Wasiat Jurgen Habermas untuk Bos dan Manajer Perusahaan agar Kantor Tak Jadi Penjara

Akuat Supriyanto, S.S.,MBA | Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Padjadjaran

Wasiat Jurgen Habermas untuk Bos dan Manajer Perusahaan agar Kantor Tak Jadi Penjara
Akuat Supriyanto, S.S.,MBA, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Padjadjaran.
baca 10 detik
  • Filsuf Jerman Jurgen Habermas wafat pada usia 96 tahun, meninggalkan pengaruh besar pada ilmu manajemen, khususnya CMS.
  • Pemikiran Habermas merevolusi manajemen dengan menawarkan rasionalitas komunikatif sebagai alternatif rasio instrumental yang kolonialistik.
  • Konsep Etika Diskursus Habermas mendorong studi organisasi menuju pengambilan keputusan yang lebih demokratis dan membebaskan.

Suara.com - Habermas tak pernah duduk di ruang rapat dewan direksi, dan mungkin tidak pernah membaca laporan keuangan perusahaan. Namun, ia telah memberikan cermin kepada akademisi dan praktisi manajemen untuk melihat 'wajah' sendiri. Ia mengingatkan bahwa organisasi adalah ruang kehidupan, bukan hanya sebuah sistem.

Dunia kehilangan salah satu pemikir sosial terbesar abad ke-20. Jurgen Habermas, filsuf dan sosiolog Jerman yang merupakan generasi kedua sekaligus pembaharu tradisi Frankfurt School—Mazhab Frankfurt—telah berpulang pada usia 96 tahun di Starnberg, Jerman.

Kepergiannya pada Sabtu 14 Maret akhir pekan lalu, telah meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi dunia filsafat dan teori sosial, tapi juga cabang ilmu yang mungkin tidak pernah secara langsung ia geluti: ilmu manajemen.

Habermas tak pernah secara subtil mendedah tentang manajemen, tapi pemikirannya menjadi fondasi yang telah merevolusi cara kita memandang organisasi dan kekuasaan.

Selama ini, Habermas lebih dikenal luas melalui karya monumentalnya seperti Theorie des kommunikativen Handelns (Teori Tindakan Komunikatif) atau Strukturwandel der Öffentlichkeit (Transformasi Struktural Ruang Publik).

Pemikiran dia juga telah banyak dibicarakan di publik dan ditulis dalam buku-buku filsafat dan sosiologi berbahasa Indonesia sejak tahun 1990-an.

Karena itu, dalam obituari ini, kita hendak memberikan penghormatan khusus pada Habermas atas sumbangsihnya yang luar biasa dalam pengembangan salahsatu ranting kajian dalam bidang ilmu manajemen, yaitu Critical Management Studies (CMS).

Melalui rahim emansipatoris yang disemai benih pemkirian Habermas, CMS lahir sebagai kritik sekaligus proyek pembebasan rasionalitas dari belenggu sistem.

Rasio Instrumental

baca juga

Untuk memahami kontribusi Habermas pada manajemen, kita harus kembali pada diagnosisnya atas penyakit masyarakat modern: yang ia sebut sebagai ”kolonisasi dunia kehidupan (lifeworld) oleh sistem”.

Dalam argumen Habermas, rasio yang seharusnya membebaskan manusia, dalam praktiknya telah tereduksi menjadi sekadar rasionalitas instrumental.

Rasio jenis ini adalah cara berpikir yang hanya peduli pada efisiensi dan kendali ala kadarnya sebagaimana juga dikritik oleh generasi pertama Frankfurt School, yakni Max Horkheimer dan Theodor Adorno.

Dalam konteks manajemen, rasio instrumental ini menjelma menjadi mesin raksasa yang mencengkeram.

Manajemen klasik dan modern justru kerap menjadi alat kolonisasi tersebut: pekerja direduksi menjadi sumber daya, interaksi manusia disederhanakan menjadi transaksi, dan keberhasilan hanya diukur dari akumulasi materi.

Habermas membongkar semua itu dengan menawarkan alternatif: rasionalitas komunikatif.

Menurut Habermas, rasionalitas manusia lahir dari proses komunikasi yang berhasil mencapai pemahaman bersama.

Dalam argumennya, potensi rasionalitas sebenarnya sudah melekat secara alamiah dalam praktik komunikasi sehari-hari. Rasionalitas komunikatif mengungkapkan norma-norma dan prosedur yang memungkinkan tercapainya kesepakatan, serta memandang nalar sebagai bentuk pembenaran publik.

Habermas berupaya merumuskan potensi tersebut secara eksplisit, dengan mengamati bagaimana individu yang kompeten dalam berbicara dan bertindak secara intuitif menguasai aturan-aturan berargumentasi.

Sumbangsih terbesar Habermas bagi CMS adalah pada kerangka berpikir yang menempatkan komunikasi, bukan komando, sebagai inti dari tindakan manusia.

Menurut pandangannya, tindakan komunikatif bertujuan untuk mencapai pemahaman bersama (Verständigung), bukan sekadar keberhasilan teknis.

Ia memberikan para akademisi manajemen sebuah pisau analisis untuk membedah bagaimana bahasa dalam organisasi tidak pernah netral—ia bisa menjadi alat dominasi, tetapi juga bisa menjadi alat emansipasi.

fondasi Epistemologis CMS

Perawi CMS seperti Andreas Georg Scherer menegaskan bahwa Teori Kritis, terutama yang dikembangkan oleh Habermas, adalah fondasi filosofis terpenting dalam kemunculan CMS, bahkan mungkin lebih berpengaruh dibandingkan labor process theory atau teori pasca-strukturalisme.

Mengapa demikian? Tentu, karena Habermas memberi CMS legitimasi untuk tidak hanya menjadi kritik yang sinis, tetapi juga normatif.

Ia memperkenalkan gagasan tentang kepentingan konstitutif pengetahuan (knowledge-constitutive interests) yang terdiri dari tiga hal.

Pertama, kepentingan teknis (kerja) yang melahirkan ilmu empiris-analitis. Kedua, kepentingan praktis (interaksi) yang melahirkan ilmu historis-hermeneutik. Ketiga, kepentingan emansipatoris (kekuasaan) yang melahirkan ilmu kritis.

Bagi CMS, kerangka ini membuka mata bahwa praktik manajemen selama ini hanya berkutat pada kepentingan teknis (seperti: bagaimana meningkatkan produktivitas?) dan melupakan pertanyaan emansipatoris (seperti: mengapa struktur ini menindas? siapa yang diuntungkan?).

Habermas mengajarkan bahwa studi manajemen yang sejati harus berani memasuki ranah ketiga: membebaskan manusia dari alienasi yang diciptakan oleh struktur organisasi itu sendiri.

Etika Diskursus dan Demokrasi Organisasi

Salah satu konsep Habermas yang paling subur dalam literatur manajemen adalah Etika Diskursus (Diskursethik) dan gagasannya tentang Ruang Publik.

Dalam konteks organisasi, para sarjana CMS menggunakan ide ini untuk mengkritik model pengambilan keputusan top-down yang otoriter.

Habermas membayangkan situasi ideal, di mana norma-norma dapat diterima secara sah hanya jika semua pihak yang terkena dampak dapat menyetujuinya dalam diskursus yang bebas dari dominasi (herrschaftsfreier Diskurs).

Meskipun sering dikritik sebagai utopis, konsep ini menjadi batu uji kritis bagi praktik manajemen. Ia memaksa kita untuk bertanya: seberapa demokratiskah perusahaan kita? Apakah suara buruh memiliki bobot yang sama dengan suara pemegang saham dalam dialog yang sesungguhnya?

Pemikirannya mendorong lahirnya riset-riset yang mengeksplorasi bagaimana teknologi komunikasi, misalnya, bisa digunakan untuk menciptakan proses rasionalisasi yang lebih demokratis di tempat kerja, bukan justru memperkuat pengawasan ala panoptikon.

Di Mondragon, koperasi terbesar di dunia yang berbasis di Spanyol, gagasan tentang manajemen strategis yang demokratis dan berpegang pada nilai-nilai emansipatoris dan solidaritas mendapatkan justifikasi teoretisnya dari kerangka berpikir Habermasian.

Kritik dan Warisan

Tentu saja, pengaruh Habermas dalam CMS tidak lepas dari kritik. Kaum pascamodernis seperti Lyotard mengecam proyek Habermas sebagai ”kisah besar” (grand narrative) lain yang naif. Menurutnya, model itu mengandaikan adanya konsensus universal yang justru menindas perbedaan dan disensus.

Kaum feminis juga mengkritik bahwa idealisasi ruang publik ala Habermas mungkin secara historis didominasi oleh perspektif laki-laki kulit putih heteroseksual.

Namun, para pemikir CMS kontemporer seperti Scherer menunjukkan bahwa pemikiran Habermas di masa senjanya terus berkembang.

Karyanya tentang filsafat politik dan demokrasi deliberatif memberikan perspektif baru yang menjawab kritik-kritik lama, membuka jalan bagi riset CMS yang lebih kontekstual mengenai peran korporasi dalam tatanan global yang semakin terfragmentasi .

Habermas tak pernah duduk di ruang rapat dewan direksi, dan mungkin ia tak pernah membaca laporan keuangan sebuah perusahaan.

Tapi, ia telah memberikan kepada para akademisi dan praktisi manajemen sebuah cermin untuk melihat wajah mereka sendiri.

Ia mengingatkan bahwa organisasi adalah ruang kehidupan, bukan hanya sebuah sistem. Ia mengajarkan bahwa efisiensi tanpa etika adalah barbarisme, dan bahwa tujuan akhir dari sebuah organisasi, seperti halnya masyarakat, adalah menciptakan kondisi bagi setiap individu untuk dapat hidup otonom dan diakui martabatnya.

Dengan kepergiannya, kita kehilangan suara yang tak kenal lelah dalam membela nalar publik. Namun, di ruang-ruang kelas manajemen, dalam seminar-seminar yang membahas demokrasi industri, dan dalam hati para pemikir kritis yang masih percaya pada kekuatan komunikasi, Jürgen Habermas akan selalu dikenang.

Selamat jalan, profesor. Ide-idemu telah membebaskan pembelajar manajemen dari tirani kata ”harus” dan membuka jalan menuju kata ”semoga”. Semoga....

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Jurgen Habermas, Filsuf Ternama dan Tokoh Mazhab Frankfurt Meninggal Dunia

Jurgen Habermas, Filsuf Ternama dan Tokoh Mazhab Frankfurt Meninggal Dunia

News | Minggu, 15 Maret 2026 | 08:47 WIB

Kabar Duka, Jurgen Habermas Filsuf Terakhir Mazhab Frankfurt Meninggal Dunia

Kabar Duka, Jurgen Habermas Filsuf Terakhir Mazhab Frankfurt Meninggal Dunia

News | Sabtu, 14 Maret 2026 | 23:02 WIB

Terkini

Budaya Menghakimi Era Digital: di Balik Layar, Dia Tetaplah Seorang Manusia

Budaya Menghakimi Era Digital: di Balik Layar, Dia Tetaplah Seorang Manusia

Your Say | Sabtu, 01 Agustus 2026 | 18:00 WIB

Pendapatan Harita Nickel (NCKL) Naik 21,2 Persen di Semester I 2026

Pendapatan Harita Nickel (NCKL) Naik 21,2 Persen di Semester I 2026

Bisnis | Sabtu, 01 Agustus 2026 | 17:56 WIB

Doa Kebangsaan di Monas Dimulai Jam Berapa? Ini Jadwal, Lokasi Parkir, dan Rute Lalu Lintasnya

Doa Kebangsaan di Monas Dimulai Jam Berapa? Ini Jadwal, Lokasi Parkir, dan Rute Lalu Lintasnya

News | Sabtu, 01 Agustus 2026 | 17:36 WIB

Trisno Pas Band Meninggal Dunia Usai Bertahan Melawan Komplikasi Penyakit

Trisno Pas Band Meninggal Dunia Usai Bertahan Melawan Komplikasi Penyakit

Entertainment | Sabtu, 01 Agustus 2026 | 17:36 WIB

Pagar Tinggi Mal Picu Spekulasi, Polisi: Jangan Buat Gaduh, Jakarta Masih Aman!

Pagar Tinggi Mal Picu Spekulasi, Polisi: Jangan Buat Gaduh, Jakarta Masih Aman!

News | Sabtu, 01 Agustus 2026 | 17:32 WIB

Cermin Politik Hari Ini: Ketika Fanatisme Memaklumi Etika yang Terabaikan

Cermin Politik Hari Ini: Ketika Fanatisme Memaklumi Etika yang Terabaikan

Your Say | Sabtu, 01 Agustus 2026 | 17:30 WIB

Ramalan Zodiak Bulan Agustus 2026: Siapa yang Paling Beruntung?

Ramalan Zodiak Bulan Agustus 2026: Siapa yang Paling Beruntung?

Lifestyle | Sabtu, 01 Agustus 2026 | 17:20 WIB

Harga Resmi Chery Q di GIIAS 2026 Mulai Rp 239 Jutaan, Cek Spesifikasi Mobil Listrik Ini

Harga Resmi Chery Q di GIIAS 2026 Mulai Rp 239 Jutaan, Cek Spesifikasi Mobil Listrik Ini

Otomotif | Sabtu, 01 Agustus 2026 | 17:18 WIB

Dijaga Ketat 7 Ribu Personel, Ribuan Jemaah Mulai Padati Monas Jelang Zikir Bersama Prabowo

Dijaga Ketat 7 Ribu Personel, Ribuan Jemaah Mulai Padati Monas Jelang Zikir Bersama Prabowo

News | Sabtu, 01 Agustus 2026 | 17:14 WIB

3 Shio yang Menarik Keberuntungan 2 Agustus 2026, Besok Minggu Datang Hoki

3 Shio yang Menarik Keberuntungan 2 Agustus 2026, Besok Minggu Datang Hoki

Lifestyle | Sabtu, 01 Agustus 2026 | 17:10 WIB

×