BANDUNG - Ribuan buruh menggeruduk kantor Gubernur Jawa Barat, Rabu (21/9/2022). Mereka berunjuk rasa meminta Gubernur Jabar Ridwan Kamil menaikan upah minimun tahun 2023.
Ribuan buruh yang melakukan unjuk rasa di depan Gedung Sate ini berasal dari tiga serikat buruh yakni Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), Serikat Pekerjaan Nasional (SPN).
Dalam orasinya, para buruh menolak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) karena memberatkan masyarakat Indonesia. Menurutnya, kebijakan tersebut tidak dibarengi dengan kenaikan upah pekerja secara signifikan.
Ketua Umum DPD KSPSI Jawa Barat Roy Jinto Ferianto menyebutkan, pada aksi buruh hari ini ada empat tuntutan yakni menolak kenaikan harga BBM, meminta Pemerintah Provinsi Jabar menaikan upah 2023.
Kemudian, menolak Undang-undang Cipta Kerja atau Omnibus Law terkait klasterisasi tenaga kerja. Serta meminta merevisi keputusan gubernur terkait upah minimum yang ditetapkan pada Januari 2022 lalu.
"Naiknya harga BBM memicu lonjakan harga kebutuhan, inflasi. Harga-harga naik tanpa diiringi dengan penyesuaian upah minimum," katanya, Rabu (21/9/2022).
Menurut dia, beban para buruh saat semakin berat dengan naiknya harga BBM. Mengingat, kenaikan upah buruh yang dinilainya relatif kecil.
Hal ini pun tentunya akan berdampak pada kehidupan para buruh dan juga menurunkan daya beli masyarakat sehingga berdampak pada perluasan kemiskinan baru.
"Untuk BBM dan Ciptaker kita minta rekomendasi dari Gubernur yang ditujukan kepada presiden dan DPR RI. Tetapi untuk upah kita minta didiskusikan," terang Roy.
Baca Juga: Imigrasi Banda Aceh Terbitkan 15.944 Paspor Sepanjang 2022
"Kita berharap Gubernur bisa memberikan semacam kado buat buruh di Jawa Barat di akhir masa jabatannya. Jangan sampa lima tahun menjabat tidak ada keberpihakan terhadap buruh," tambahnya.
Aksi unjuk rasa ini masih terus berlangsung meski hujan mengguyur kawasan Gedung Sate dan sekitarnya. Hingga pukul 12.49 WIB ribuan buruh masih berkumpul di Depan Gedung Sate.
"Ini aksi pemanasan. Ke depan akan terus aksi, khususnya menjelang penetapan upah minimum 2023 pada November mendatang. Kalau tidak kita tutup tol di Bandung Raya," kata seorang orator.
"Hujan kehujanan, panas kepanasan, kita ke sini cuma modal badan, kita berkumpul di sini jadi salah satu upaya berjuang Kesejahteraan kita," pungkasnya. ***