SUARA PONOROGO - Dalam menghadapi permasalahan serius pencemaran sungai akibat pembuangan kotoran hewan sapi, sebuah sekolah swasta di Desa Tambang, Kecamatan Pudak, Ponorogo, Jawa Timur, berinisiatif menciptakan solusi yang inovatif.
Sekolah tersebut telah mendirikan sebuah fasilitas pengolahan kotoran sapi menjadi pupuk organik, sebagai langkah untuk mengurangi dampak pencemaran sungai yang semakin memprihatinkan.
Upaya ini dilakukan untuk membantu warga yang kesulitan membuang kotoran sapi yang selama ini hanya dibuang ke sungai dengan volume mencapai 100 ton perhari
Wahyu Setiono, seorang siswa SMK 1 Pemda Ponorogo yang juga peternak sapi, mengungkapkan
"Membuang limbah di sungai itu sudah biasa mas. Karena tidak ada tempatnya untuk membuang limbah” ungkapnya
Menurut data dari pihak sekolah, saat ini terdapat sekitar 10.000 ekor sapi di Kecamatan Pudak, yang setiap hari menghasilkan rata-rata 130 ton kotoran sapi.
Sayangnya, 70 persennya masih dibuang ke sungai. Namun, dengan fasilitas pengolahan yang telah didirikan, sekolah ini mampu mengolah sekitar 1 hingga 3 ton kotoran sapi menjadi pupuk organik setiap harinya.
Imam Subaweh, Ketua Yayasan SMK 1 Pemda Ponorogo, menjelaskan dampak serius dari pembuangan limbah ke sungai.
"Memang limbah dibuang ke sungai, di sungai sehingga sampai bermuara di bendungan sana sehingga menimbulkan naiknya humus kolam mengakibatkan naiknya biogas yang akan menyebabkan habitat air bisa mati semuanya" ungkap Imam.
Meskipun langkah ini belum dapat mengatasi seluruh masalah pencemaran sungai, namun setidaknya inisiatif ini dapat mengurangi tingkat pencemaran dan membantu menjaga ekosistem sungai yang semakin terancam.
Pupuk organik yang dihasilkan dari kotoran sapi ini juga dijual dengan harga yang terjangkau, yaitu 35 ribu rupiah per zak berisi 25 kg, dan beberapa di antaranya diberikan kepada peternak sapi setempat sebagai bentuk dukungan terhadap solusi yang dijalankan oleh sekolah tersebut.