NTB.Suara.com – Perjalanan cinta Arie Kriting dan Indah Permatasari menghadapi tembok tinggi nan kokoh. Yakni restu Nursyah, ibu Indah Permatasari yang tak rela anaknya menikah dengan Arie Kriting. Namun, Indah sudah teguh dan memilih Arie Kriting sebagai pendampingi hidupnya.
Yang mengejutkan, dia memilih Arie Kriting bukan karena tampang dan uang. Artis asal Makassar ini jatuh hati ke komika asal Buton, Sulawesi Tenggara tersebut karena sesuatu hal.
Kepada Onadio Leonardo dalam tayangan di kanal Youtube The Leonardo’s, Indah Permatasari dan Arie Kriting sempat bercerita bagaimana mereka akhirnya saling jatuh cinta.
Mereka bertemu pertama kali dalam project film Stip & Pensil (2017), kemudian di film Jomblo (2017). Mereka akhirnya berteman. Juga jadi teman ngobrol.
Suatu ketika, Arie Kriting ada project di Sumba, Nusa Tenggara Timur. Ternyata Indah mengirim pesan ke Arie, salah satunya menanyakan kapan pulang ke Jakarta.
“Langsung terpanggil saya punya hati,” kata Arie kepada Onad, yang tayang 29 Juni 2022 lalu.
Setelah balik dari Sumba, mereka jalan bareng dan akhirnya pacaran. Onad menanyakan mengapa dia jatuh cinta ke Arie Kriting. Indah menyatakan, dia sebetulnya sangat picky (pemilih) dalam hal lelaki. Dia mengaku takut dikecewakan.
Indah mengaku, melihat pengalaman Arie Kriting dengan mantan pacarnya, sikapnya terhadpa perempuan, apa yang dilakukan selama hidupnya.
“Itu yang membuat aku sayang banget sama laki-laki ini. Aku suka sama kepribadiannya. Hal itu yang gak pernah aku dapatkan di laki-laki lain,” tandas Indah.
Setelah berpacaran selama 4 tahun, akhirnya Indah menetappkan hati untuk menikah dengan Arie. Katanya, 4 tahun waktu yang cukup mengenal Arie. Keduanya pada 12 Januari 2021 di Buton. Saat itu Arie berusia 36 tahun, sedangkan Indah berusia 24 tahun.
Indah Permatasari juga pernah mengungkap alasan dia jatuh cinta ke Arie Kriting saat hadir dalam podcast dengan komika Uus dan istrinya, Kartika. Indah Permatasari menjawab pertanyanan Kartika.
“Karena otaknya sih. Gue itu sebenernya suka laki-laki yang pintar,” kata Indah dalam tayangan di kanal Youtube Uus Kamukita, 3 Juni 2022 lalu.
Indah mengaku sebelum-sebelumnya jarang bertemu lelaki pintar. Umumnya modal tampang dan suka hura-hura, sedangkan soal filosofi hidup, ke depan mau ngapain, lelaki seperti itu tidak nyambung.
“Bang Arie bisa (mengisi kekurangan Indah). Aku belajar banyak sama dia,” ucap Indah.
Dia merasa Arie bisa membawa Indah lebih baik lagi. “Tua sih dia,” kata Indah lantas tertawa.
Bahkan, Uus mengakui, Arie Kriting kerap membuyarkan tongkrongan yang sedang riuh joke-joke, dengan omongan yang serius. Arie kerap nyeletuk dan membawa isu agak berat soal politik, ekonomi, sosial, pembangunan, hingga filosofis.
Sekadar diketahui, Arie Kriting merupakan Sarjana Teknik atau ST. Dia mengambil program studi Perencanaan Wilayah dan Kota atau Planologi di Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Sebelum jadi komika dan jadi juara ke-2 Suci, ajang pencarian bakat stand up commedians, dia bekerja sebagai perencana wilaya atau tata kota, termasuk pertamanan di Indonesia.
Namun, pilihan Indah menikah dengan Arie Kriting sempai saat ini belum mendapat restu dari Nursyah, ibu Indah. Ayah Indah, Nasruddin mengungkap bahwa istrinya ingin punya menantu yang pengusaha. Juga menolak Arie Kriting karena soal tampang dan uang.
"Mungkin Arie jelek, uang tidak ada, dan ibu inginnya pengusaha, barangkali," kata Nasruddin dalam tayangan di kanal Youtube KH Infotainment 27 Januari 2021 lalu.
Nursyah juga menuding Arie Kriting sudah mengguna-gunai Indah. Mengirim santet hingga pelet. Cara pandang Nursyah ini yang diakui Nasruddin menjadi rumit, padahal soal itu tidak bisa dibuktikan. Sehingga Nursyah menantang Arie Kriting mubahalah, semacam sumpah pocong, jika Arie Kriting ingin direstui sebagai menantu.
Tantangan tersebut sampai saat ini tidak dgubris Arie Kriting. Apalagi, tantangan yang sangat berat bagi Indah. Sebab, jika tantangan ini dilakukan, ini bak buah simalakama. Yang satu ibu kandung, satunya suami. Jika celaka menimpa salah satunya, Indah Permatasari lah yang paling menderita atau kehilangan. (*)