- Jauh sebelum Pertamax Green, Ford membuat mobil dari rami yang ditenagai 100 persen etanol nabati.
- Bodinya lebih kuat dari baja dan 453 kg lebih ringan, sebuah revolusi otomotif pada 1941.
- Kisah tragisnya menjadi cermin bagi tantangan program bioetanol di Indonesia saat ini.
Suara.com - Di saat Indonesia sedang giat mengkampanyekan bahan bakar bioetanol untuk lepas dari jerat impor BBM, sebuah kisah dari 80 tahun lalu kembali relevan.
Cerita tentang Henry Ford, sang visioner otomotif, yang tidak hanya membuat mobil berbahan bakar nabati, tapi juga membuat seluruh bodinya dari tanaman.
Jauh sebelum isu emisi karbon menjadi momok, Henry Ford sudah memikirkan sebuah solusi radikal.
Dilansir dari berbagai sumber, ia memperkenalkan prototipe mobil yang bodinya bukan dari logam, melainkan dari bioplastik ramuan rami, gandum, dan serat lainnya pada 13 Agustus 1941.
Hasilnya? Sebuah mobil yang 453 kg lebih ringan dari mobil baja seukurannya, namun diklaim sepuluh kali lebih kuat.
Ford bahkan mendemonstrasikannya dengan menghantamkan palu godam ke bodi mobil itu, yang memantul tanpa meninggalkan penyok sedikitpun.
Jantung Pacu Penenggak Etanol Murni

Keajaiban mobil ini tidak berhenti di eksteriornya. "Dapur pacunya" dirancang untuk menenggak bahan bakar bersih dan terbarukan.
Alih-alih bensin dari fosil, mobil ini berjalan mulus menggunakan etanol yang disuling dari rami atau sumber pertanian lainnya.
Baca Juga: E10 Wajib 10 Persen: Kenapa Kebijakan Etanol Ini Dikhawatirkan?
Sebuah konsep yang sangat mirip dengan apa yang kini coba diwujudkan di Indonesia. Ford pernah berkata:
"Mengapa menggunakan hutan, yang membutuhkan waktu berabad-abad untuk dibuat... jika kita bisa mendapatkan produk yang setara dalam pertumbuhan tahunan ladang rami?"
Relevansi di Indonesia: Gema Visi Ford di Era Bioetanol

Visi Ford delapan dekade lalu kini terdengar sangat familiar di telinga kita.
Pemerintah Indonesia saat ini tengah mendorong program bioetanol yang berasal dari tebu, singkong, dan jagung sebagai solusi untuk menekan impor BBM dan mengurangi emisi.
Produk seperti Pertamax Green 95 adalah langkah awal dari ambisi besar ini.
- Tujuan Sama: Sama seperti Ford yang melihat ladang rami sebagai "pom bensin" masa depan, Indonesia kini melihat perkebunan tebu sebagai sumber energi baru.
- Tujuannya identik: mencapai ketahanan energi dan keberlanjutan lingkungan.
- Bahan Baku dari Tanah: Konsep dasarnya tidak berubah, yaitu memanfaatkan hasil bumi untuk menggerakkan roda perekonomian dan kendaraan.
Lantas, jika idenya begitu brilian dan relevan, mengapa kita tidak pernah melihat mobil Ford ini di jalanan? Jawabannya adalah pelajaran berharga bagi Indonesia.
Konspirasi yang Menjegalnya: Pelajaran untuk Masa Kini
Mobil rami Ford tidak gagal karena teknologinya buruk.
Ia gagal karena berhadapan langsung dengan "tembok" kepentingan raksasa industri.
- Jegal Regulasi:
"Marihuana Tax Act" tahun 1937 secara efektif membunuh industri rami, meskipun rami untuk industri sama sekali berbeda dengan ganja untuk rekreasi.
- Lobi Industri Fosil:
Banyak sejarawan menunjuk lobi kuat dari industri perminyakan (Andrew Mellon), industri plastik berbasis minyak bumi (DuPont dengan nilonnya), dan industri kertas (William Randolph Hearst) sebagai dalang utama di balik regulasi tersebut.
Mereka melihat bahan serbaguna seperti rami sebagai ancaman mematikan bagi bisnis mereka.
- Momentum yang Hilang:
Perang Dunia II akhirnya mengubur mimpi ini dalam-dalam, karena fokus industri beralih total ke produksi mesin perang berbahan baja.
Kisah tragis mobil rami Ford adalah sebuah cermin. Ia menunjukkan bahwa inovasi energi bersih sehebat apa pun akan selalu berhadapan dengan kepentingan lama yang sudah mapan.
Tantangan yang dihadapi Indonesia dalam mengembangkan ekosistem bioetanol—mulai dari pasokan bahan baku hingga persaingan dengan industri lain—adalah gema dari pertarungan yang dihadapi Ford puluhan tahun lalu.
Pertanyaannya kini, bisakah Indonesia berhasil di mana Henry Ford pernah dijegal?