Menimbang Arah Baru Partai Berbasis Islam, Dari Ideologi ke Pragmatisme Kekuasaan

Ari Ganjar Herdiansah Peneliti Pusat Studi Politik dan Demokrasi FISIP Unpad

Menimbang Arah Baru Partai Berbasis Islam, Dari Ideologi ke Pragmatisme Kekuasaan
Peneliti Pusat Studi Politik dan Demokrasi FISIP Unpad Ari Ganjar Herdiansah. [Suara.com/Dok. pribadi]
baca 10 detik
  • Partai Islam alami kemunduran pasca Pemilu 2024, dengan PPP gagal lolos ambang batas parlemen.
  • PKB, PAN, dan PKS pilih strategi realistis-pragmatis dengan bergabung ke pemerintahan.
  • Tantangan utama partai Islam: regenerasi kepemimpinan, relevansi isu publik, dan soliditas internal.

Suara.com - Partai-partai berbasis Islam di Indonesia menghadapi tantangan berat pasca Pemilu 2024. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Reformasi, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) terlempar dari Senayan.

Partai warisan Orde Baru ini gagal melampaui ambang batas parlemen, menyisakan kekecewaan di kalangan konstituen loyalnya.

Kini, lebih dari setahun pasca-pilpres, peta politik semakin mengerucut pada tantangan untuk meningkatkan keterwakilan mereka di parlemen pada Tahun 2029.

Di Tahun 2024, jumlah partai berbasis Islam di DPR menyusut drastis. Hanya tersisa tiga pemain, yakni Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Realitas politik terkini menunjukkan reaksi partai-partai berbasis Islam yang mudah ditebak. Ketiga partai Islam di DPR (PKB, PAN, dan PKS) kompak berlabuh di kabinet pemerintahan Prabowo-Gibran, menikmati insentif kekuasaan.

PKS, yang lama dikenal sebagai oposisi vokal mulai dari 2014, akhirnya bergabung dengan koalisi pemerintah.

Dukungannya itu diganjar dengan satu kursi menteri meskipun bukan dari kader partai, yakni Prof Yassierli sebagai Menteri Ketenagakerjaan.

Sementara itu, di luar parlemen, PPP masih sibuk berkonsolidasi melalui Muktamar 2025 sebagai ajang krusial untuk merebut kembali marwah politik umat.

Walaupun harus melalui drama konflik antar-elite yang klise, mereka akhirnya bersepakat untuk berlayar di bawah Mardiono sebagai nakhoda.

baca juga

Penyusutan partai-partai Islam di DPR bukanlah peristiwa yang tiba-tiba. Gejala penurunan kinerja elektoral telah nampak pasca Reformasi.

Puncaknya di Pemilu 2024, gabungan suara PKB, PKS, dan PAN hanya berkisar 26,26 persen yang menandakan makin menyusutnya keterwakilan konstituen partai berbasis Islam di parlemen.

Suasana saat Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato kenegaraan dalam rangka Penyampaian Pengantar/Keterangan Pemerintah atas RUU tentang APBN Tahun Anggaran 2026 beserta Nota Keuangannya di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (15/8/2025). [ANTARAFOTO/Dhemas Reviyanto/sgd/YU
Ilustrasi sidang DPR. Partai berbasis Islam di Indonesia hingga saat ini masih belum bisa bangkit dari keterpurukan dalam kontestasi politik lima tahunan. [ANTARAFOTO/Dhemas Reviyanto/sgd/YU

Setidaknya terdapat tiga kelemahan kronis yang menggerogoti partai-partai ini.

Pertama, kegagalan membuktikan kinerja. Partai Islam cenderung kuat saat situasi ekonomi sulit, di mana jargon spiritualitas laku dijual. Namun, saat ekonomi pulih, pemilih rasional beralih ke partai nasionalis yang dianggap lebih kompeten.

Kedua, konflik internal yang akut. Partai-partai ini seolah tidak pernah belajar dari perpecahan. PPP, PKS, dan PAN telah mengalami fragmentasi hebat dalam satu dekade terakhir. Friksi elite yang tak berkesudahan ini mendegradasi integritas partai di mata pemilih.

Ketiga, dilema antara ideologi, pakem-pakem primordial konstituen, dan pragmatisme. Mereka kesulitan mengemas gagasan religius dan kepentingan basis konstituen dalam kerangka politik modern.

Akibatnya, mereka sering terjebak. Terlalu kaku untuk pemilih moderat, tetapi kurang militan bagi pemilih ideologis.

Bertahan dalam Strategi Realistis-Pragmatis

Langkah pasca-pemilu dari ketiga partai berbasis Islam di Senayan menunjukkan satu pilihan yang sama, yakni realistis-pragmatis.

PKB, meski sempat berseberangan di pilpres, membuktikan kecanggihan strategi elektoralnya. Manuver taktis menempatkan Cak Imin sebagai cawapres sukses mengamankan 10,61 persen suara.

Tidak butuh waktu lama, PKB kembali ke koalisi pemerintah. Pilihan pragmatis ini adalah cara PKB untuk 'menyelamatkan diri' sekaligus memastikan mereka tetap exsist di panggung utama.

Hal serupa dilakukan PAN. Strategi 'merekrut artis' dan gimmik kreatif 'PAN... PAN... PAN' terbukti efektif menggaet pemilih muda.

PAN juga cerdik menjauhkan diri dari label 'partai Islam' dan memilih identitas 'nasionalis-religius.'

Keberhasilan mereka mengamankan kursi di pemerintahan adalah buah dari konsistensi adaptasi ini.

Yang paling mengejutkan adalah manuver PKS. Partai yang selama satu dekade memantapkan diri sebagai kekuatan oposisi ini akhirnya balik badan.

Dengan bergabung ke pemerintahan Prabowo, partai ini memberi sinyal jelas bahwa era politik ideologis kaku telah usai.

PKS kini memilih jalan yang sama dengan PKB dan PAN, mengamankan pengaruh dan insentif melalui kekuasaan. Meski dengan catatan, ada kekecewaan dari sebagian basis massanya.

Tantangan bagi ketiganya kini serupa. Mereka harus membuktikan bahwa mereka bukan sekadar 'penumpang' di kabinet.

Langkah pasca-pemilu dari ketiga partai berbasis Islam di Senayan menunjukkan satu pilihan yang sama, yakni realistis-pragmatis.

Mereka mesti mampu memberikan kinerja nyata yang merepresentasikan aspirasi basis mereka, sekaligus membuktikan bahwa pilihan pragmatis dapat membawa manfaat lebih besar daripada sekadar bertahan di luar kekuasaan.

Prospek dan Tantangan

Bagaimana nasib mereka di pemilu mendatang? Partai berbasis Islam tidak akan sepenuhnya punah dari demokrasi elektoral Indonesia.

Fungsi representasi kelompok primordial dari kalangan Islam masih dibutuhkan. Namun, tantangannya semakin berat: minim figur populer, perpecahan internal yang masih membayangi, dan perlu pembuktian kinerja yang diapresiasi masyarakat.

Sebagai penutup, ada tiga agenda mendesak yang harus dijawab partai Islam jika ingin relevan di Pemilu 2029.

Agenda pertama adalah regenerasi komprehensif. Upaya ini bukan sekadar mengganti figur.

Kasus PPP dengan konflik suksesi berturut-turut adalah pelajaran pahit. Muktamar 2025 mendatang harus menjadi momentum regenerasi ide dan kepemimpinan secara substantif, bukan sekadar ajang rekonsiliasi elite lama.

Kedua, relevansi isu. Isu-isu agama tidak lagi menjadi pertimbangan utama mayoritas pemilih.

Kini setelah semua bergabung dengan pemerintah, mereka harus mampu merespons isu publik yang paling mendesak: ekonomi, lapangan kerja, keadilan sosial, dan krisis iklim.

Mereka harus menawarkan solusi konkret, bukan sekadar ikut menikmati kekuasaan.

Ketiga, soliditas kelembagaan partai. Hentikan drama konflik internal. Publik muak dengan elite politik yang gemar bertikai.

Tanpa soliditas, partai akan terus rentan terhadap intervensi eksternal yang pada akhirnya mengamankan eksistensi partai itu sendiri.

Jika ketiga tantangan ini gagal dijawab, partai-partai Islam hanya akan menjadi catatan kaki dalam sejarah. Mereka akan tetap hadir di surat suara, namun kehilangan daya tarik di hati pemilih.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ironi di Muktamar X PPP; Partai Islam Ricuh, Waketum: Bagaimana Mau Mendapat Simpati Umat?

Ironi di Muktamar X PPP; Partai Islam Ricuh, Waketum: Bagaimana Mau Mendapat Simpati Umat?

News | Sabtu, 27 September 2025 | 19:20 WIB

Anggap Cak Imin Bawa PKB Menjadi Partai Islam Terbesar, Terdepan Membela Masyarakat?

Anggap Cak Imin Bawa PKB Menjadi Partai Islam Terbesar, Terdepan Membela Masyarakat?

News | Sabtu, 12 Juli 2025 | 21:30 WIB

Survei LSI Denny JA: Prabowo dan Ganjar Bersaing Ketat di Pemilih Partai Nasionalis, Anies Unggul di Partai Islam

Survei LSI Denny JA: Prabowo dan Ganjar Bersaing Ketat di Pemilih Partai Nasionalis, Anies Unggul di Partai Islam

Kotak Suara | Selasa, 19 September 2023 | 17:58 WIB

Terkini

Kebakaran Empat Lawang, 20 Rumah Terdampak dan Kerugian Tembus Rp5,2 Miliar

Kebakaran Empat Lawang, 20 Rumah Terdampak dan Kerugian Tembus Rp5,2 Miliar

Sumsel | Senin, 10 Agustus 2026 | 23:52 WIB

3 Pelaku Begal Polisi di Palembang Ternyata Ayah, Anak dan Seorang Perempuan

3 Pelaku Begal Polisi di Palembang Ternyata Ayah, Anak dan Seorang Perempuan

Sumsel | Senin, 10 Agustus 2026 | 23:31 WIB

Jadi Ojek Pangkalan, Polisi di Palembang Ditusuk 4 Kali dan Motornya Dibawa Kabur Begal

Jadi Ojek Pangkalan, Polisi di Palembang Ditusuk 4 Kali dan Motornya Dibawa Kabur Begal

Sumsel | Senin, 10 Agustus 2026 | 23:07 WIB

Kemiskinan Sumsel Turun, Garis Kemiskinan Naik 3,15 Persen Jadi Rp628 Ribu Per Bulan

Kemiskinan Sumsel Turun, Garis Kemiskinan Naik 3,15 Persen Jadi Rp628 Ribu Per Bulan

Sumsel | Senin, 10 Agustus 2026 | 22:59 WIB

Kasus Iklan BJB, Ada Dugaan Aliran Dana ke Lisa Mariana Lewat Pihak Nominee

Kasus Iklan BJB, Ada Dugaan Aliran Dana ke Lisa Mariana Lewat Pihak Nominee

News | Senin, 10 Agustus 2026 | 22:22 WIB

KPK Tahan Bos-Bos Iklan Bank BJB, Dirut Yuddy Renaldi Mendadak Sakit Saat Akan Dibui

KPK Tahan Bos-Bos Iklan Bank BJB, Dirut Yuddy Renaldi Mendadak Sakit Saat Akan Dibui

News | Senin, 10 Agustus 2026 | 22:10 WIB

BRI Beri Diskon Spesial Seminar Johnny Andrean Lewat Aplikasi BRImo

BRI Beri Diskon Spesial Seminar Johnny Andrean Lewat Aplikasi BRImo

Bri | Senin, 10 Agustus 2026 | 22:07 WIB

Menuju IFRC 2026, ERT NHM Perdalam Teknik dan Strategi Penyelamatan

Menuju IFRC 2026, ERT NHM Perdalam Teknik dan Strategi Penyelamatan

Jakarta | Senin, 10 Agustus 2026 | 22:07 WIB

Gelar Dicopot! Profil Menantu Sultan Brunei yang Bikin Penasaran Publik, Ternyata Ini Kasusnya

Gelar Dicopot! Profil Menantu Sultan Brunei yang Bikin Penasaran Publik, Ternyata Ini Kasusnya

News | Senin, 10 Agustus 2026 | 21:53 WIB

PSSI Murka! Justin Hubner dan Keluarga Jadi Sasaran Ancaman, Publik Diminta Hentikan Serangan

PSSI Murka! Justin Hubner dan Keluarga Jadi Sasaran Ancaman, Publik Diminta Hentikan Serangan

Bola | Senin, 10 Agustus 2026 | 21:53 WIB

×