Ini Hasil Mencengangkan Penelitian LGBT di Sumbar

Ini Hasil Mencengangkan Penelitian LGBT di Sumbar

PADANG, KLIKPOSITIF -- Hasil dari penelitian tentang jumlah dan perilaku Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) di Sumbar telah selesai dilakukan. Hasilya sangat mencengangkan, karena diperkirakan terdapat 14.469 orang pelaku hubungan Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL) atau gay di Sumbar.

Sementara itu, riset juga mengungkap terdapat kurang lebih 2.501 orang waria di Sumatra Barat. Dari angka tersebut, waria di Sumbar bisa menggaet 9.024 orang pelanggan, yang tentunya berjenis kelamin laki-laki.

Hal ini terungkap dalam Forum Group Diskusi (FGD) tentang hasil penelitian studi pemetaan prilaku LGBT Sumbar. Penelitian berlangsung sejak Februari-April 2018 ini menggabungkan data kualitatif dan kuantitatif. Dalam penelitian ini Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menggandeng Perhimpunan Konselor VCT HIV sebagai pihak yang memahami kondisi di lapangan. 

"Kalau digabungkan semuanya bisa total 20 ribu pelaku LSL di Sumbar, estimasi di Sumbar," jelas Ketua Perhimpunan Konselor VCT HIV Indonesia Wilayah Sumatera Barat Katherina Welong, Senin (23/4) di Auditorium Gubernuran Sumbar.

Katherina mengungkapkan, penelitian diambil di 4 titik di Sumbar yakni Kota Padang, Kota Bukittinggi, Kota Solok, dan Kabupaten Solok. Responden penelitian ini berjumlah 147 orang yang memang diambil dari kelompok berisiko dan memang seluruhnya berperilaku LGBT.

Salah satu peneliti, Akfikri, kemudian melanjutkan pembacaan hasil riset. Dilihat dari distribusi usia, pelaku LGBT paling banyak di Sumbar berusia 15-25 tahun, porsinya bahkan 75 persen dari 147 responden yang diteliti. Soal pendapatan, pendapatan tertinggi yang diperoleh responden berkisar antara Rp 1-3 juta per bulan.

Riset juga menunjukkan, separuh responden pernah merantau ke luar Sumbar, sementara separuh lagi belum pernah merantau alias menetap di Sumbar. Dari 147 responden, hanya 15 orang yang mengaku pernah mengonsumsi narkoba. Kemudian bila dari agama responden, yang diyakini menggambarkan kondisi secara umum kasus LGBT di Sumbar, sebanyak 95,9 persen pelaku beragama Islam.

Fakta angka selanjutnya, 43 persen pelaku LGBT masih tinggal dengan orang tuanya. Di peringkat kedua, pelaku LGBT mengaku tinggal di indekos. Dari riset ini juga terungkap bahwa 51,7 persen responden mengaku menyesali penyimpangan seksual yang dialami, sementara 46,9 persen tidak menyesal. Mayoritas pelaku LGBT juga memilih berkelompok dalam melakukan sosialisasi antarpelaku LGBT.

"Kondisinya berbeda dengan beberapa tahun lalu. Kalau dulu tinggal datang ke pantai padang dan pub-pub tertentu. Sekarang tidak. Mereka lebih berkelompok dan lebih silent. Kalau dulu, program HIV/AIDS disalurkan melalui komunitas ini. Saat ini sebaliknya, mereka takut diketahui statusnya," jelas Alfikri.

Riset ini juga mencoba menggali sebaran profesi pelaku LGBT. Sebanyak 26,3 persen dari responden bekerja sebagai wiraswasta, 3,8 persen sebagai PNS, 16,9 persen sebagai karyawan BUMN dan swasta,dam 18,1 persen mahasiswa dari berbagai kampus dan jurusan, termasuk jurusan yang berkaitan dengan agama.

Sementara aktivitas seksual, paling banyak dilakukan di indekos yakni 51,8 persen responden, 20,1 persen dilakukan di hotel, dan 15,6 persen dilakukan di rumah orang tua.

Lantas bagaimana perilaku LGBT bisa muncul pertama kali? Sebanyak 14 persen responden mengaku memiliki riwayat disakiti dan dikecewakan oleh lawan jenis. Sementara 13,8 persen pelaku mengaku terpengaruh lingkungan komunitas LGBT, 12,9 persen dirayu oleh pelaku LGBT, dan 8,2 persen pernah disodomi waktu kecil.

"Artinya menjaga anak laki-laki sekarang sama sulitnya dengan menjaga anak perempuan. Ada juga 5,5 persen responden yang mengaku dididik tidak sesuai dengan gender, misalnya memberi boneka pada laki-laku," kata Alfikri.

Dalam bergaul, sebanyak 58,7 persen responden mendapat pasangannya dari media sosial dan 21,7 persen menemukan pasangan dari komunitas. Bila dirinci lagi, Facebook merupakan media sosial paling banyak digunakan bagi pelaku LGBT untuk 'bergaul' yang sebesar 41,8 persen. Menyusul Whatsapp 18,9 persen, Twitter 6,6 persen, Wechat 18,9 persen, dan media sosial lainnya 13,8 persen.

"Harus ada antisipasi terkait hal ini karena menyangkut pengawasan orang tua," katanya.

Sementara itu, Gubernur Sumbar Irwan Prayitno menjelaskan bahwa kunci dari perlawanan terhadap perilaku LGBT adalah pendidikan di lingkungan keluarga yang mencukupi. Apalagi kasus LGBT di Sumbar justru terjadi di daerah yang kental dengan budaya dan agama Islam, dan keras menolak perilaku LGBT.

"Kalau dilihat, persoalan pertama yang harus dibenahi adalah masalah keluarga. Intinya adalah soal pembinaan, pendidikan di rumah.Peran keluarga terbesar sebagai sumber utama kemunculan perilaku LGBT ini," kata Irwan.

Irwan sendiri berancana menyusun Peraturan Daerah (Perda) yang secara khusus bisa mendorong para orang tua untuk meningkatkan pendidikan agama di lingkungan rumah, dan memberikan kasih sayang yang cukup kepada anak-anaknya. Irwan juga meminta keterlibatan alim ulama dalam menggencarkan pendidikan agama, termasuk juga guru untuk memastikan pergaulan anak didiknya di sekolah tetap terjaga.

[Joni Abdul Kasir]

Terkini