- Polaris mematenkan helm pintar modular untuk motor dan kendaraan off-road yang dilengkapi teknologi GPS serta komunikasi radio.
- Helm tersebut memiliki sensor biometrik dan gerakan untuk mendeteksi kelelahan serta memberikan peringatan otomatis kepada pengendaranya.
- Sistem helm mampu membatasi performa kendaraan secara otomatis jika pengendara mengabaikan peringatan keselamatan yang diberikan oleh perangkat.
Suara.com - Polaris baru saja mendaftarkan paten untuk helm pintar modular yang dilengkapi GPS, sensor biometrik, komunikasi radio, hingga modul elektronik tambahan.
Fitur paling menarik adalah sistem deteksi kelelahan pengendara yang bisa memberi peringatan saat tubuh dianggap terlalu lelah.
Teknologi ini dikembangkan oleh Polaris, produsen kendaraan powersport asal Amerika yang juga memiliki merek perlengkapan riding premium Klim.
Jika benar diproduksi, helm pintar ini kemungkinan besar akan hadir dengan branding Klim, bukan Polaris.
Menurut Rideapart, saat ini helm pintar Polaris masih berupa paten. Artinya, belum ada kepastian kapan produk ini benar-benar masuk jalur produksi.
Namun, paten biasanya menjadi gambaran arah pengembangan teknologi yang sedang dipikirkan perusahaan untuk masa depan.
Helm ini ditujukan untuk pengendara motor, ATV, snowmobile, hingga kendaraan off-road. Dengan fitur komunikasi mesh network, helm bisa dipakai dalam group ride untuk memantau jarak antar-pengendara dan menjaga koordinasi di jalur ekstrem.

Kelelahan adalah faktor besar dalam kecelakaan berkendara. Polaris ingin menghadirkan solusi dengan helm yang bisa:
- Mendeteksi gerakan kepala dan biometrik untuk menghitung tingkat kelelahan.
- Memberi peringatan otomatis jika pengendara dianggap kurang fokus.
- Mengurangi performa kendaraan bila peringatan diabaikan, demi keselamatan.
Meski begitu, sebagian rider berpengalaman mungkin merasa teknologi ini terlalu mengatur, karena mereka percaya bisa menilai kondisi tubuh sendiri.
Helm pintar Polaris bekerja dengan kombinasi sensor:
- Sensor gerakan kepala dan suspensi kendaraan untuk menghitung “Total Energy Imparted”.
- Sensor biometrik untuk memantau detak jantung dan kondisi fisik.
- Sistem komunikasi untuk menghubungkan pengendara dalam satu jaringan.
Fitur tambahan seperti visor anti-embun bertenaga nirkabel, modul elektronik opsional, hingga lampu helm yang bisa sinkron dengan kendaraan.
Jika pengendara tidak merespons peringatan, helm bisa mengirim sinyal ke kendaraan untuk membatasi kecepatan atau performa.
Jika benar diproduksi, helm ini bisa jadi alat keselamatan revolusioner bagi pengendara off-road atau touring jarak jauh.
Namun, tantangan terbesar adalah penerimaan konsumen: apakah mereka siap memakai helm yang bisa “memutuskan” kapan harus berhenti berkendara.