- Presiden Prabowo Subianto menegaskan rencana memproduksi bensin dari batu bara di Indonesia demi mencapai kemandirian energi nasional.
- PERHAPI menyatakan teknologi pengolahan batu bara sudah teruji global, namun terkendala biaya investasi awal yang sangat mahal.
- Riset ABC News menunjukkan bahwa penggunaan bensin berbahan batu bara dapat meningkatkan emisi gas rumah kaca hingga 80 persen.
Suara.com - Rencana memproduksi bensin dari batu bara kembali mencuat usai ditegaskan oleh Presiden Prabowo Subianto.
Meski teknologinya sudah teruji di negara seperti Afrika Selatan dan Tiongkok, para pakar mengingatkan tingginya biaya investasi awal serta lonjakan emisi gas rumah kaca hingga 80 persen dibanding bensin biasa.
Kata Prabowo Soal Bensin dari Batubara
Pemerintah Indonesia tergiur memanfaatkan cadangan batu bara yang melimpah untuk menekan impor bahan bakar minyak (BBM).
Kesuksesan program B50 yang diklaim mampu menghentikan impor solar sejak 1 Juli 2026 membuat Presiden Prabowo Subianto optimistis melangkah ke tahap berikutnya.
Saat menghadiri Syukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Jawa Timur, Presiden Prabowo menegaskan rencana pemanfaatan batu bara menjadi bensin.
Ia mengapresiasi inovasi para akademisi perguruan tinggi dalam negeri yang dinilai sanggup mengolah sumber daya alam domestik menjadi energi mandiri demi menghadapi ketidakpastian geopolitik global.
![Ilustrasi batubara. [Pixabay]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/02/20/55822-ilustrasi-batubara.jpg)
Reaksi Pakar Soal Bensin Batubara
Gagasan besar ini direspons hati-hati oleh kalangan ahli pertambangan.
Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI), Sudirman Widhy, membenarkan bahwa secara teknis pengolahan batu bara menjadi bensin (coal-to-liquid atau CTL) sangat memungkinkan untuk diterapkan.
Dikutip dari situs resmi PERHAPI, Sudirman menekankan bahwa batu ganjalan utama proyek ini berada pada aspek keekonomian, bukan teknologi.
Proyek CTL membutuhkan biaya modal (capital expenditure) dan operasional yang sangat raksasa sehingga berisiko tinggi bagi investor swasta.
Kegagalan keekonomian ini sebelumnya terbukti dari mundurnya perusahaan asal Amerika Serikat, Air Products, dari proyek Dimethyl Ether (DME) batu bara di Indonesia.

Realistis atau Halu?
Secara rekayasa industri, pengolahan batu bara menjadi bahan bakar cair bukanlah halusinasi belaka karena teknologinya telah terbukti secara global.
Pengembang teknologi asal Amerika Serikat, TransGas Development Systems, menjadi salah satu pihak yang berhasil mengembangkan proses Clean Coal to Gasoline (CCTG).
TransGas secara tegas menyatakan dalam dokumen resminya:
"Desain pabrik acuan TransGas mengubah batu bara dan air menjadi bensin dan gas cair LPG menggunakan teknologi teruji dalam kombinasi unik yang memenuhi standar ketat Udara Bersih AS".
TransGas menambahkan bahwa konversi langsung gas sintesis tanpa proses kilang tambahan sanggup menekan biaya konstruksi dan mengeliminasi polusi udara beracun.
Dampak Bensin Batubara

Meskipun menjanjikan kemandirian energi, bensin berbahan batu bara menyimpan ancaman serius bagi kelestarian lingkungan.
Laporan riset yang dipublikasikan ABC News (ABC Science Archive) menyoroti tingginya potensi emisi karbon yang dihasilkan dari BBM cair berbasis batu bara.
Mengutip laporan Union of Concerned Scientists via ABC News, tercatat penegasan bahwa:
"Batu bara cair, sebagai contoh, dapat menghasilkan polusi pemanasan global 80 persen lebih banyak daripada bensin biasa".
Penggunaan BBM batu bara secara masif dikhawatirkan memicu lonjakan emisi gas rumah kaca yang sangat signifikan.
Afrika Selatan dan Mongolia Jadi Bukti
![Pemangkasan kuota produksi batubara memicu gelombang PHK di sektor pertambangan. [Antara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/05/50691-batubara.jpg)
Pengolahan batu bara menjadi bahan bakar cair pada dasarnya telah dioperasikan di beberapa negara, seperti perusahaan Sasol di Afrika Selatan serta basis konversi batu bara di Mongolia Dalam, Tiongkok.
Di Indonesia, gasifikasi batu bara dilakukan melalui konversi menjadi gas sintesis (syngas), lalu diubah menjadi metanol, hingga akhirnya diproses menjadi bensin.
Untuk mengatasi hambatan pembiayaan yang sangat besar di Indonesia, PERHAPI menyarankan keterlibatan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.
Lembaga ini dapat menggandeng BUMN seperti PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan PT Pertamina (Persero) untuk membiayai proyek percontohan awal guna menguji kelayakan komersialnya.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Q: Apakah bensin dari batu bara realistis secara teknologi?
A: Ya, secara teknologi sangat realistis dan sudah diterapkan di Afrika Selatan oleh Sasol serta di Tiongkok.
Q: Apa tantangan terbesar pengembangan bensin batu bara di Indonesia?
A: Tantangan terbesarnya adalah aspek keekonomian karena membutuhkan investasi awal dan biaya operasional yang sangat mahal.
Q: Berapa emisi yang dihasilkan oleh bensin batu bara?
A: Laporan ABC News mencatat bensin batu bara menghasilkan emisi pemanasan global hingga 80 persen lebih tinggi dibanding bensin biasa.