- Roslinda asal Sumba Timur berhasil mengatasi keterbatasan desa berkat pemberdayaan dari Wahana Visi Indonesia sejak 2016.
- Ia mewakili anak Indonesia dalam forum dunia di New York tahun 2019 dan meraih penghargaan KPAI pada 2020.
- Roslinda kini berkomitmen kembali ke daerah asalnya untuk membuat kebijakan perlindungan anak setelah menyelesaikan kuliah S-1.
Suara.com - Bagi Roslinda atau akrab disapa Oslin, membayangkan dirinya berbicara di depan banyak orang dulunya adalah hal yang mustahil. Perempuan muda asal Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini pernah berada di titik di mana keberanian untuk sekadar mengutarakan pendapat pun tidak ia miliki.
Ia tumbuh di pelosok desa yang berjarak sekitar 1–2 jam perjalanan dari pusat Kota. Di tempat kelahirannya, sebagian besar masyarakat menggantungkan hidup dari bertani.
Rasa gotong royong dan toleransi warga memang begitu erat, tetapi isolasi geografis membawa tantangan nyata: keterbatasan akses terhadap pendidikan berkualitas, fasilitas kesehatan, hingga ruang bagi anak-anak untuk bersuara.
"Awalnya saya melihat bahwa ya sudah saya memang hanya anak desa yang memang lahir di tempat itu. Dan memang hanya pasti akan ada di tempat itu. Untuk sekolah, untuk kerja, bahkan untuk bermimpi saja pun masih pikir," ungkapnya saat berbincang dengan Suara.com, Senin (2/11/2026).
Namun, garis hidup Oslin mulai bergeser ketika Wahana Visi Indonesia (WVI)—organisasi kemanusiaan yang berfokus pada pemberdayaan anak, keluarga, dan masyarakat rentan—hadir di desanya.
Wadah Menemukan Suara
Pertemuan Oslin dengan WVI sebenarnya telah terjalin sejak ia masih di bangku taman kanak-kanak. Namun, keterlibatannya baru benar-benar bermula saat ia duduk di kelas 3 SD, sekitar 2016.
Saat itu, anak-anak desa mulai dirangkul melalui kelompok-kelompok kecil sebelum wadah yang lebih formal terbentuk.
"Pertama kali yang ada di desa kami itu kelompok anak. Ada tiga kelompok anak berdasarkan kedekatan wilayah masing-masing. Tiga kelompok anak ini setiap minggu melakukan kegiatan bersama dengan anak-anak yang difasilitasi oleh WVI," tuturnya.
Memasuki bangku SMP, langkahnya kian mantap saat bergabung ke Forum Anak Desa. Meski awalnya bukan pengurus inti, ruang inilah yang menjadi titik balik kepercayaan dirinya.
"Sebenarnya sesimpel karena seru aja. Ada organisasi, terus ada wadah untuk kami bisa mengekspresikan diri. Kami bebas belajar, kami diajarkan juga. Kami dikasih ruang untuk berpartisipasi, berkreasi. Sesimpel itu alasannya, karena tempat di mana saya benar-benar bisa menjadi diri saya," ujarnya.
Perlahan, sosok Oslin yang pemalu mulai terkikis seiring pemahamannya tentang hak-hak dasar anak yang terus diasah.
"Saya melihat bahwa diri saya ya hanya sebatas seorang anak yang kerjaannya pergi sekolah pulang. Awalnya juga dulu saya benar-benar sangat pemalu. Saya bahkan tidak berani untuk bicara di publik," kata Oslin.
Menembus Tembok Keraguan dan Kemiskinan
Lewat ruang-ruang diskusi bersama WVI, mata Oslin dan kawan-kawannya terbuka. Mereka menyadari banyak hak anak di desanya yang terabaikan—mulai dari tingginya angka putus sekolah, ketiadaan akta kelahiran sebagai hak identitas, kerentanan terhadap tindak kekerasan, hingga maraknya perkawinan anak.
"Jadi hasil-hasil diskusi kecil FGD bersama dengan WVI tersebut yang membuat kami juga mulai sadar, oh ternyata memang ini belum ada. Ternyata memang hak kami ini belum dipenuhi," katanya.
Berbekal kesadaran itu, mereka bergerak melakukan advokasi. Namun, perjuangan anak-anak desa ini tidak langsung disambut hangat. Di tengah budaya patriarkis dan cara pandang konvensional, keberadaan mereka di meja-meja musyawarah desa sempat dianggap angin lalu oleh orang dewasa.
Bayangkan aja, kami datang ke pertemuan di desa lalu ketika kami ngomong, orang tua pada kayak, ngapain ada anak-anak di sini ? emang penting? kami lebih penting? Kan sebagai anak pasti kami minder.
Tantangan tak berhenti di situ. Di lingkup keluarga, jerat kemiskinan struktural kerap memaksa orang tua memprioritaskan anak-anaknya untuk bekerja di ladang atau membantu urusan dapur ketimbang menghadiri pertemuan anak yang dianggap "tidak menghasilkan apa-apa".
Meski begitu, kegigihan dan bukti nyata perkembangan karakter anak-anak dampingan perlahan meluluhkan keraguan para orang tua. Hasil manis pun dipetik: sebuah Peraturan Desa (Perdes) tentang perlindungan anak berhasil disahkan.
"Peraturan desa kan pasti sustain, berkelanjutan. Jadi ini enggak hanya kerja dari kami, Forum Anak tentunya. Ini benar-benar usaha dari WVI juga, dan boleh saya katakan memang usaha dari pihak pemerintah maupun masyarakatnya sendiri," jelasnya.

Mengguncang Panggung New York
Kiprah konsisten Oslin membuka pintu kesempatan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Pada 2019, saat duduk di kelas 3 SMP, ia terpilih mengikuti seleksi representasi anak Indonesia dalam forum bergengsi dunia: High-Level Political Forum di New York, Amerika Serikat, untuk menyuarakan isu penghapusan kekerasan terhadap anak.
Tahapan seleksi ia lalui dengan bersahaja, yakni mendokumentasikan apa yang telah ia kerjakan di lapangan.
"Saya hanya mereview apa yang sudah saya lakukan bersama teman-teman. Saya membuat video, dibantu oleh WVI juga menceritakan, lalu diseleksi melalui video tersebut," ujarnya.
Saat tim WVI mendatangi rumahnya pada suatu malam untuk mengabarkan bahwa ia lolos ke Markas Besar PBB, rasa terkejut menyelimutinya. Namun, ia lekas disadarkan bahwa tiket ke panggung dunia tersebut membawa mandat yang besar.
"Jangan tanya kenapa kamu, tapi lihatlah kesempatan ini sebagai peluang untuk terus menyuarakan hak-hak anak, untuk terus menyuarakan suara teman-teman kamu yang tidak terdengar," tuturnya.
Konsistensi di Tengah Pandemi hingga Cita-cita Menjadi Penentu Kebijakan
Vokalitas Oslin tak padam saat dunia dilanda pandemi Covid-19. Ia kembali bersuara lantang mewakili anak-anak di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) yang terancam kehilangan hak belajar akibat ketiadaan listrik, gawai, dan jaringan internet, di samping masalah klasik keterbatasan air bersih.
"Pandemi COVID ini memperparah kondisi tersebut. Jadi saya menyuarakan urgensi bagaimana kesulitan anak-anak untuk survive di masa-masa tersebut, karena mau diadakan secara online pun anak-anak tidak punya device, tidak punya jaringan internet yang mendukung," jelasnya.
Dedikasi tersebut mengantarkan Oslin meraih penghargaan bergengsi kategori Anak Inspirasi dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada 2020.
Bagi Oslin, seluruh pencapaian ini adalah buah dari ruang aman yang diberikan padanya untuk bertumbuh tanpa dihakimi. Ia ingin anak-anak perempuan di pelosok nusantara tidak merasa masa depan mereka terkunci oleh tempat kelahiran mereka.
Harapan saya adalah tidak ada lagi anak yang mengalami kekerasan, khususnya perempuan. Saya berharap bahwa hal baik yang sudah ditinggalkan oleh WVI bisa dilanjutkan oleh masyarakat di sana.
"Saya percaya bahwa semua anak itu pasti punya masa depan. Walaupun sekarang mereka memang berada dalam lingkungan yang seperti itu, saya sangat percaya perubahan itu pasti ada," ujarnya menambahkan.
Kini, setelah melangkah ribuan mil hingga ke panggung internasional, kiblat hidup Oslin tetap satu: tanah kelahirannya, Sumba Timur. Namun kali ini, dengan tekad yang jauh lebih berani.
"Suatu saat saya pasti akan kembali di sana. Pasti kalau saya kembali ke sana, saya berharap saya bukan sebagai orang lagi yang menyuarakan kebijakan, tapi yang membuat kebijakan itu," pungkasnya.
Saat ini, Oslin tengah menempuh studi S-1 di Universitas Pelita Harapan (UPH) melalui program beasiswa.
Reporter : Agustin Dwi Anggraini