- McDonald's Indonesia menjalin kemitraan dengan ratusan pemasok lokal selama 35 tahun untuk memasok 76 persen bahan baku restoran.
- Petani asal Bali, Made Gunada, berhasil mengembangkan usahanya dan melibatkan ratusan petani berkat pendampingan kualitas sejak tahun 1993.
- Studi Oxford Economics mencatat aktivitas perusahaan turut mendukung sekitar 48.700 lapangan kerja di berbagai sektor dari April 2024 hingga Maret 2025.
Suara.com - Saat menikmati burger, ayam goreng, atau menu lainnya di restoran cepat saji, konsumen mungkin tidak banyak memikirkan dari mana bahan baku makanan tersebut berasal. Padahal, di balik sajian yang tersedia di restoran, terdapat rantai pasok panjang yang melibatkan petani, peternak, hingga berbagai pelaku usaha lokal.
Hal ini juga terlihat dari perjalanan McDonald's Indonesia yang selama 35 tahun membangun kemitraan dengan ratusan pemasok dalam negeri. Sekitar 76 persen bahan baku yang digunakan perusahaan dibeli dari mitra lokal, mulai dari sayuran, telur, beras, cabai, hingga minyak goreng. Bahkan, seluruh kebutuhan ayam dipasok oleh peternak lokal.
Kemitraan tersebut bukan sekadar hubungan jual beli. McDonald's Indonesia juga memberikan pendampingan kepada para pemasok melalui transfer pengetahuan, audit, benchmarking, hingga kunjungan studi ke luar negeri. Upaya ini dilakukan untuk membantu mitra meningkatkan kualitas produk dan kemampuan operasional sesuai standar industri.
Salah satu cerita datang dari Made Gunada, petani asal Bali yang mulai bekerja sama dengan McDonald's Indonesia sejak 1993. Berawal dari lahan pertanian kecil, usahanya kini berkembang hingga menjangkau Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Bahkan, hasil pertaniannya telah memasok kebutuhan lebih dari 50 persen restoran McDonald's Indonesia.
"Ketika memulai kerja sama, saya tidak menyangka sebuah perusahaan besar mau membuka pintu bagi seorang petani kecil dengan berbagai keterbatasan. Namun, sejak awal kemitraan, saya merasakan sendiri bagaimana McDonald's Indonesia memberikan kepercayaan sekaligus pendampingan," ujar Made.

Pendampingan tersebut mencakup bantuan teknis hingga peningkatan fasilitas pertanian. Menurut Made, dukungan itu membuat usaha pertaniannya mampu memenuhi kebutuhan pasokan secara konsisten dengan standar kualitas yang lebih baik.
Pertumbuhan bisnisnya juga membawa dampak bagi petani lain. Kini, ratusan petani turut terlibat dalam ekosistem pertanian yang dijalankannya.
"Dampak ekonomi dari kemitraan ini tidak hanya dirasakan oleh usaha kami, tetapi juga oleh masyarakat lokal yang menggantungkan mata pencahariannya pada sektor pertanian. Bahkan, beberapa anak petani mulai melihat sektor pertanian sebagai pekerjaan yang menjanjikan dan pilihan untuk ditekuni," tambahnya.
Menjaga Kualitas Bahan Baku hingga ke Restoran
Selain petani, pemasok ayam juga menjadi bagian penting dalam rantai pasok McDonald's Indonesia. Salah satunya PT Ciomas Adisatwa, bagian dari JAPFA Group, yang telah menjalin kerja sama selama lebih dari tiga dekade.
Head of Production Region Jabar 3 PT Ciomas Adisatwa, Rendhiq Ramadhan, menjelaskan bahwa standar yang diterapkan McDonald's Indonesia turut menjadi referensi bagi perusahaan dalam meningkatkan kualitas produksi.
"Standar yang diterapkan McDonald's Indonesia menjadi salah satu referensi eksternal untuk terus melakukan continuous improvement. Proses audit berkala mendorong kami untuk memastikan Standard Operating Procedure (SOP) dijalankan secara tepat dan konsisten," jelas Rendhiq.
Supply Chain & Quality Assurance Director PT Rekso Nasional Food, Ronni Rombe, mengatakan hubungan dengan pemasok dibangun dengan semangat tumbuh bersama. Pembinaan dilakukan untuk memperkenalkan praktik terbaik dan standar kualitas global, termasuk keamanan pangan serta kesejahteraan hewan.
Dampak kemitraan ini juga meluas ke penciptaan lapangan kerja. Studi independen Oxford Economics periode April 2024 hingga Maret 2025 mencatat aktivitas McDonald's Indonesia turut mendukung sekitar 48.700 lapangan kerja di berbagai sektor.
Guru Besar Strategic Management dan Marketing Global Academy Finance Management (GAFM) Amerika, Mochammad Mukti Ali, melihat hubungan jangka panjang antara perusahaan besar dan pemasok lokal sebagai kesempatan untuk meningkatkan kemampuan usaha.
"Ketika pemasok memiliki hubungan jangka panjang dengan perusahaan, mereka tidak hanya mendapatkan akses terhadap permintaan, tetapi juga kesempatan untuk belajar dan beradaptasi dengan standar, pengetahuan, serta praktik operasional yang lebih tinggi," terangnya.
Pada akhirnya, di balik menu yang dinikmati konsumen setiap hari, ada kontribusi banyak pihak yang bekerja dari hulu hingga hilir. Kemitraan dengan petani dan pemasok lokal pun memperlihatkan bahwa perjalanan sebuah makanan tidak berhenti di dapur restoran, tetapi turut menggerakkan usaha dan kehidupan masyarakat di berbagai daerah.