- Pemerintah Indonesia mulai mendistribusikan bahan bakar B50 ke seluruh SPBU secara bertahap mulai 1 Juli 2026.
- Kebijakan ini menetapkan masa transisi hingga 1 Oktober 2026 agar badan usaha menghabiskan stok B40 lama.
- Pengguna wajib melakukan perawatan rutin karena B50 bersifat pembersih yang berpotensi menyumbat filter bahan bakar kendaraan.
Suara.com - Pemerintah Indonesia resmi memulai langkah besar dalam kemandirian energi nasional.
Mulai besok, tepatnya (1/7/2026), Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Biodiesel 50 persen atau B50 mulai dijual secara bertahap di berbagai Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di seluruh tanah air.
Kebijakan mandatori ini menandai babak baru setelah sebelumnya masyarakat menggunakan B40. B50 sendiri merupakan campuran antara 50 persen biodiesel berbasis minyak nabati, dalam hal ini kelapa sawit, dengan 50 persen solar fosil.
Meskipun peluncuran resminya dimulai besok, masyarakat tidak perlu kaget jika masih menemukan stok lama di beberapa tempat.
Pemerintah telah menetapkan masa transisi selama tiga bulan, yakni hingga 1 Oktober 2026, agar badan usaha bisa menghabiskan sisa stok B40 sekaligus melakukan proses pencampuran atau blending yang sempurna.
Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa saat implementasi penuh nanti, kualitas bahan bakar yang sampai ke tangki kendaraan maupun genset masyarakat sudah sesuai standar yang ditetapkan.
Diklaim sudah teruji

Kehadiran B50 bukan muncul tiba-tiba tanpa persiapan matang. Proses pengujian teknis sudah dilakukan secara intensif sejak awal tahun 2025.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menjelaskan bahwa rangkaian uji coba ini melibatkan berbagai sektor krusial untuk menjamin keamanan operasional di lapangan.
Menurut Eniya dikutip dari situs resmi Kementerian ESDM April silam, pemerintah ingin memastikan tidak ada kendala teknis yang menghambat mobilitas masyarakat maupun aktivitas industri.
"Awal 2025 kita sudah melakukan uji teknis laboratorium dan sudah selesai di pertengahan tahun lalu. Lalu kita memang sudah melakukan kick off dan serentak uji di 6 sektor. Jadi otomotif, tambang, alat pertanian, kelautan, lalu pembangkit, satu lagi kereta. Nah itu serentak dilakukan mulai tanggal 9 Desember 2025," ungkap Eniya.
Uji jalan untuk kendaraan otomotif bahkan mencakup jarak tempuh hingga 50.000 kilometer guna melihat dampak jangka panjangnya terhadap mesin.
Mobil butuh perawatan ekstra
![Kementerian ESDM mengatakan pengujian BBM diesel B50 di alat berat berjalan sukses. [Dok Kementerian ESDM]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/07/80607-b50.jpg)
Lantas, muncul pertanyaan besar di kalangan pemilik mobil diesel dan pengguna genset: apakah kenaikan kadar biodiesel ini aman untuk mesin mereka?
Prof. Dr. Ir. Tulus Burhanuddin Sitorus, S.T., M.T., IPM, yang merupakan Dosen Teknik Mesin sekaligus Ketua Program Studi Magister dan Doktor Ilmu Teknik Mesin Universitas Sumatera Utara (USU), pernah memberikan tinjauan akademis yang terbut 25 Juni lalu.
Ia memaparkan bahwa ada banyak perbedaan perlakuan ke kendaraan yang perlu diperhatikan pengguna.
Secara umum, hasil uji menunjukkan bahwa B50 aman untuk sebagian besar parameter teknis, namun pengguna tetap harus waspada terhadap kondisi spesifik kendaraan masing-masing.
Prof. Tulus memberikan catatan bahwa populasi mesin diesel di Indonesia sangat beragam, mulai dari teknologi lama hingga mesin modern dengan sistem injeksi yang sensitif. Beliau menekankan pentingnya perawatan rutin agar performa tetap terjaga.
"B50 aman sepanjang memenuhi spesifikasi, didistribusikan dengan benar, dan digunakan pada mesin yang dirawat sesuai standar," ungkapnya dikutip dari situs resmi USU.
Ia menambahkan bahwa risiko terbesar sebenarnya bukan terletak pada kandungan B50 itu sendiri, melainkan pada kondisi internal sistem bahan bakar pengguna, seperti tangki yang kotor, filter yang sudah lama tidak diganti, atau penggunaan selang karet yang tidak kompatibel dengan biodiesel tinggi.
Salah satu fakta teknis yang perlu dipahami pengguna adalah sifat biodiesel yang memiliki efek detergen atau pembersih.
Artinya, saat pertama kali beralih ke B50, bahan bakar ini akan melarutkan deposit atau kotoran lama yang mengendap di dinding tangki bahan bakar.
Akibatnya, kotoran tersebut akan mengalir dan berpotensi menyumbat filter bahan bakar lebih cepat dari biasanya.
Oleh karena itu, para ahli menyarankan pemilik kendaraan untuk menyiapkan filter cadangan dan memeriksanya lebih sering selama masa awal transisi.
Lebih boros

Selain masalah filter, pengguna juga harus bersiap dengan sedikit perubahan pada konsumsi bahan bakar. Secara ilmiah, biodiesel memiliki nilai kalor yang sedikit lebih rendah dibandingkan solar fosil murni.
Data pengujian menunjukkan adanya kenaikan konsumsi bahan bakar sekitar 1 hingga 3 persen jika dibandingkan dengan penggunaan B40.
Meski terasa sedikit lebih boros dalam hitungan liter per kilometer, angka ini dianggap masih dalam batas wajar dan terkompensasi oleh manfaat lingkungan serta kemandirian ekonomi nasional.
“Dari sisi liter per kilometer atau liter per jam, B50 cenderung sedikit lebih boros, bukan lebih irit,” ujar Prof. Tulus.
Pengguna genset wajib perhatikan penyimpanan BBM
![Shark Generator SDP 1400 1KW. [Shopee]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/24/15720-shark-generator-sdp-1400-1kw.jpg)
Bagi pemilik genset yang sering menyimpan solar dalam waktu lama sebagai cadangan, ada catatan khusus mengenai sifat higroskopis biodiesel yang lebih mudah menyerap air dibandingkan solar fosil.
Penyimpanan B50 dalam jangka panjang tanpa adanya rotasi stok berisiko menyebabkan degradasi oksidatif, kenaikan keasaman, hingga pertumbuhan mikroba di dalam tangki.
Prof. Tulus menyarankan agar tangki penyimpanan tetap bersih, kering, dan tertutup rapat, serta menerapkan prinsip First-In First-Out (FIFO) agar bahan bakar tidak mengendap terlalu lama dan basi.
"Istilah 'basi' dalam konteks ilmiah lebih tepat disebut degradasi oksidatif, pembentukan sedimen, kenaikan keasaman, atau kontaminasi air-mikroba," jelas Prof. Tulus.