alexametrics

Toyota dan Nissan Ikut Aliansi Perlindungan Mobil Dari Aksi Peretasan

RR Ukirsari Manggalani | Manuel Jeghesta Nainggolan
Toyota dan Nissan Ikut Aliansi Perlindungan Mobil Dari Aksi Peretasan
Mobil swakemudi Nissan diuji di jalan umum Tokyo, Jepang [Nissan].

Toyota dan Nissan bergabung dengan 90 perusahaan untuk menanggulangi serangan siber.

Suara.com - Toyota Motor Corporation dan Nissan Motor bergabung bersama sembilan puluh perusahaan, akan membentuk konsorsium untuk melindungi mobil yang terhubung dengan perangkat lunak terhindar dari serangan siber.

Para perusahaan itu akan memeriksa perangkat lunak pada produk mereka untuk mengetahui kelemahan keamanan dan berbagi informasi seperti tren serangan siber untuk mencegah pencurian data. Tujuannya meningkatkan upaya menuju mobil self-driving atau swakemudi menjadi kenyataan di masa depan.

Seperti dilaporkan Nikkei Asia, Perusahaan teknologi informasi seperti Microsoft Japan, Trend Micro, NTT Communications dan Sompo Japan Insurance akan bergabung dengan grup pembuat mobil, termasuk produsen suku cadang seperti Denso dan Panasonic.

Ilustrasi peretas (Shutterstock).
Ilustrasi peretasan (Shutterstock).

Dalam mobil yang terhubung dengan perangkat lunak, bagian-bagian seperti mesin, motor, dan rem dikontrol secara elektronik. Data status operasional dikirim melalui internet.

Baca Juga: Tertarik Membeli Mobil Toyota GR Sport? Ini Estimasi Biaya Servis Berkala

Jika terjadi celah keamanan pada perangkat lunak yang mengelola data, maka bisa dicegah atau nantinya mobil akan disita oleh operator luar.

Ribuan kasus celah keamanan pada perangkat lunak terdeteksi di seluruh dunia setiap bulannya. Di bawah kemitraan, kelemahan perangkat lunak otomotif diharapkan dapat diekstraksi dan diperbarui seminggu sekali.

Setiap perusahaan akan memeriksa produknya, memastikan perangkat lunaknya terhindar dari aksi peretasan. Para anggota juga akan diberikan contoh metode peretasan yang dilaporkan di seluruh dunia.

Biasanya biaya perusahaan di sektor otomotif mencapai 1,8 juta dolar Amerika Serikat (AS) hingga 2,7 juta dolar AS per tahun untuk melakukan penelitian perangkat lunak outsourcing.

Aliansi akan mengurangi beban keuangan pada produsen suku cadang kecil dan menengah yang tidak memiliki spesialisi dalam keamanan perangkat lunak. Dengan cara ini, bisa meningkatkan kemampuan mobil buatan Jepang secara keseluruhan.

Baca Juga: Alasan Mitsubishi Xpander Masih Menjadi MPV yang Diminati Konsumen

Nantinya mobil model baru yang dijual di Jepang setelah Juli 2022 diharapkan memiliki perangkat lunak yang bisa terus diperbarui. Bila tidak, pembuat mobil tidak akan mendapat persetujuan untuk memasarkan produk mereka.

Komentar