facebook

Stereotip Gender Tak Lagi Jadi Kendala dalam Sains dan Teknologi

Vania Rossa
Stereotip Gender Tak Lagi Jadi Kendala dalam Sains dan Teknologi
Perempuan dalam Sains dan Teknologi. (Dok. Sinarmas World Academy)

Kini semakin banyak perempuan tertarik pada sains dan teknologi.

Suara.com - Sains, teknologi, teknik, dan matematika atau yang disingkat STEM, selama ini sangat lekat dengan lelaki. Penelitian dunia menunjukkan bahwa STEM masih didominasi oleh lelaki, dan hanya ada 10 - 28% perempuan di sektor ini.

Menurut UNESCO, hal ini disebabkan terlalu banyak perempuan yang ditahan oleh bias, norma sosial, dan ekspektasi, sehingga mempengaruhi kualitas pendidikan dan mata pelajaran yang mereka pelajari. Dan untuk mempersempit kesenjangan gender dalam sains dan teknologi ini, kita perlu menghancurkan stereotip yang ada.

Kyra, siswi kelas 11 sekolah Sinarmas World Academy (SWA), yang berhasil memenangkan medali emas dalam ajang kompetisi internasional matematika IB Mathematics Competition TI-Nspire 2020, mengakui meski di era modern ini perempuan telah melangkah maju dan meninggalkan persepsi kuno tentang ketidaksesuaian perempuan di sektor STEM, namun dampak dari stereotip yang dipraktikkan selama berabad-abad masih terasa.

“Saya beruntung berada di lingkungan yang selalu mendukung perempuan berkarya dan berprestasi dalam STEM, tapi tidak semua seberuntung saya. Untuk meningkatkan partisipasi perempuan di STEM, kita harus mengakui bahwa masalah stereotip ini memang ada. Kita juga harus mendorong para anak perempuan untuk lebih tertarik pada STEM, karena dengan begitu akan memberikan mereka pilihan untuk mengejar STEM di masa depan,” katanya melalui rilis yang diterima Suara.com.

Callista, siswi kelas 11 yang juga menjadi pemenang medali emas dalam ajang kompetisi internasional matematika IB Mathematics Competition TI-Nspire 2020, mengajak para orangtua untuk mengenalkan matematika kepada anak sejak usia dini.

“Saya terbiasa melihat buku matematika yang penuh dengan simbol, hal ini membuat saya tertarik pada matematika,” akunya.

Bermula dari ketertarikan ini, Callista semakin menyadari bahwa matematika bukan hanya angka, penjumlahan, dan pengurangan dan merupakan konsep yang menarik untuk dijelajahi.

“Pada awalnya, matematika merupakan sebuah bahasa, yang merupakan alat untuk pemahaman dan komunikasi global karena dapat diterapkan di banyak bidang dan dapat dipahami oleh siapa saja bahkan jika ada hambatan komunikasi lain,” katanya mengakui bahwa konsep inilah yang membuat ia tertarik mengeksplorasi matematika lebih dalam lagi.

Elma, salah satu guru matematika perempuan di SWA, mengakui bahwa stereotip berperan penting dalam kesenjangan gender di STEM.

“Ini bukan tentang anak perempuan yang kurang mampu dalam matematika daripada anak laki-laki. Dalam banyak kasus, anak perempuan tidak memiliki cukup minat untuk terus mencoba. Masyarakat secara tidak sadar mendefinisikan apa yang seharusnya seorang anak perempuan kuasai. Dan untuk mematahkan stereotip ini, masyarakat harus bekerja sama untuk membuka peluang agar anak perempuan diberikan kesempatan yang sama untuk mengeksplorasi, menemukan diri mereka dan berprestasi dalam definisi mereka sendiri di STEM ini,” ujar Elma.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS