- Akio Toyoda menyatakan penolakannya terhadap peralihan penuh industri otomotif ke kendaraan listrik demi mempertahankan mesin pembakaran internal.
- Pernyataan Toyoda pada Kamis (25/6/2026) tersebut menuai kritik tajam karena dianggap menghambat kemajuan elektrifikasi global perusahaan Toyota.
- Adam Zuckerman menilai sikap Toyoda berisiko membahayakan masa depan perusahaan serta mendesak investor mengevaluasi kepemimpinan sang ketua.
Suara.com - Petinggi Toyota Akio Toyoda baru saja mengemukakan pendapat yang memicu kontroversi di tengah tren mobil listrik global. Dalam sebuah wawancara terbaru ia mengakui bahwa dirinya tidak ingin industri otomotif global sepenuhnya beralih ke teknologi baterai atau BEV.
Pernyataan Toyoda mengonfirmasi kecurigaan banyak pihak mengenai keengganan Toyota untuk meninggalkan mesin pembakaran internal.
“Semua orang beralih ke BEV, ini adalah ketakutan terbesar saya,” ujar Toyoda, dikutip Kamis (25/6/2026).
Ia menjelaskan bahwa beberapa tahun lalu ia menjadi satu-satunya pihak yang menyuarakan kecintaan pada aroma dan suara mesin konvensional demi menjaga lapangan kerja bagi para pemasok komponen mesin.
“Tapi sepertinya hanya aku yang merasa seperti ini. Aku merasa sangat kesepian,” tambahnya.
Pengakuan ini dinilai sangat kontras dengan arah kebijakan hampir semua raksasa otomotif dari Amerika hingga Korea yang telah menyepakati bahwa masa depan industri adalah kendaraan listrik.
Sikap Toyoda ini menuai kritik tajam dari Adam Zuckerman selaku juru bicara Kendaraan Bersih Public Citizen. Zuckerman menilai kecintaan emosional Toyoda pada mobil bensin dapat membahayakan Toyota yang didirikan oleh kakeknya sendiri.
![Presiden dan CEO Toyota Akio Toyoda saat presentasi prototipe "kota" masa depan di atas lahan seluas 175 hektar di kaki Gunung Fuji di Jepang, dan purwarupa Toyota e-Palette di pameran Consumer Electronics Show (CES) 2020 di Las Vegas , Nevada, Amerika Serikat (6/1/2020) [AFP/Robyn Beck].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2021/09/14/58362-akio-toyoda.jpg)
“Sungguh mengejutkan saat dia mengakui bahwa dia mungkin mempertaruhkan masa depan perusahaan kakeknya karena dia menyukai aroma bensin dan raungan mesin,” kata Zuckerman.
Ia bahkan menyarankan agar para investor mempertimbangkan posisi Toyoda karena cara pengambilan keputusan yang dianggap gagal mengantisipasi masa depan elektrifikasi.
Kritik tersebut bukan tanpa alasan karena Toyota dianggap sangat lambat dalam memperkenalkan model listrik yang kompetitif dibandingkan para pesaingnya. Meski perusahaan menggaungkan pendekatan berbagai jalur, kenyataannya model listrik Toyota saat ini dinilai masih memiliki banyak keterbatasan.
Zuckerman juga menyoroti posisi Toyoda yang kini dianggap bertindak sebagai CEO bayangan meskipun secara formal kepemimpinan sudah berganti. Ia menduga Toyoda masih berusaha memberikan pengaruh besar untuk membatalkan standar kendaraan global melalui upaya lobi pribadi di berbagai negara.
“Sebagai ketua, dia benar-benar menolak untuk melepaskan kendali. Dan dalam banyak hal, dia adalah CEO bayangan, masih memegang kekuasaan yang jauh lebih besar dan memberikan lebih banyak wawancara daripada CEO sebenarnya,” pungkas Zuckerman.