namun, para aktivis tersebut diduga tidak mengetahui bahwa ponsel mereka telah disusupi Pegasus.
Perangkat lunak itu memungkinkan polisi mengakses isi komunikasi dan informasi pribadi melalui peretasan jarak jauh.
Menurut laporan Calcalist, perintah penyadapan terhadap sejumlah warga yang bukan pelaku kejahatan maupun tersangka diberikan oleh pejabat tinggi kepolisian.
Pelaksanaannya dilakukan oleh unit siber khusus di bawah divisi intelijen sinyal atau SIGINT.