Poptren.suara.com - Bagi sebagian pasangan, seks oral adalah rangsangan pada alat kelamin dengan menggunakan mulut dan lidah yang kerap dilakukan sebagai foreplay sebelum melakukan hubungan seksual.
Sayangnya, ini adalah salah satu cara penularan infeksi menular seksual (IMS) yang paling sering terjadi. Laman kesehatan NHS bahkan menjelaskan bahwa IMS bisa metular meski kamu hanya memiliki satu pasangan seksual saja. Dan jika banyak pasangan, risikonya tentu bisa lebih besar dan berbahaya.
Bahkan dari laporan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control/CDC)--mengutip laman WebMD--menunjukkan bahwa sebagian besar kasus sifilis terjadi melalui oral seks.
Sifilis adalah penyakit menular seksual, dan dapat ditularkan melalui seks oral. Infeksi bakteri yang ditimbulkannya dapat menyebabkan masalah serius.
Disebut sebagai 'peniru ulung', sifilis dapat menyebabkan masalah mulai dari luka yang tidak menimbulkan rasa sakit, terjadi pada alat kelamin, bibir, atau mulut, atau ruam pada tahap akhir infeksi.
Jika tidak diobati, sifilis pada akhirnya dapat menyebabkan masalah pada pembuluh darah atau jantung, serta gangguan mental, kebutaan, masalah sistem saraf, dan bahkan kematian.
Sifilis juga dapat menjadi pintu gerbang penularan HIV. Lesi sifilis di sekitar mulut meningkatkan risiko penularan HIV, dan sifilis.
"Juga dapat meningkatkan perkembangan penyakit HIV," tulis CDC dalam sebuah laporan yang diterbitkan Morbidity and Mortality.
Sebuah penelitian terbaru dari Departemen Kesehatan Masyarakat Chicago, AS, menunjukkan bahwa sifilis lebih sering terjadi, bahkan dari yang diperkirakan orang. Dari tahun 1998-2002 misalnya, kota Chicago memiliki total 1.528 kasus sifilis primer dan sekunder. Jumlah ini lebih banyak dari kota lain di AS.
Baca Juga: Studi Menyebut Berhubungan Seks Terbaik Adalah di Pagi Hari
Selama media 1990-an, sebagian besar kasus tersebut dilaporkan di kalangan heteroseksual. Namun sejak tahun 2001, pria yang berhubungan seks dengan pria (homo/gay) telah menyumbang hampir 60% dari kasus sifilis primer dan sekunder di kota itu. Demikian hasil temuan CDC.
Gunakan kondom saat oral seks
![Ilustrasi [[PB] PRINCESS.Flickr]](https://media.suara.com/suara-partners/poptren/thumbs/1200x675/2023/03/08/1-51818076616-c7d1f212b8-c.jpg)
Untuk mengetahui penyebabnya, para pejabat dari Departemen Kesehatan Masyarakat Chicago mewawancarai para penderita sifilis. Secara keseluruhan, hampir 14% dari peserta yang disurvei mengatakan bahwa mereka hanya melakukan oral seks selama rentang waktu tertentu.
Di antara pasien sifilis pria dengan pasangan seks pria, 20% mengatakan bahwa oral seks adalah satu-satunya paparan seksual mereka selama periode penularan.
Sebaliknya, 6% pasien sifilis pria heteroseksual dan 7% wanita heteroseksual yang terinfeksi sifilis mengatakan bahwa mereka terinfeksi usai melakukan oral seks.
Banyak orang mengira bahwa oral seks adalah seks yang "aman" dan tidak memerlukan kondom. Namun, CDC mengatakan bahwa itu adalah keyakinan yang salah kaprah.
"Orang yang tidak berada dalam hubungan monogami jangka panjang dan yang melakukan oral seks harus menggunakan perlindungan penghalang (misalnya, kondom untuk pria/wanita atau metode penghalang lainnya) untuk mengurangi risiko penyakit menular seksual dan penularan HIV," tulis CDC.