Geothermal Belum Sejalan dengan Transisi Energi Berkeadilan, Apa Masalahnya?

Vania Rossa

Jum'at, 06 November 2026 | 08:12 WIB
Geothermal Belum Sejalan dengan Transisi Energi Berkeadilan, Apa Masalahnya?
Ilustrasi panel listrik PLTMH Gunung Halu. (Suara.com/Alif Bintang)
baca 10 detik
  • Trend Asia menyatakan eksplorasi PLTPb di kawasan gunung berpotensi mengeringkan sumber air warga sekitar.
  • Pengeboran masif di gunung aktif pada Kamis (5/11/2026) dikhawatirkan dapat memicu gempa dan merusak keseimbangan alam.
  • Pengembangan energi terbarukan harus memastikan keadilan sosial serta tidak menimbulkan kerusakan lingkungan bagi masyarakat sekitar.

Suara.com - Pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPb) atau geothermal sebagai sumber pasokan listrik yang dikategorikan sebagai energi terbarukan tidak serta-merta menjamin keadilan bagi masyarakat sekitar.

Juru Kampanye Energi Terbarukan Trend Asia, Beyrra Triasdian, menilai aktivitas geothermal melalui pengeboran di kawasan gunung berpotensi berdampak pada ketersediaan sumber air di sekitarnya.

Menurut Beyrra, proses eksplorasi dan eksploitasi panas bumi membutuhkan air untuk injeksi dalam kegiatan pengeboran. Air tersebut, kata dia, dapat diambil dari sumber air permukaan di sekitar lokasi proyek.

"Eksplorasi awal dan eksploitasi awal itu butuh air untuk injeksinya. Jadi untuk ngebor batu itu butuh air. Mereka akan pakai air permukaan di sekitarnya. Saya pernah tanya ke warga sekitar, mereka melihat sendiri sungai mereka yang diambil itu mengering. Itu rakus air," terang Beyrra pada Kamis (5/11/2026).

Ia menambahkan, kebutuhan listrik dalam skala besar dapat mendorong pengambilan energi panas bumi secara masif.

"Biasanya untuk mengambil energi untuk dikelola atau dikonversi jadi listrik itu adalah tekanannya. Kalau logikanya kapitalistik, itu dengan cara mengambil tekanan sebesar-besarnya untuk menghasilkan temperatur yang tinggi sehingga listrik yang dihasilkan lebih tinggi," paparnya.

Selain persoalan penggunaan air, Beyrra menilai pengembangan geothermal perlu memperhatikan kondisi gunung yang menjadi lokasi pengeboran. Ia berpendapat, aktivitas tersebut seharusnya tidak dilakukan dengan mengebor gunung yang masih berstatus aktif.

Ia khawatir pengeboran di kawasan gunung berapi aktif dapat mengganggu keseimbangan alam dan berpotensi memicu gempa.

"Saya pernah konfirmasi ke geologis di Bandung. Geothermal itu seharusnya tidak menusuk di gunung yang aktif. Dia mengambil panas bumi, bukan inti bumi. Ketika diambil begitu cepat dan besar, keseimbangannya keganggu," tegas Beyrra.

baca juga

Karena itu, ia menilai pengembangan geothermal sebagai bagian dari transisi energi terbarukan belum tentu sejalan dengan prinsip energi berkeadilan bagi masyarakat. Menurutnya, masih ada persoalan dalam praktik pengelolaan panas bumi yang perlu diperhatikan.

Beyrra juga menyinggung temuan di kawasan Dieng. Ia mempertanyakan aspek keberlanjutan geothermal apabila penurunan pasokan panas bumi mendorong pengelola mencari sumber panas baru.

"Kalau energi terbarukan secara harfiah namanya bisa jadi enggak (terbantahkan). Tapi temuan kami di Dieng, kalau mereka tiba-tiba panasnya (panas bumi) kurang, terus mereka cari lagi, berarti jadi enggak terbarukan, sih. Ngapain cari yang baru kalau memang masih ada," tuturnya.

Sebagai perbandingan, Beyrra mencontohkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai salah satu sumber energi terbarukan yang menurutnya memiliki risiko lebih kecil terhadap lingkungan. Ia menilai pemanfaatan panas matahari untuk menghasilkan listrik tidak merusak lingkungan sekitar.

Menurut Beyrra, transisi energi berkelanjutan semestinya tidak hanya berfokus pada penggunaan sumber energi terbarukan, tetapi juga memastikan masyarakat memperoleh keadilan dan tidak menanggung dampak kerusakan lingkungan.

Salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah memastikan pengembangan energi tidak mengorbankan lingkungan dan kehidupan masyarakat di sekitar lokasi proyek.

"Kita jadinya bukan ngomongin (energi) terbarukan atau enggak. Tapi (energi) adil atau enggak?" tandasnya.

Reporter: Alif Bintang

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

PLTMH Tangsi Jaya Dikelola Warga, Trend Asia Kritik Kebijakan Energi yang Sentralistik

PLTMH Tangsi Jaya Dikelola Warga, Trend Asia Kritik Kebijakan Energi yang Sentralistik

News | Jum'at, 06 November 2026 | 07:35 WIB

Investasi RI Tembus Rp1.539 T, Hilirisasi Mineral Jadi Penopang Utama

Investasi RI Tembus Rp1.539 T, Hilirisasi Mineral Jadi Penopang Utama

Bisnis | Kamis, 05 November 2026 | 18:45 WIB

Kisah Warga Gunung Halu: Nikmati Listrik PLTMH Murah Rp25 Ribu untuk Usaha Bengkel Las

Kisah Warga Gunung Halu: Nikmati Listrik PLTMH Murah Rp25 Ribu untuk Usaha Bengkel Las

News | Kamis, 05 November 2026 | 10:44 WIB

Terkini

Ray-Ban Meta dan Oakley Meta Resmi Masuk Indonesia, Harga Mulai Rp8,7 Juta

Ray-Ban Meta dan Oakley Meta Resmi Masuk Indonesia, Harga Mulai Rp8,7 Juta

Tekno | Jum'at, 06 November 2026 | 08:13 WIB

Geothermal Belum Sejalan dengan Transisi Energi Berkeadilan, Apa Masalahnya?

Geothermal Belum Sejalan dengan Transisi Energi Berkeadilan, Apa Masalahnya?

News | Jum'at, 06 November 2026 | 08:12 WIB

Eccentric! Chef Moon: Saat Kuliner Pedesaan Sembuhkan Dua Jiwa yang Patah

Eccentric! Chef Moon: Saat Kuliner Pedesaan Sembuhkan Dua Jiwa yang Patah

Your Say | Jum'at, 06 November 2026 | 08:00 WIB

Aksi Pekerja Ketinggian Rawat Atap Stasiun LRT di Palembang

Aksi Pekerja Ketinggian Rawat Atap Stasiun LRT di Palembang

Foto | Jum'at, 06 November 2026 | 08:00 WIB

Jejak Kredit Gen Z Jadi Sorotan, Bisa Pengaruhi Pengajuan Pinjaman hingga Karier

Jejak Kredit Gen Z Jadi Sorotan, Bisa Pengaruhi Pengajuan Pinjaman hingga Karier

Bisnis | Jum'at, 06 November 2026 | 07:58 WIB

Kenapa Sudah Pakai Skincare tapi Wajah Masih Kusam? Ini Penyebab dan Solusinya

Kenapa Sudah Pakai Skincare tapi Wajah Masih Kusam? Ini Penyebab dan Solusinya

Lifestyle | Jum'at, 06 November 2026 | 07:54 WIB

Mendekam di Lapas Madiun, Oknum Polisi Polres Batu Resmi Dipecat Usai Terjerat Kasus Penipuan

Mendekam di Lapas Madiun, Oknum Polisi Polres Batu Resmi Dipecat Usai Terjerat Kasus Penipuan

Malang | Jum'at, 06 November 2026 | 07:54 WIB

Utang Pinjol Masyarakat Indonesia Tembus Rp106,48 Triliun, Rasio Gagal Bayar Makin Tinggi

Utang Pinjol Masyarakat Indonesia Tembus Rp106,48 Triliun, Rasio Gagal Bayar Makin Tinggi

Bisnis | Jum'at, 06 November 2026 | 07:48 WIB

Sektor Pertanian Masih Jadi Penyelamat Lampung: Serap 2,14 Juta Tenaga Kerja

Sektor Pertanian Masih Jadi Penyelamat Lampung: Serap 2,14 Juta Tenaga Kerja

Lampung | Jum'at, 06 November 2026 | 07:47 WIB

Polda Riau Ungkap Bisnis Pupuk Palsu Puluhan Ton, Petani Sawit Jadi Korban

Polda Riau Ungkap Bisnis Pupuk Palsu Puluhan Ton, Petani Sawit Jadi Korban

Riau | Jum'at, 06 November 2026 | 07:36 WIB

×