Suara.com - Vietnam paham betul bahwa negaranya adalah bagian dari Asia Tenggara. Karena itu, ketika membangun industri kendaraan listrik, pendekatan yang dipilih bukan sekadar mengejar teknologi mutakhir, namun mendekatkan diri dengan pasar otomotif kawasan ASEAN. Strategi, produk, hingga ekspansi VinFast terasa sangat Asia Tenggara: bertahap, pragmatis, dan berangkat dari kebiasaan masyarakatnya sendiri.
Pendekatan ini relevan di tengah percepatan adopsi kendaraan listrik di Asia Tenggara. Kawasan dengan 10 negara anggota (Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos), Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam ) tadi bukan lagi pasar masa depan, melainkan pasar yang sedang tumbuh nyata. Kota-kota yang padat, jarak tempuh harian yang pendek, serta budaya kendaraan roda dua menjadikannya lahan uji yang ideal bagi elektrifikasi.
Pertanyaannya bukan lagi apakah Electric Vehicle (EV) akan tumbuh, melainkan siapa yang akan memetik manfaat terbesarnya.
Data firma analitik Kpler menunjukkan bahwa di enam pasar utama Asia Tenggara, sekitar 70 persen EV yang terjual berasal dari produsen Tiongkok. Angka ini menegaskan satu hal: kawasan ini masih mengimpor masa depannya.
Di tengah dominasi itu, VinFast—produsen kendaraan listrik asal Vietnam—muncul sebagai salah satu upaya paling serius untuk membangun pemain EV dari dalam kawasan sendiri.
Di Vietnam, kendaraan listrik bukan lagi sekadar eksperimen. Sepanjang 2025, VinFast mencatatkan penjualan 175.099 mobil listrik dan 406.453 skuter listrik. Angka ini mencerminkan perubahan perilaku, bukan hanya lonjakan tren. EV mulai diterima sebagai pilihan yang wajar, bukan sekadar alternatif.
Keberhasilan ini tidak bertumpu pada satu model unggulan. VinFast membangun ekosistem. Dari skuter listrik untuk mobilitas harian, mobil kota, SUV keluarga, hingga Limo Green—MPV listrik tujuh penumpang untuk keluarga besar dan armada komersial. Segmentasi ini mencerminkan cara masyarakat Vietnam bergerak sehari-hari.
Pendekatan itu diperkuat dengan pembangunan infrastruktur. Bersama mitra pengisian daya V-GREEN, VinFast mengembangkan lebih dari 150.000 titik pengisian di seluruh Vietnam. Kepadatan ini penting untuk membentuk kebiasaan. Ketika pengisian daya menjadi mudah dan dapat diprediksi, kecemasan jarak tempuh perlahan memudar.
Kehadiran taksi listrik GSM juga memainkan peran penting. Banyak warga Vietnam pertama kali merasakan EV sebagai penumpang, bukan pembeli. Pengalaman ini membuat kendaraan listrik terasa akrab, bukan asing.
VinFast juga menggeser fokus dari harga awal ke rasa aman jangka panjang. Garansi yang lebih panjang dari standar mobil konvensional, jaminan baterai, program tukar tambah, hingga periode pengisian gratis membuat keputusan beralih ke EV terasa masuk akal secara ekonomi.
Hasilnya terlihat jelas. Selama lebih dari satu tahun terakhir, VinFast memimpin penjualan mobil nasional Vietnam, melampaui merek lokal dan asing. Vietnam pun menjadi salah satu dari sedikit pasar di dunia di mana produsen EV murni berada di puncak penjualan.
Di Asia Tenggara, adopsi EV bukan hanya soal teknologi, akan tetapi kepercayaan. Pertanyaan yang sering muncul sederhana: siapa yang akan bertanggung jawab jika mobil bermasalah lima atau 10 tahun ke depan?
Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar. Di Eropa, konsumen EV merek Aiways di Jerman sempat menikmati harga kompetitif. Namun ketika jaringan distribusi runtuh dan layanan purnajual tersendat, pengalaman itu berubah menjadi pelajaran mahal.
Asia Tenggara pun mengalami gejala serupa. Pada 2025, Zhejiang Hozon—produsen di balik merek Neta—memasuki proses kebangkrutan. Di Thailand, laporan penutupan showroom dan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) menjadi pengingat bahwa harga murah di awal tidak selalu menjamin keberlanjutan.
Situasi ini membuat konsumen semakin berhati-hati. Pemerintah pun menghadapi dilema serupa. Insentif memang menarik investasi, namun berisiko menciptakan kelebihan pasokan. Thailand, misalnya, beberapa kali menyesuaikan kebijakan EV-nya sepanjang 2025 untuk menjaga keseimbangan pasar.
Dalam konteks inilah kehadiran pemain regional yang berkomitmen jangka panjang menjadi penting. Bukan sebagai simbol nasionalisme, melainkan sebagai jangkar kepercayaan.
Setelah mengamankan pasar domestik, VinFast mulai membawa model ekosistemnya ke luar Vietnam. Indonesia menjadi salah satu pasar kunci karena strategi tadi dijalankan secara menyeluruh.
Di Indonesia, VinFast tidak hanya menjual produk, namun menawarkan kepastian. Ada skema sewa baterai yang membuat biaya lebih terprediksi. Ada program jaminan nilai jual kembali untuk meredam kecemasan depresiasi. Ada pula pembiayaan dengan bunga nol persen dalam program tertentu, yang membuka akses bagi pembeli EV pertama.
Di sisi infrastruktur, V-GREEN mendorong pembangunan jaringan pengisian, dilengkapi kebijakan pengisian gratis di stasiun VinFast dalam periode yang cukup panjang untuk membentuk kebiasaan.
Komitmen ini diperkuat dengan investasi industri. Pada Desember 2025, VinFast meresmikan fasilitas produksi EV di Subang, Jawa Barat. Bagi konsumen, kehadiran pabrik adalah sinyal sederhana: merek ini berniat tinggal lama.
Seorang pekerja kantoran di Jakarta, Vicky, menyebut keputusan itu sebagai faktor penting pilihannya.
“Saya ingin perusahaan mobilnya ada di Indonesia setidaknya 10 tahun. Begitu tahu VinFast bangun pabrik di Subang, kepercayaan saya naik,” tegasnya.
Industri EV adalah industri padat modal. Banyak startup EV di Barat tersandung. VinFast memiliki keunggulan berupa dukungan Vingroup, konglomerasi swasta terbesar di Vietnam, yang memberi ruang napas lebih panjang.
Ekspansi ke India memperkuat ambisi itu. Pada Januari 2026, model VF 6 dan VF 7 meraih sertifikasi keselamatan bintang lima dari Bharat NCAP. VinFast juga memperluas fasilitas produksinya dan mencatatkan lebih dari 1.000 penjualan hanya dalam empat bulan pertama.
VinFast masih dalam proses belajar—menyesuaikan harga, tempo, dan kemitraan di tiap negara. Namun pendekatan inilah yang membuatnya relevan dengan karakter Asia Tenggara: adaptif, bertahap, dan realistis.
Selama ini, kawasan ini sering dihadapkan pada pilihan antara mengimpor kemajuan atau menunggu. Apa yang dicoba VinFast berada di antara keduanya. Jika suatu hari muncul juara EV dari ASEAN, besar kemungkinan wujudnya akan seperti ini—tidak instan, tidak sempurna, namun berakar pada kebutuhan lokal. Dan pada akhirnya, produk ini terasa sangat Asia Tenggara.***