PURWOKERTO.SUARA.COM- Siapa yang sudah nggak sabar nantiin tanggal perilisan dari film ‘Miracle in Cell No.7’, sebuah film remake dari film hits Korea Selatan dengan judul yang sama.
Film yang di akan tayang pada 8 September ini diperankan oleh Vino G. Bastian, Graciella Abigail, Tora Sudiro, Indro Warkop, Bryan Domani, Rigen Rakelna, Denny Sumargo, hingga Mawar Eva de Jongh.
Digarap oleh sutradara kondang Hanung Bramantyo membuat pecinta film Indonesia semakin penasaran bagaimana kisah ini diceritakan dengan latar belakang masyarakat Indonesia.
Pasalnya, seperti yang kita ketahui film ‘Miracle in Cell No.7’ adalah film yang diadaptasi dari kisah nyata seorang warga Korea Selatan yang diangkat menjadi film pada tahun 2013 silam.
Di kisah nyatanya, seorang laki-laki yang memiliki keterbatasan atau keterbelakangan mental mendapatkan tuduhan penculikan, kekerasan seksual dan pembunuhan terhadap seorang anak.
Kisah ini kemudian diangkat di bawah arahan sutradara Lee Hwan-Kyung menjadi sebuah film dengan durasi 127 menit.
Lalu, apa saja nilai sosial yang dapat dipetik dari film ‘Miracle in Cell No.7’ ini, yuk simak
1.Keterbatasan bukan lah alasan untuk mengeluh
Dalam film yang berpusat pada kisah nyata ini, mengajarkan kita untuk memahami bahwasanya keterbatasan yang dimiliki bukan menjadi alasan untuk mengeluh terhadap sesuatu yang dianggap berat.
Mengangkat kisah dari Lee Yong Goo yang diperankan oleh Ryo Seung Ryong kemudian dalam versi Indonesia peran ini diambil oleh Vino G. Bastian sebagai Dodo Rozak, seorang laki-laki dengan keterbatasan mental yang berjuang untuk tetap menghidupi anaknya.
Saat anak semata wayangnya menginginkan tas baru dalam versi Korea, dirinya berjuang untuk mendapatkan barang yang diinginkan oleh putrinya walaupun pekerjaannya hanya lah sebagai tukang parkir.
2.Selalu Bekerja Keras
Penuh keterbatasan dari berbagai sisi, entah itu dalam mental atau pun kekayaan tidak membuat Lee Yong Goo bermalas-malasan. Demi tetap mendapatkan uang, dirinya harus bekerja keras sebagai tukang parkir.
Sama halnya dengan versi Indonesia, Dodo Rozak yang bekerja sebagai penjual balon tak pernah mengeluh bahkan di kondisinya yang memiliki keterbatasan mental dan terlihat seperti anak-anak. Namun, Dodo Rozak juga sadar dirinya harus bekerja keras agar dapat memberikan apa yang putrinya Inginkan.
3.Kebersamaan antara Ayah dan Anak yang luar biasa
Seperti yang kita lihat pada teaser yang telah dirilis oleh Falcon Picture, Kartika harus terpisah dari ayahnya yang dituduh sebagai pembunuh oleh polisi. Namun, atas bantuan dari teman-teman sel ayahnya, Kartika dapat bertemu dengan sang ayah di penjara.
Sama halnya dengan versi Korea, Lee Yong Goo dibantu teman selnya untuk menyelundupkan sang anak ke dalam sel. Setiap, kebersamaan yang mereka lalui membawa keceriaan dan warna baru dalam sel dengan penjagaan paling ketat dan berisi penjahat kelas kakap. (citra safitra)