PURWOKERTO.SUARA.COM, BANJARNEGARA- Peristiwa pembantaian massal orang yang dituduh komunis atau anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) menjadi sisi gelap sejarah republik ini. Banyak masyarakat yang dicap komunis atau PKI dibantai, atau setidaknya dihukum di penjara tahun 1965.
Ada kisah menyentuh dari pasangan simpatisan PKI di Banjarnegara. RM, warga Banjarnegara menjadi satu di antara banyak warga yang dihukum karena dituduh komunis. Ia dibawa ke Pulau penjara Nusakambangan bersama banyak warga lain yang dituduh berafiliasi dengan PKI.
RM harus meninggalkan istri dan anak tercintanya.
Cerita soal hukuman bagi terduga PKI begitu mengerikan. Banyak yang disiksa dan dibunuh secara sadis tanpa melalui proses peradilan. Setelah dibawa ke Nusakambangan, RM tak ada kabar.
Tentunya ini membuat sang istri, Maesaroh (samaran), sedih dan gundah. Hari demi hari dilewati dengan susah tanpa suami. Tahun demi tahun, suaminya tak juga ada kabar. Saat itu juga belum ada alat komunikasi yang bisa menghubungkannya dengan suaminya. Di tengah situasi gawat saat itu, banyak orang dibunuh, sulit diharapkan suaminya masih hidup.
Hingga ia menerima ajakan seorang pria yang ingin memperistrinya. Kadri, bukan nama sebenarnya, menikahi Maesaroh dengan ketulusan cinta. Keduanya menikah dan menjalin rumah tangga dengan bahagia. Terlebih Maesaroh memiliki anak yang wajib dinafkahi. Kehadiran suami dibutuhkan untuk tulang punggung keluarga.
Siapa sangka, puluhan tahun berlalu, saat ia diyakini telah mati, RM kembali pulang ke rumahnya. Ia selamat dari aksi pembantaian. Hanya ia dipenjara lama di Nusakambangan. Di pulau pengasingan itu, ia tak bisa berkabar.
“Tiba-tiba dia pulang ke rumah istrinya. Siapa yang menyangka dia masih hidup, karena tragedi 65 saat itu mengerikan,”kata warga mengisahkan
Harapan terbesar RM tentu bisa kembali bersama istri dan anaknya. Ia bisa kembali melanjutkan kehidupan rumah tangga yang bahagia. Namun perasaannya hancur kala mendapati ada seorang pria asing di rumahnya.
Baca Juga: Diajak Mendaki Orang Tua, Bocah 3 Tahun Ikut Tersesat dan Hipotermia di Gunung Soputan
Pria itu ternyata sudah lama tinggal bersama istrinya. Ia bahkan berstatus suami sah dari istrinya.
Namun bukan pertengkaran yang terjadi di rumah itu. Mereka sama bersikap dewasa. Kadri bahkan menyampaikan permintaan maaf ke RM karena telah menikahi istrinya. Namun itu ia lakukan karena RM lama tak ada kabar, bahkan diyakini telah tiada.
RM tak memarahinya. Sebaliknya, ia bahkan menyampaikan terima kasih kepada Kadri karena telah merawat istri dan anaknya. Sehingga keluarganya itu tidak terlunta.
“Malah dia terima kasih, sudah merawat anak istrinya,”katanya
Kedua pria yang mencintai perempuan sama itu sama-sama berlapang dada. Namun Kadri memilih mengalah. Ia sadar kehadirannya belakangan. RM dan Maesaroh lebih dulu menjalin cinta. Hanya musibah yang membuat mereka harus berpisah.
Ia harus mengubur cintanya dengan Maesaroh. Karena ada yang lebih berhak darinya. Ia harus menikhlaskan apa yang telah dia persembahkan untuk Maesaroh dan anaknya selama ini.
Kadri memutuskan pamit meninggalkan mereka. Ia memilih menyatukan RM dan istrinya yang lama berpisah. Kadri legawa. Ia menyerahkan istrinya kembali ke pelukan RM, suami yang hilang. Kadri pergi dengan perasaan lapang. Meski tentu ada luka dan perih yang dirasakan. Namun ia harus mengikhlaskan. RM pun demikian.
“Dia pergi dari rumah itu, diserahkan lagi istri dan anak ke suami yang dulu,”katanya