- Warga Dusun Tangsi Jaya membangun PLTMh mandiri dari Sungai Ciputri sejak tahun 1990-an demi mencukupi kebutuhan listrik.
- Pemerintah memberikan hibah PLTMh berkekuatan 18 kW pada 2007 dan 32 kW pada 2024 untuk mendukung warga.
- Kini PLTMh mengaliri 95 rumah warga dan dikelola secara gotong royong oleh para pemuda setempat.
Suara.com - Konsep kehidupan bermasyarakat yang berdampingan dengan alam adalah dambaan siapa pun. Lingkungan tanpa kerusakan, nihil konflik sosial, dan justru berbuah berkah ekonomi.
Warga Dusun Tangsi Jaya, Kecamatan Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat, berhasil mewujudkan dambaan tersebut melalui Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMh) mandiri mereka.
Bersama Trend Asia, Suara.com berkesempatan menilik lebih dekat bagaimana praktik ekonomi berkelanjutan ini menyokong roda kehidupan warga dalam kunjungan pada 2 hingga 5 November 2026.
Mendengar tutur cerita mereka, warga Tangsi Jaya seakan menegaskan kedaulatannya: menjaga alam tetap lestari sekaligus menjadikannya sumber penghidupan utama.
Cikal Bakal PLTMh
Cikal bakal PLTMh itu bermula pada dekade 90-an, ketika seorang warga Kecamatan Gunung Halu berinisiatif membuat sebuah pembangkit listrik menggunakan kincir air berbahan dasar kayu dengan modal aliran air Sungai Ciputri dan pengetahuan seadanya.
"Orang sini (Dusun Tangsi Jaya) belajar sama orang itu. Enggak ada sih (pelatihan dari pemerintah)," ungkap Penanggung Jawab PLTMh Gunung Halu, Toto Sutanto pada Senin, (2/11/2026).

Terobosan itu seakan menjadi jawaban atas situasi di tengah minimnya pasokan listrik dari PLN yang tak mampu mencukupi kebutuhan sebagian rumah di dusun.
Namun, Toto bercerita saat itu kincir air tersebut masih belum menutupi pasokan listrik yang dibutuhkan walaupun merupakan sebuah langkah terobosan.
"Tahun 90 masyarakat di sini pakai kincir tradisional yang pakai kayu. Cuma kapasitasnya kecil. Paling banyaknya cuma 200 sampai 250 watt," tuturnya.
Atas kreatifitasnya, warga seakan ketiban pulung ketika mendapatkan hibah sebuah PLTMh berkekuatan 18 kW pada 2007 guna memasok kebutuhan listrik warga yang saat itu menghuni enam puluh rumah.
Alhasil, mereka lebih memilih untuk menggunakan PLTMh pribadi ketimbang berlangganan pasokan PLN yang harganya dipatok tak sesuai dengan kantong warga.
"2007 PLN juga sudah masuk. Cuma waktu itu siapa yang mau masang PLN itu harus DP dulu. Bayangin tahun 2007 itu ekonomi masyarakat belum seperti ini. Waktu itu (harga) Rp1,2 juta," ungkap Toto.
Meski demikian, ia menilai kualitas pasokan listrik PLN masih kalah ketimbang pasokan PLTMh milik warga. Dia berkaca pada pengalaman 10 rumah yang saat itu memutuskan untuk berlangganan perusahaan listrik pelat merah tersebut.

Bahkan, pada 2024 warga Desa Tangsi Jaya makin menunjukan taringnya saat Dinas ESDM memberikan kepercayaan melalui pemberian hibah sebuah PLTMh berskala 32 kW.
"Kalau yang 18 kW itu dulu modalnya sampe Rp900 juta. Kalau yang 32 kW itu sekitar Rp2,8 miliar," ucap dia mengingat total anggaran PLTMh yang dibangun pemerintah.
Selain itu, dengan menggunakan pembangkit listrik mandiri, dia mengungkapkan Dusun Tangsi Jaya terlepas dari dampak pemadaman listrik yang melanda Pulau Jawa dan Bali pada Juni lalu.
Untuk memastikan keberlangsungan sumber energi ramah lingkungan itu, Toto menerangkan masyarakat hanya dipatok tarif sebesar Rp25 ribu per bulan.
"Bayaranya per rumah 25 ribu. Per rumah dapat 450 watt," jelas dia.
Kekinian, PLTMh Gunung Halu menjadi sumber kebutuhan listrik bagi 95 rumah warga Dusun Tangsi Jaya dengan bermodalkan debit air sungai yang ditampung sebesar 600 hingga 1000 liter per detik tergantung musim, tanpa menghasilkan polusi sedikit pun.
"(Bahkan) sekarang yang lagi dipakai itu 300 liter per detik airnya, itu sudah cukup," tutur dia.
Meski didirikan dengan campur tangan pemerintah, menariknya, untuk tetap menjaga semangat gotong royong dan kemandirian warga memutuskan buat mengelola dan merawat pemberian itu secara mandiri.
"Pemasangan pipa tetap dari warga," imbuh dia.

Regenerasi Jadi Tantangan
Saat ini, PLTMh Gunung Halu telah hampir memasuki dua dekade. Tantangan yang akan dihadapi ke depan adalah mengenai regenerasi operator yang bertugas memastikan turbin diputar sesuai keperluan dan saluran air yang bersih dari sumbatan sampah.
Toto turut mengenang, ia dan kawan-kawannya adalah operator pertama pengoperasian PLTMh pada masa awal didirikan. Namun, kini ia telah menyerahkan estafet itu kepada kaum pemuda Dusun Tangsi Jaya.
Salah satunya adalah Rizki Ramdani atau yang kerap disapa Aris. Sebagai pemuda sekitar, Aris merasa memiliki panggilan buat ikut mengabdi bergabung sebagai operator dengan keempat kawan lainnya.
"Alasan saya sih pengen mau bantu orang tua aja. Kalau kan dulu sama orang tua ngeoperatorin. Ngabdi sama orang tua dan dusun, lah," jelas pemuda berusia 28 tahun itu pada Selasa, (3/11/2026).
Aris bercerita, timnya membagi peran kepada masing-masing operator dengan penugasan enam hari kerja dengan sistem rolling atau bergantian tiap minggunya.
Soal waktu kerjanya, Aris biasanya memantau langsung seluruh perangkat PLTMh pada pagi atau sore hari. Jika musim hujan, kunjungannya akan lebih intens.
"Apalagi kalau hujan itu malam harus dicek ke sini untuk lihat kondisi air meluap atau enggaknya," terangnya.
Meskipun, karena itu dia jadi harus meluangkan waktu berkebunnya yang ia telah lakoni selama bertahun-tahun. Pendapatan Aris sebagai operator PLTMh belum mencukupi kebutuhan sehari-harinya.
"Pendapatannya Rp100 ribu," ucap Aris.
Meski begitu dia mengaku menjalani profesinya secara sukarela demi kepentingan dusun dan kemauan pribadinya. Makanya, Aris juga berharap supaya pemuda lainnya turut berperan serupa.
Reporter: Alif Bintang