PURWOKERTO.SUARA.COM, PURBALINGGA- Doktrin kerja seorang prajurit adalah melaksanakan perintah komandan atau atasannya. Sehingga mereka rawan untuk “dikorbankan” atas sebuah kesalahan yang diinisiasi atasannya.
Seperti dikisahkan mantan anggota Cakrabirawa era Soekarno asal Purbalingga, Sulemi (77). Keberuntungannya hari ini adalah ia masih dibiarkan hidup. Selain itu, Sulemi sudah merasakan berbagai bentuk siksaan di dalam penjara. Hingga rasa sakit itu masih terngiang sampai sekarang. Luka siksa itu masih membekas di tubuhnya. Ia menderita trauma berkepanjangan.
Kuku jempol kakinya yang dicabut paksa menggunakan tang di penjara kini tidak bisa tumbuh normal. Siksa lainnya, kedua tangannya diikat ke kursi, lalu tubuhnya disetrum dengan tegangan listrik tinggi sampai tubuhnya terpental.
Ia juga mengisahkan kakinya pernah dijepit dengan kaki kursi, lalu diduduki dengan sekuat tenaga oleh petugas yang menyiksanya.
Orang boleh tak memercayai ceritanya. Namun Sulemi siap menanggung risiko atas kebenaran dia sampaikan. Sulemi yang seorang muslim bahkan berani bersumpah atas nama Allah jika yang ia katakan sesuai fakta.
Ia lelaki yang punya prinsip. Bahkan dalam kondisi tertekan, saat dituduh komunis, Sulemi enggan mengakui sebagai komunis. Ia selalu menolak dikaitkan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Bagaimana mungkin, seorang prajurit bawahan sepertinya sempat berurusan dengan partai apalagi ideologi komunis. Sebagaimana prajurit lain, dalam pikirannya yang adalah bagaimana melindungi negara, termasuk kepala negara yang menjadi tugas pokoknya sebagai Cakrabirawa.
“Saya lebih baik mati disiksa daripada harus mengakui sebagai komunis,” katanya.
Awal petaka Cakrbirawa adalah September 1965, Komandan Batalyon 1 Kawal Kehormatan (KK) Cakrabirawa Letkol Untung Samsuri mengumpulkan seluruh aanggota Cakrabirawa. Ia memberitahukan situasi negara sedang gawat.
Baca Juga: Penuh aksi, 5 Drama Korea yang Akan Tayang Bulan Oktober, Ada Drama D.O EXO
Tanggal 5 Oktober 1965 diisukan akan terjadi kudeta dari sejumlah perwira angkatan darat. Tugas pengawal presiden untuk melindungi Presiden Soekarno. 28 September 1965, Sulemi dan teman-temannya dipersiapkan menjemput para jenderal kontrarevolusi pada 1 Oktober dinihari.
Dalam benak prajurit sepertinya, kabar itu membuat darah mendidih. Kudeta adalah pelanggaran berat yang mengancam keamanan negara.
1 Oktober 1965 dini hari, pasukan diisebar untuk menjemput jenderal. Satu rombongan penjemput berisi sekitar 35 pasukan.
Masing-masing grup diisi 10 anggota Cakrabirawa. Sisanya berasal dari kesatuan lain di antaranya Brigif I Kodam V Jaya pimpinan Kolonel Latief.
Satu kompi pasukan termasuk Sulemi bertugas menjemput Jenderal AH Nasution. Perintah komandan saat itu adalah menjemput jenderal untuk menghadap presiden Soekarno.
Rombongan penjemput Nasution sempat nyasar ke rumah Menteri JE Leimana yang bersebelahan dengan rumah AH Nasution.
Rombongan pasukan Sulemi berhasil masuk rumah Nasution tanpa hambatan karena pintu rumah depan tak terkunci.
Ia bersama dua anggota lain Suparjo dan Hargiono mengetuk sebuah kamar yang diduga dihuni Nasution. Ia mengungkapkan, pintu kamar sempat dibuka sedikit namun ditutup kembali dan dikunci rapat.
Merasa tak direspon baik, Suparjo dan Hargiono menembaki gagang pintu agar terbuka sehingga mereka bisa masuk.
Di sini ada cerita yang akhirnya menurutnya dipelintir. Cerita yang berkembang pihaknya menembak langsung putri AH Nasution, Ade Irma Nasution.
Sulemi membantah terjadi konfrontasi langsung antara prajurit dengan , Ade Irma Nasution yang saat itu masih belia. Jika peluru yang ditembakkan ke logam gagang pintu meleset dan mengenai Ade Irma, itu adalah ketidaksengajaan.
AH Nasution rupanya melarikan diri dengan melompati pagar. Prajurit menembak keluar namun meleset. Nasution berhasil kabur.
“Tidak benar kalau anggota menembak langsung anak itu. Gila apa, anak kecil gak tahu apa-apa ditembak. Segila-gilanya prajurit gak mungkin lah begitu,” katanya.