- BYD memperkenalkan Blade Battery generasi kedua dan Flash Charging 2.0 di tengah penurunan pasar kendaraan energi baru 30 persen.
- Baterai baru ini mampu mengisi daya dari 10 persen hingga 97 persen dalam waktu sembilan menit optimal.
- Perusahaan membangun 20.000 stasiun pengisian di Tiongkok untuk mendukung produk premium dan target ekspor 1,3 juta unit.
Suara.com - Raksasa otomotif BYD resmi memperkenalkan Blade Battery generasi kedua serta sistem pengisian daya Flash Charging 2.0 di tengah situasi pasar yang sedang menantang. Terobosan ini hadir saat pertumbuhan penjualan kendaraan energi baru atau NEV mulai melambat dan volume pasar pada awal tahun 2026 merosot tajam hingga lebih dari 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Melalui strategi bisnis yang dilakukan, BYD sepertinya berupaya mengulang kesuksesan tahun 2020 saat teknologi baterai mereka dianggap berhasil “menggiring” arah industri ke penggunaan baterai LFP. Meskipun kepadatan energi hanya meningkat lima persen dibandingkan versi sebelumnya, baterai baru ini menonjol dalam hal performa pengisian daya.
Dalam kondisi optimal, baterai ini sanggup mengisi dari 10 persen hingga 97 persen dalam waktu hanya 9 menit saja.
Namun efisiensi waktu pengisian ini harus dibayar mahal oleh perusahaan. Kenaikan harga bahan baku untuk mendukung teknologi pengisian ultra cepat diperkirakan menambah biaya sekitar 1.500 yuan atau setara 207 USD untuk setiap paket baterai 75 kWh.
Dengan margin keuntungan yang kian tergerus, perusahaan kini menghadapi dilema besar antara mempertahankan keunggulan teknologi atau menjaga harga tetap kompetitif di mata konsumen.

Sebagai langkah pendukung BYD menjalankan program Flash Charging China yang menargetkan pembangunan 20.000 stasiun pengisian pada akhir 2026. Infrastruktur ini disiapkan untuk menopang lini produk premium mereka termasuk merek Denza serta penyegaran untuk model Yangwang U7 dan Yangwang U8.
Strategi agresif dari BYD ini menjadi harapan utama perusahaan untuk menstabilkan permintaan pasar domestik serta mendukung ambisi ekspor yang ditargetkan mencapai 1,3 juta unit pada tahun 2026 mendatang.