- Pemerintah China menghentikan sementara izin operasional robotaxi akibat insiden gangguan sistem pada armada Baidu di Kota Wuhan.
- Kesalahan teknis saat pengumpulan data menyebabkan 200 unit Apollo Go berhenti mendadak dan memicu kemacetan serta kecelakaan.
- Otoritas China mewajibkan seluruh pengembang kendaraan otonom melakukan pemeriksaan keselamatan menyeluruh sebelum diizinkan melanjutkan kembali ekspansi bisnis mereka.
Suara.com - Pemerintah China dilaporkan mengambil langkah tegas dengan menghentikan sementara penerbitan izin baru bagi operator robotaxi. Kebijakan ini menyusul insiden gangguan sistem serius yang melibatkan ratusan mobil tanpa sopir milik raksasa teknologi Baidu.
Melansir laporan Carscoops, sekitar 200 unit robotaxi dari layanan Apollo Go berhenti mendadak secara bersamaan di tengah lalu lintas padat Kota Wuhan.
Gangguan tersebut dipicu oleh perintah dari tim insinyur Baidu yang bermaksud mengumpulkan data secara langsung namun justru melumpuhkan armada tersebut dalam waktu hampir bersamaan.
Kondisi ini memicu kekacauan lalu lintas yang signifikan di kota besar tersebut. Selain menyebabkan kemacetan panjang, sejumlah kendaraan dilaporkan mengalami tabrakan ringan.
Beberapa penumpang bahkan sempat terjebak di dalam kabin karena mobil berhenti secara mendadak di tengah jalan. Beruntung tidak ada korban luka dalam peristiwa tersebut.
Merespons kejadian ini, otoritas transportasi bersama Kementerian Industri dan Teknologi Informasi serta regulator siber China segera menggelar pertemuan dengan delapan perusahaan pengembang kendaraan otonom terbesar.
Pemerintah mewajibkan seluruh operator melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap sistem keselamatan dan operasional sebelum melanjutkan ekspansi bisnis.
Padahal industri robotaxi di China sedang berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Hingga akhir 2025, tercatat sekitar 4.500 unit robotaxi telah beroperasi di berbagai zona uji coba yang tersebar di 10 kota. Sejumlah analis bahkan memprediksi jumlah armada bisa menembus 500 ribu unit pada 2030 mendatang atau setara 10 persen dari total populasi taksi nasional.
Insiden yang melibatkan Baidu ini menjadi peringatan keras bagi industri otomotif global. Pengembangan teknologi canggih kendaraan otonom harus tetap menempatkan aspek keselamatan sebagai faktor paling krusial sebelum teknologi tersebut diadopsi oleh masyarakat secara lebih luas.