Kebetulan orang tuanya dulu bekerja di perkebunan Belanda dan menempati rumah itu.
Rumah itu sempat tidak berpenghuni setelah penghuninya meninggal. Peni kemudian memutuskan menempati rumah itu bersama suaminya.
Jauh dari hiruk pikuk bukan membuatnya gundah gulana. Ia mengaku bahagia karena bisa hidup tenang di hutan bersama pasangannya.
Sunyi pasti. Jelas sepi. Namun ia mengaku tenteram di hati. Tidak ada yang mengusik. Ia juga tak punya kesempatan mengusik karena tidak punya teman atau tetangga.
Untuk memenuhi berbagai kebutuhan atau belanja, ia mengandalkan petani di pinggir hutan dengan menitipkan uang untuk dibelanjakan.