NTB.Suara.com – Dikabarkan pada tanggal 20 April 2023 mendatang akan ada fenomena gerhana matahari hibrida yang bisa disaksikan di beberapa wilayah Indonesia.
Ketika menatap Matahari langsung resiko yang terjadi pada mata akan menderita kerusakan yang serius dan permanen, sementara jika menggunakan kamera dikhawatirkan akan merusak sensor kamera.
Menurut Phil Hart, seorang astrofotografer Australia pemenang penghargaan, ada sedikit resiko jika memotret matahari melalui smartphone, karena bukaan lensanya kecil dan cahaya yang masuk relatif sedikit.
"Ini tidak akan merusak sensor pada smartphone Anda, tetapi juga tidak akan menghasilkan gambar yang menarik,” kata Phil Hart.
Selain itu, hal itu juga berisiko menyakiti mata secara tidak sengaja.
Jika ingin merekam gerhana di ponsel, buatlah sebuah proyeksi. Untuk wilayah yang mendapat gerhana 70 persen misalnya, dapat mengamati perkembangannya dengan proyeksi lubang jarum sederhana.
Caranya dengan membuat lubang jarum di selembar kartu, dan, dengan membelakangi Matahari, proyeksikan titik sinar matahari ke dinding, tanah, atau selembar kertas.
Selama gerhana sebagian, titik bulat akan menjadi berbentuk bulan sabit, sehingga dapat dengan mudah merekam perubahan bentuk tersebut dengan kamera ponsel.
Tapi untuk gerhana 10 persen, akan sulit mengamati perubahan bentuk. Pilihan alternatif adalah menggunakan teleskop atau teropong untuk memproyeksikan titik sinar matahari yang lebih besar.
Ini adalah prosedur yang mirip dengan membuat proyeksi lubang jarum, tetapi dengan lensa teleskop atau teropong sebagai pengganti lubang pada kartu.
Ingat, saat menyejajarkan teropong atau teleskop dengan Matahari, jangan pernah melihat Matahari melalui lensa okuler.
Selain itu, jangan pegang selembar kertas yang diproyeksikan cahayanya terlalu dekat dengan lensa, atau kertas itu akan terbakar.
Jika memiliki lensa dan filter yang tepat, gunakan tripod dan pelepas rana jarak jauh sehingga tak perlu dipusingkan dengan pengaturan kamera selama gerhana.(Ainul Yaqin/*)