Jakarta Dance Meet Up Jadi Wadah untuk Komunitas Tari Jakarta

Fabiola Febrinastri | Dian Kusumo Hapsari
Jakarta Dance Meet Up Jadi Wadah untuk Komunitas Tari Jakarta
Jakarta Dance Meet Up. (Dok : Media Partner)

JDMU tahun ini lebih lama dari tahun sebelumnya, yaitu berlangsung 3 malam.

Suara.com - Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta kembali menggelar acara Jakarta Dance Meet Up (JDMU), pada 23 - 25 Agustus 2019, pukul 15.30 - 22.00 WIB, di Gedung Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat.

Durasi JDMU tahun ini lebih lama dari tahun sebelumnya, yaitu berlangsung 3 malam, dan menghadirkan lebih banyak komunitas tari. Sebanyak 16 grup atau komunitas akan tampil di sini.

JDMU kali ini juga multievents, terdapat banyak agenda lain. Selain menggelar pertunjukan tari, tahun ini juga menghadirkan Pameran Foto dan Sesi Diskusi. Satu hal yang sama, JDMU tetap terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya.

Jakarta Dance Meet Up tahun ini menampilkan DMP Project, Bahasa Dance Project, Ballet Sumber Cipta/ Kreativitat Dance - Indonesia, Mudamove, KIG Dance Community UPI Bandung, Jakarta Dance Art Education ‘17, Lentera Fannani Dance, UKM Unit Seni Budaya Trisakti, Indonesia Dance Company, Noken Lab, Swargaloka, Bidar Dance Community, Citra Istana Budaya, Last Team, EKI On Call, dan Daun Gatal.

Jakarta Dance Meet Up. (Dok : Media Partner)
Jakarta Dance Meet Up. (Dok : Media Partner)

Pameran foto menyajikan sejumlah karya foto dokumentasi milik DKJ dalam merekam JDMU sejak pertama kali diselenggarakan, pada 2017. Pameran yang dikuratori Firman Ichsan ini bertempat di Lobby Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzkui (GBB-TIM).

Sedangkan sesi diskusi diselenggarakan tiap hari, pada pukul 15.30 WIB. Pada hari pertama, diskusi menggelar tema “Komunitas Tari sebagai Sekolah Alternatif” dengan pembicara Rury Nostalgia dan Aiko Senosoenoto.

Hari kedua, diskusi “Fotografi Tari” dengan pembicara Firman Ichsan dan Rusdy Rukmarata. Kemudian di hari terakhir, diskusi dengan tema “Perempuan, Seni dan Kodrat” dengan narasumber Amna Kusumo, Ajeng Soelaeman, dan Alisa Soelaeman.

Selain itu, dalam JDMU kali ini juga diluncurkan buku UNBOXING TARI yang merangkum dan mencatat program Komite Tari DKJ sebelumnya yang membahas secara khusus tentang Makna Politis dari Ruang dan Makna Politis dari Tubuh. Dari 3 Hari pertunjukan, penonton senantiasa antusias hingga lebih dari 2500 penonnton ikut menyaksikan JDMU selama pergelaran ini betlangsung

"Tingginya animo penonton bisa jadi alat ukur keberhasilan. Belum lagi interaksi dan jaringan yang terbentuk dengan sendirinya selama JDMU berlangsung, " kata Yola, anggota DKJ Komite Tari.

"Pertunjukan ini sangat beragam, dari yang tradisi, modern, balet atau kontemporer, semua Ada. Hal ini baik buat pertumbuhan komunitas ke depan " kata salah seorang penonton.

Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) merupakan sebuah lembaga yang dibentuk oleh masyarakat seniman, dan telah dikukuhkan oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin pada 7 Juni 1968. DKJ mempunyai enam bidang komite, yaitu Seni Rupa, Film, Sastra, Teater, Musik, dan Tari. Tujuan dari DKJ adalah sebagai mitra kerja gubernur untuk merumuskan kebijakan, serta merencanakan berbagai program guna mendukung kegiatan dan pengembangan kehidupan kesenian di wilayah Jakarta.

Adapun peran Komite Tari DKJ adalah memfasilitasi dan merangkul komunitas tari di Jakarta.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS