Terutama masalah keagamaan, seperti sikap tegas PBNU yang juga diikuti oleh setiap cabang termasuk NU cabang Kebumen, misalnya:
1. NU meminta dihapuskannya membayar pajak atas penyembelihan hewan ternak untuk ibadah kurban.
2. NU menolak adanya kewajiban memasuki milisi Belanda bagi pemuda-pemudi Indonesia dan mengharamkan bagi pemudi Islam untuk menjadi milisi Belanda.
3. NU menolak tranfusi darah untuk serdadu Belanda yang luka dan mengharamkan umat Islam untuk menyumbangkan darahnya untuk serdadu penjajah.
4. NU menolak subsidi yang ditawarkan oleh pemerintah kolonial kepada madrasah-madrasah NU,
5. NU mengadakan “moment active” / gerakan mabadi Khoiro Ummah untuk menolong serta mempertinggi keadaan sosial ekonomi bangsa Indonesia.
NU Kebumen di Masa Penjajah Jepang
Saat perang dunia kedua pecah dan tentara Jepang berkuasa di Indonesia menggantikan kedudukan Belanda sebagi penguasa jajahan, yaitu sejak tentara Dai Nippon memasuki wilayah Indonesia pada tanggal 7 Maret 1942, seluruh tanah air Indonesia yang menjadi jajahan tentara Dai Nippon. Negara Indonesia dinyatakan dalam keadaan perang.
Semua partai dan organisasi massa termasuk NU dibubarkan oleh tentara fasisme Jepang. Kegiatan masyarakat di batasi dan mendapat pengawasan yang ketat dari tentara Dai Nippon.
Meski demikian, para ulama dan warga NU masih tetap melaksanakan kegiatan-kegiatan dalam bidang keagamaan, seperti mengadakan tabligh, pengajian di masjid-masjid dan mendidik anak di madrasah dan pondok-pondok pesantren.
Semua kegiatan tetap berjalan dan diikuti oleh masyarakat, meski bahaya mengintai dari penjajahan Dai Nippon.
Sadar jumlahnya sedikit di Indonesia, tentara Jepang mencari dukungan dari rakyat Indonesia dengan mengeluarkan semboyan-semboyan seperti :
militer Jepang hanya bersifat sementara,
militer Jepang akan memperbaiki nasib rakyat,
Jepang saudara tua bangsa Indonesia, dll.
Kondisi itu dimanfaatkan para pemimpin Indonesia dan tokoh-tokoh NU untuk memikirkan nasib bangsa Indonesia di kemudian hari.
Kesempatan itu digunakan dengan membentuk berbagai laskar seperti PETA, laskar bersenjata dari pemuda-pemuda Indonesia di bawah Pimpinan Jepang.
Dibentuk pula barisan Hizbullah yang dipimpin KH Zaenal Arifin, tokoh NU asal Sumatera Utara untuk melatih pemuda pemuda Islam cara berperang menggunakan alat-alat senjatanya.
Di Kebumen, Pasukan Hizbullah juga didirikan. Hizbullah merupakan komponen militer penting bagi Indonesia karena angggotanya sampai desa-desa yang mayoritas warga NU.
Selain Hizbullah, ada Angkatan Oemat Islam Indonesia (AOI), untuk bersama-sama berperang melawan penjajah dari bumi Indonesia ini.
Mes secara struktural AOI tidak mengatas namakan NU, namun organisasi itu banyak diprakarsai oleh warga NU yang bertekad berjuang mewujudkan kemerdekaan Negara Indonesia.
Sumber :pcnukebumen.wordpress.com