- Ekspor mobil China mencapai 8,32 juta unit pada 2025, meningkat 30 persen dari tahun sebelumnya, didominasi NEV.
- Indonesia termasuk sepuluh besar pengimpor kendaraan energi baru (NEV) dari China secara global pada tahun tersebut.
- Meksiko kini menjadi tujuan ekspor utama mobil China, sementara ekspor kendaraan listrik murni mendominasi kontribusi.
Suara.com - Industi otomotif China mengalami lonjakan besar untuk urusan ekspor mobil baru ke sejumlah negara di dunia. Berdasarkan data terbaru dari Asosiasi Mobil Penumpang China (CPCA), sebanyak 8,32 juta mobil China sudah diekspor ke sejumlah negara sepanjang tahun 2025. Pencapaian tersebut mengalami kenaikan sebesar 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Lonjakan paling signifikan terlihat pada sektor kendaraan energi baru atau NEV. China tercatat mengekspor 3,43 juta unit NEV dengan pertumbuhan mencapai 70 persen. Angka ini jauh melampaui tingkat pertumbuhan tahun 2024 yang hanya berada di level 16 persen.
Menariknya, Indonesia masuk sebagai salah satu negara yang paling banyak menampung ekspor mobil China. Meskipun Indonesia belum menembus 10 besar negara tujuan ekspor kendaraan China secara keseluruhan, posisi Indonesia cukup tinggi di kategori NEV. Bersama Thailand dan India, Indonesia masuk dalam daftar 10 besar importir NEV asal China di tingkat global.
Saat ini struktur pasar ekspor China mulai bergeser dengan Meksiko yang naik ke posisi puncak sebagai negara tujuan utama, diikuti oleh Rusia dan Uni Emirat Arab. Inggris dan Australia juga menunjukkan performa yang stabil dalam menyerap produk otomotif China, sementara Belgia tetap menjadi importir NEV terbesar.
Secara detail, proporsi kendaraan listrik murni menyumbang 28 persen dari total ekspor. Sementara itu, kendaraan hibrida plug-in mencapai 13 persen dan kendaraan hibrida sebesar 6 persen. Fenomena ini berbanding terbalik dengan mobil berbahan bakar bensin konvensional yang kontribusinya menurun 11 persen menjadi 43 persen.
Perjalanan ekspor mobil China pada 2025 juga diwarnai dinamika pasar global. Setelah pertumbuhan kuat di bulan Januari, pengiriman sempat lesu pada periode Februari hingga April akibat dampak tarif yang dikenakan oleh Amerika Serikat. Namun, pasar kembali pulih sejak Mei hingga November, dengan dorongan kuat pada ekspor mobil bekas yang terjadi pada bulan Desember.
Besarnya peredaran mobil China di pasar internasional membuktikan dominasi teknologi Negeri Tirai Bambu sudah semakin diterima luas. Penetrasi di kawasan Asia Tenggara, khususnya Indonesia, menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap kendaraan masa depan terus meningkat tajam di tengah pergeseran tren otomotif dunia.