PURWOKERTO.SUARA.COM, BANYUMAS - Rektorat Unsoed menghadapi tekanan publik bertubi-tubi setelah kasus dugaan kekerasan seksual mencuat, Selasa 13 Juni lalu. Kini mereka menyatakan siap mengevaluasi keputusan sebelumnya demi menyelesaikan permasalahan ini.
Kasus ini mengemuka setelah rektor Unsoed melantik terduga pelaku kekerasan seksual sebagai pejabat kampus. BEM Unsoed protes keras dengan mempropagandakan tagar #UnsoedDaruratKekerasanSeksual.
Kabar ini seketika viral di media sosial dan menjadi konsumsi media mainstream. Unsoed semakin terdesak.
Kemarin sore, Kamis 15 Juni 2023, mereka kembali menggelar rapat. Rektorat bertemu dan berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk melakukan pendalaman.
Selain berkoordinasi dengan BEM, rektorat juga sudah bertemu degan satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS), Kamis petang. Pimpinan yang diwakili oleh seluruh jajaran wakil rektor bertemu satgas PPKS untuk mendalami kembali persoalan yang kini menjadi kontroversi.
Dalam kesempatan tersebut Ketua Satgas PPKS, Dr Tri Wuryaningsih MSi kembali menjelaskan kronologi dan seluruh proses yang telah dilakukan timnya hingga keluar rekomendasi yang sudah disampaikan ke rektorat.
“Kami juga sudah melakukan cros check informasi yang belakangan beredar, yang mengesankan ada perbedaan antara satgas dan rektorat. Hasilnya sudah saya sampaikan ke pimpinan,” ujar Tri Wuryaningsih.
Pihak rektorat menyatakan akan mengkaji segera persoalan ini berdasarkan masukan dari berbagai pihak. Rektorat juga menegaskan mendukung dan mengapresiasi kinerja satgas PPKS yang dengan gigih menangani kasus kekerasan seksual di kampus ini.
"Kami selalu terbuka untuk semua masukan demi kebaikan bersama,” kata Wakil Rektor II, Dr Kuat Puji Prayitno SH MHum.
“Kami segera dalami masalah ini, dan siap mengambil keputusan apapun, termasuk mengevaluasi keputusan yang sudah kita buat jika diperlukan,” ucap Kuat menabahkan.***