PURWOKERTO.SUARA.COM, WONOSOBO - Era digital yang ditandai akselerasi media sosial memunculkan beragam persoalan komunikasi baru di tengah masyarakat.
Masalah hoaks dan hal sejenis seperti ujaran kebencian, fitnah, manipulasi informasi, disinformasi, peredaran prasangka dan lain-lain menjadi ancaman serius kehidupan berbangsa juga beragama.
Karena itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) turun ke berbagai daerah untuk menggelar literasi digital bertajuk Cakap Digital 2023. Satu di antara lokasi literasi digital ialah di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.
"Dalam situasi ini, generasi milenial diharapkan bisa menjadi pejuang anti-hoaks untuk menyehatkan ruang digital," ujar Astin Meiningsih, Korwil Masyarakat Anti-fitnah Indonesia (Mafindo).
Generasi milenial hidup dalam lingkungan sosial dan budaya digital. Mereka menjadikan media sosial sebagai sumber informasi.
Tantangan yang dihadapi generasi milenial ini telah membentuk persepsi generasi mereka tentang kepahlawanan ataumenjadi pejuang
"Namun figur pejuang masa lalu belum tentu cocok untuk tantangan generasi milenial saat ini karena dianggap kurang relevan dengan zamannya," katanya.
"Generasi milenial harus memahami dulu apa itu hoaks untuk dapat menjadi pejuang anti-hoaks," ucapnya.
Hoaks sendiri diketahui sebagai informasi palsu, berita bohong atau fakta yang direkayasa untuk tujuan lelucon sehingga serius.
Secara bahasa hoaks memang artinya lelucon, cerita bohong, kenakalan, olokan, membohongi, menipu, mempermainkan, memperdaya dan memperdayakan.
Sedangkan dalam kamus jurnalistik, Ipah mengartikan hoaks sebagai berita bohong, berita yang tidak benar, sehingga menjurus pada kasus pencemaran nama baik.
"Menjadi pejuang tidak identik dengan mengangkat senjata, banyak juga yang disebut pejuang karena menjaga nilai-nilai kemanusiaan yaitu yang berkenaan dengan agama, sosial, budaya, ataupun lingkungan. Dan manusia-manusia seperti itu bertebaran di mana-mana, tidak berdasarkan jenis kelamin atau usia," kata dia.
Pejuang anti hoaks, menuntut agar pengguna milenial bisa menjaga nyamannya ruang digital. Sebab berita hoaks dibuat agar viral, dan mendapat uang dari traffic juga untuk menjatuhkan golongan tertentu dengan merusak citranya.
"Kenali ciri-ciri hoaks yang biasanya mengakibatkan kecemasan, kebencian, dan permusuhan. Sumber beritanya juga tidak jelas dan biasanya pemberitaanya tidak terverifikasi, tidak berimbang dan cenderung menyudutkan pihak tertentu," kata dia.
Ciri lainnya, hoaks biasanya memiliki narasi pengantar provokatif, memberikan penghukuman serta menyembunyikan fakta dan data.
"Tiga hal penting pejuang anti hoaks adalah bisa menjaga privasi, bisa menentukan akurasi, dan menghargai properti atau hasil karya orang lain di dunia digital," tuturnya.
Fredy, panitia acara, menuturkan pada saat dikonfirmasi sebagai Panitia penyelenggara yang mendapat mandat langsung dari Kominfo untuk menggelar acara sosialisasi pada Minggu 7 Mei 2023 di lapangan Dukuh Penulih, Suroyudan, Sukoharjo, Wonosobo. Pada kesempatan kali ini literasi digital Kemenkominfo mengambil tema "Menjadi Pejuang Anti-hoaks di Dunia Digital".
Kegiatan ini mendatangkan beberapa narasumber, antara lain Astin Meiningsih Korwil Mafindo Wonosobo, Jayeng Sukmoadi Camat Sukoharjo, dan Kyai Darto Wahab.
Kegiatan ini dipandu moderator Saikun, salah satu wartawan online yang ikut dalam kegiatan malam ini. Dari narasumber yang hadir ini memberikan masukan dan pemahaman kepada masyarakat, terutama di wilayah Suroyudan.
Kegiatan Kemenkominfo Semakin Cakap Digital 2023 adalah program literasi digital untuk meningkatkan kemampuan masyarakat Indonesia dalam memanfaatkan tekhnologi digital secara positif, produktif, dan aman.
Panitia berharap acara tersebut semakin membuka mata publik agar lebih waspada, selektif dan mau memahami dampak negatif berita hoaks di dunia digital.***