PURWOKERTO.SUARA.COM – Kerupuk seakan menjadi teman istimewa saat kita menikmati hidangan yang tersaji di atas meja makan.
Tak hanya itu, kerupuk juga seolah tak lekang oleh waktu dan senantiasa mendapat tempat tersendiri di hati masyarakat Indonesia.
Maka tak jarang ada istilah jika makan tanpa kerupuk ibarat sayur tanpa garam, kurang sedap dan kurang menggugah selera.
Sejatinya, kerupuk sangat mudah ditemui di warung kelontong, warung makan bahkan hingga angkringan, warung rames atau pedagang kaki lima.
Tahukah kamu, kalau kerupuk adalah panganan pendamping khas Indonesia yang pertama kali muncul di Pulau Jawa dengan nama kerupuk Rambak dan tercatat dalam naskah Jawa Kuno sejak sebelum abad ke-10 masehi.
Kali ini kita akan melihat salah satu produsen kerupuk yang ada di Banjarnegara tepatnya di Kelurahan Sokanandi RT 3 RW 1.
Adalah Acep Sunjana, pria asal Tasikmalaya yang sudah puluhan tahun menggeluti dunia kerupuk sebagai penghasilan utama dan mata pencarian bagi keluarga.
Tak hanya itu, dengan ketekunan dan keuletannya, dia kini bisa mempekerjakan beberapa orang untuk ikut dalam usaha rumahan ini.
“Kurang lebih sudah 20 taun mas kami bergelut di usaha rumahan kerupuk ini dan alhamdulillah masih bertahan sampai sekarang,” ujarnya.
Lebih jauh Acep menjelaskan, meski sempat terpurut lantaran pandemi yang terjadi beberapa waktu lalu, tak membuat dirinya patah semangat.
“Sempat mau gulung tikar mas saat pandemi, karena tidak bisa dagang dan omset menurun drastis sampai 80 persen,” lanjutnya.
Namun dengan keyakinan dan semangat pantang menyerah, badai pandemic mampu dilewati dan kerupuk berlabel sanjaya miliknya kembali mendapat tempat di hati masyarakat.
Saat ini, dalam satu kali produksi Acep mengaku dapat mengabiskan 85 kilogram kerupuk mentah untuk di goreng dan dipasarkan ke konsumen dan warung-warung dalam waktu dua hari.
“Beberapa wilayah kami rambah seperti pasar kota Banjarnegara, Banjarmangu, Pagedongan, Wanadadi sampai Wonosobo melalui beberapa metode,” tandasnya.
Adapun kerupuk berlabel Sanjaya miliknya biasa dijual dengan kemasan yang berbeda sesuai permintaan konsumen atau warung makan dan toko kelontong.
“Kemasan besar isi 25 biji kita jual ke warung 10 ribu, untuk kemasan sedang isi 10 seharga 5 ribu, dan kemasan ekonomis isi 5 biji kami pasarkan seharga 2 ribu,” ungkapnya.
Acep yang mengaku betah tinggal di Sokanandi RT 3 RW 1 sekaligus sebagai lokasi produksi, saat ini tinggal bersama anak istri beserta beberapa karyawan.
Pihaknya berharap, momen bulan Agustus yang sebentar lagi didepan mata bisa menambah produksi dan pendapatan kerupuk miliknya.
“Biasanya saat Agustusan banyak yang memesan untuk lomba makan kerupuk yang seakan menjadi tradisi memperingati hari kemerdekaan RI,” pungkasnya.***Alwan