Analisis Fill The Nutrient Gap: Makanan Bergizi Masih Belum Terjangkau Banyak Orang

Fabiola Febrinastri, Restu Fadilah

Rabu, 01 Desember 2021 | 18:42 WIB
Analisis Fill The Nutrient Gap: Makanan Bergizi Masih Belum Terjangkau Banyak Orang
Ilustrasi makanan bergizi. (Envato)

Suara.com - Meskipun Indonesia terus membuat kemajuan dalam komitmennya untuk mengakhiri segala bentuk malnutrisi, sebuah analisis baru mengungkapkan bahwa makanan bergizi masih belum terjangkau oleh banyak orang. Selain itu, analisis ini juga memberikan kerangka aksi untuk memastikan bahwa makanan sehat yang beragam dapat diakses oleh semua orang Indonesia.

Walaupun terdapat kemajuan dalam penanggulangan stunting, saat ini Indonesia masih menghadapi tiga beban malnutrisi: kurang gizi, kekurangan zat gizi mikro, dan kelebihan berat badan dan obesitas. Kualitas diet yang rendah merupakan faktor umum yang mendasari semua bentuk malnutrisi.

Hasil analisis Fill the Nutrient Gap (FNG) yang baru saja dirilis menunjukkan bahwa setidaknya satu dari delapan orang Indonesia tidak mampu membeli makanan yang memenuhi kebutuhan gizi mereka. Di provinsi-provinsi seperti Nusa Tenggara Timur, Papua Barat, Maluku dan Maluku Utara, makanan bergizi tidak terjangkau oleh lebih dari sepertiga hingga setengah dari populasi. Situasi ini tidak hanya didorong oleh kurangnya pendapatan di antara sebagian besar rumah tangga, tetapi juga oleh tingginya harga pangan di wilayah tersebut. Analisis FNG menemukan bahwa makanan beragam yang terdiri atas sayur-sayuran, buah-buahan, dan sumber protein yang memenuhi kebutuhan gizi makro dan mikro keluarga hampir tiga kali lipat lebih mahal dibandingkan makanan pokok yang hanya memenuhi kebutuhan energi.

Analisis FNG dilakukan oleh World Food Programme, bersama Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas dan Kementerian Kesehatan Indonesia. Hasil analisis FNG diluncurkan pada acara nasional secara daring pada 23 November 2021yang dihadiri oleh perwakilan pemerintah, akademisi, mitra pembangunan, donor, dan asosiasi gizi nasional.

Deputi Menteri Kemaritiman dan Sumber Daya Alam, Deputi Menteri Kependudukan dan Ketenagakerjaan, serta perwakilan Deputi Pembangunan Manusia, Masyarakat, dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas menyambut baik hasil analisis FNG sebagai basis bukti program gizi dan pangan di Indonesia.

“Analisis FNG akan digunakan sebagai referensi utama bagi Bappenas untuk menentukan konsensus, sinergi dan upaya bersama dalam prioritasasi kebijakan dan intervensi peningkatan pangan dan gizi di Indonesia," Ir R Anang Noegroho, S.M., MEM – Direktur Pangan dan Pertanian, Kementerian PPN/Bappenas.

Melalui analisis FNG yang dilakukan dari September 2020 hingga November 2021, para pemangku kepentingan di tingkat nasional telah mengidentifikasi aksi prioritas untuk mendukung pencapaian Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dalam bidang pangan, kesehatan, dan gizi.

“Membuat makanan bergizi menjadi terjangkau oleh semua rumah tangga membutuhkan aksi dari berbagai sistem termasuk kesehatan, pangan dan pertanian, serta perlindungan sosial. Peluncuran analisis FNG ini diharapkan dapat membantu memanfaatkan peluang dan memperluas kolaborasi strategis di antara para pemangku kepentingan di Indonesia untuk meningkatkan ketersediaan, aksesibilitas, dan keterjangkauan makanan bergizi untuk mencegah malnutrisi,” ucap Christa Raeder, Perwakilan WFP untuk Indonesia.

Beberapa temuan analisis FNG:

baca juga

1. Harga terendah dari makanan yang memenuhi kebutuhan gizi adalah Rp 8,532 per kapita per hari. Makanan bergizi yang beragam harganya rata-rata 2,5 kali lebih mahal daripada makanan pokok yang hanya memenuhi kebutuhan energi.

2. Ada variasi yang besar dalam keterjangkauan makanan bergizi di tingkat daerah. Di beberapa wilayah, seperti Nusa Tenggara Timur, Papua Barat, Maluku dan Maluku Utara, lebih dari tiga puluh hingga lima puluh persen populasi tidak mampu membeli makanan bergizi, berdasarkan data tahun 2019 (SUSENAS).

3. Dampak dari pandemi COVID-19 yang sedang berlangsung terus memperburuk kondisi kerentanan. Rumah tangga berpenghasilan rendah telah terpengaruh secara tidak proporsional, dengan lebih banyak rumah tangga jatuh ke dalam kemiskinan dan makanan bergizi semakin menjadi tidak terjangkau.

4. Remaja perempuan, serta ibu hamil dan menyusui adalah anggota rumah tangga yang paling rentan. Mereka membutuhkan zat gizi yang lebih tinggi, dengan harga mahal yang diperoleh dari makanan lokal yang tersedia. Intervensi dalam bidang kesehatan yang ditargetkan secara khusus, seperti suplementasi dan fortifikasi zat gizi mikro dapat mengurangi beban pemenuhan kebutuhan gizi mereka.

5. Bagi anak di bawah dua tahun, pemberian ASI yang kurang optimal, keragaman makanan yang rendah, dan tingginya konsumsi makanan ringan yang tidak sehat meningkatkan biaya makanan bergizi mereka. Pengurangan konsumsi jajanan tidak sehat, peningkatan distribusi bubuk vitamin dan mineral (Taburia), dan promosi pemberian ASI serta makanan pendamping ASI yang beragam bisa menjadi solusi.

6. Program perlindingan sosial meningkatkan keterjangkauan rumah tangga terhadap makanan bergizi serta melindungi populasi yang paling rentan. Namun, perlindungan sosial yang diterima haruslah cukup untuk memenuhi harga makanan bergizi dan dilengkapi dengan edukasi gizi, untuk meningkatkan permintaan dan konsumsi makanan bergizi.

7. Sistem pertanian memiliki potensi yang kuat untuk menyediakan makanan bergizi yang terjangkau bagi semua rumah tangga. Meskipun demikian, hal ini membutuhkan transformasi pertanian yang didorong oleh kebijakan yang menyelaraskan insentif dengan capaian gizi, yang dicapai dengan mempromosikan dan mendukung produksi pertanian yang beragam. Selain itu, makanan yang difortifikasi, termasuk beras, sebaiknya tersedia dan dihubungkan dengan program perlindungan sosial.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Untuk Pulihkan Kondisi Anak Malnutrisi, Ilmuwan Buat Suplemen Baru

Untuk Pulihkan Kondisi Anak Malnutrisi, Ilmuwan Buat Suplemen Baru

Health | Jum'at, 23 April 2021 | 14:18 WIB

Minim Asupan Gizi, Pasien Kanker Kerap Alami Malnutrisi

Minim Asupan Gizi, Pasien Kanker Kerap Alami Malnutrisi

Health | Senin, 29 Maret 2021 | 16:13 WIB

Selain Alpukat, Berikut 5 Superfood yang Sangat Bagus Dikonsumsi Bayi!

Selain Alpukat, Berikut 5 Superfood yang Sangat Bagus Dikonsumsi Bayi!

Health | Jum'at, 26 Maret 2021 | 06:00 WIB

Kejar Target Indonesia Emas 2045, Sajian Bumbu Bernutrisi Bisa Jadi Pilihan

Kejar Target Indonesia Emas 2045, Sajian Bumbu Bernutrisi Bisa Jadi Pilihan

Press Release | Rabu, 24 Maret 2021 | 18:32 WIB

Catat, Beragam Ciri-ciri Lansia Mengalami Kekurangan Gizi

Catat, Beragam Ciri-ciri Lansia Mengalami Kekurangan Gizi

Health | Minggu, 07 Maret 2021 | 17:10 WIB

Pasien Kanker Rentan Alami Malnutrisi, Dokter Jelaskan Faktor Penyebabnya

Pasien Kanker Rentan Alami Malnutrisi, Dokter Jelaskan Faktor Penyebabnya

Health | Kamis, 25 Februari 2021 | 17:53 WIB

Terkini

KPAI Desak Polisi Ungkap Kasus Balita Tewas Jatuh dari Balkon Hotel di Samarinda

KPAI Desak Polisi Ungkap Kasus Balita Tewas Jatuh dari Balkon Hotel di Samarinda

Kaltim | Selasa, 20 Oktober 2026 | 07:11 WIB

Beban Regulasi Operator Capai 14 Persen Pendapatan, Pemerintah Kaji Deregulasi

Beban Regulasi Operator Capai 14 Persen Pendapatan, Pemerintah Kaji Deregulasi

Tekno | Selasa, 20 Oktober 2026 | 07:02 WIB

Perbedaan Shio Ular Kayu, Api, Tanah, Logam, dan Air: Kenali Karakteristiknya

Perbedaan Shio Ular Kayu, Api, Tanah, Logam, dan Air: Kenali Karakteristiknya

Lifestyle | Selasa, 20 Oktober 2026 | 06:57 WIB

Harimau yang Mangsa 2 Orang di Pelalawan Dititipkan ke LK Kasang Kulim

Harimau yang Mangsa 2 Orang di Pelalawan Dititipkan ke LK Kasang Kulim

Riau | Selasa, 20 Oktober 2026 | 06:55 WIB

Apakah TWS Bisa Connect ke Laptop? Ini Cara Pairing yang Cepat

Apakah TWS Bisa Connect ke Laptop? Ini Cara Pairing yang Cepat

Tekno | Selasa, 20 Oktober 2026 | 06:55 WIB

Ironi Kaderisasi Kampus: Aturan PKKMB Diterabas dan Senioritas Berkuasa

Ironi Kaderisasi Kampus: Aturan PKKMB Diterabas dan Senioritas Berkuasa

Your Say | Selasa, 20 Oktober 2026 | 06:47 WIB

Apakah Viva Retinol Serum Bisa Menghilangkan Milia? Ini Efeknya pada Wajah

Apakah Viva Retinol Serum Bisa Menghilangkan Milia? Ini Efeknya pada Wajah

Lifestyle | Selasa, 20 Oktober 2026 | 06:45 WIB

Penyebab Mimpi Tindihan Tidak Bisa Bergerak Menurut Medis dan Primbon, Ini Cara Mengatasinya

Penyebab Mimpi Tindihan Tidak Bisa Bergerak Menurut Medis dan Primbon, Ini Cara Mengatasinya

Lifestyle | Selasa, 20 Oktober 2026 | 06:05 WIB

Ada Demo 2 Tahun Prabowo! Pengguna Jalan Diimbau Hindari Monas, Sudirman, dan DPR

Ada Demo 2 Tahun Prabowo! Pengguna Jalan Diimbau Hindari Monas, Sudirman, dan DPR

News | Selasa, 20 Oktober 2026 | 06:00 WIB

Kelelahan Kerja Bisa Ganggu Konsentrasi, Apa Risikonya?

Kelelahan Kerja Bisa Ganggu Konsentrasi, Apa Risikonya?

Lifestyle | Senin, 19 Oktober 2026 | 23:48 WIB

×