- Baterai solid state menarik karena kepadatan energi tinggi serta siklus hidup lebih panjang dibanding lithium-ion konvensional.
- Penggantian elektrolit cair dengan padat meningkatkan keamanan, namun risiko dendrit litium menyebabkan korsleting internal.
- Saat ini, teknologi solid state masih dalam tahap riset intensif dan belum siap untuk produksi massal mobil listrik.
Suara.com - Dalam beberapa tahun terakhir, baterai solid-state sering disebut-sebut sebagai teknologi masa depan kendaraan elektrik, termasuk mobil dan motor listrik.
Alasannya jelas: baterai ini diklaim lebih padat energi, punya siklus hidup lebih panjang, dan dapat diisi daya lebih cepat dibanding baterai lithium-ion konvensional.
Dengan keunggulan tersebut, banyak yang percaya solid-state akan menjadi pengganti sempurna untuk mobil listrik. Namun, benarkah teknologi ini tanpa kelemahan?
Menurut wawancara oleh MCN ke seorang ahli bernama Dr John-Joseph Marie, Analis Utama Penyimpanan Energi di Faraday Institution, ada alasan kuat mengapa solid-state begitu menarik.
"Untuk kendaraan listrik atau bahkan sepeda motor listrik, ruang sangat terbatas. Anda butuh kepadatan energi setinggi mungkin agar produk layak dipasarkan," jelasnya.
Faraday Institution sendiri adalah lembaga riset baterai yang didukung pemerintah Inggris sejak 2017, sehingga pandangan mereka cukup kredibel.
Secara sederhana, baterai lithium-ion konvensional menggunakan elektrolit cair berupa pelarut organik dengan garam litium.
Cairan ini memungkinkan ion litium bergerak antara anoda dan katoda. Pada baterai solid-state, cairan diganti dengan elektrolit padat.
Ada beberapa jenis yang sedang diteliti, mulai dari berbasis polimer plastik, sulfida, hingga oksida.
Baca Juga: Motor Listrik Charged Maleo S 2026 Bisa Cas Kilat, Jarak Tempuh Tembus 150 Km
Keunggulan solid-state

Dengan elektrolit padat, baterai solid-state diyakini lebih aman karena risiko kebocoran cairan hilang. Selain itu, teknologi ini memungkinkan penggunaan logam litium sebagai anoda, yang disebut sebagai "cawan suci" dalam dunia baterai.
Anoda logam litium bisa meningkatkan kepadatan energi secara signifikan, sehingga mobil listrik berpotensi menempuh jarak lebih jauh dengan ukuran baterai lebih kecil.
Kelebihan lain adalah umur pakai lebih panjang. Siklus pengisian baterai solid-state bisa lebih banyak dibanding lithium-ion biasa.
Ditambah lagi, waktu pengisian daya lebih singkat, membuatnya sangat menarik untuk kendaraan listrik yang butuh efisiensi tinggi.
Masalah Dendrit