Ranah.co.id - Peruma Bulog Kantor Wilayah (Kanwil) Sumatra Barat (Sumbar) bakal mendatangkan 5.000 ton beras dari Thailand sebagai upaya memenuhi stok selama ramadan dan idul fitri tahun ini.
Hal itu diungkapkan Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah dalam rapat antisipasi kelangkaan ketersediaan pangan menghadapi ramadan dan idul fitri 1444 hijriah, Selasa (10/1/2023).
"Perum Bulog Kanwil Sumbar akan kedatangan stok beras 5.000 ton dari Thailand. Semoga stoknya cukup sampai Ramadan dan mencukupi kebutuhan stok beras," ujar Mahyeldi dikutip dari situs resmi milik Prmprov Sumabr, Rabu (11/1/2023).
Diberitakan sebelumnya, sebagai upaya antisipasi kelangkaan pangan selama ramadan dan idul fitri, Mahyeldi meminta agar kepala OPD melakukan langkah-langkah di antaranya, melakukan pemantauan secara berkala terhadap kecukupan stok barang dengan berkoordinasi dan bersinergi antar institusi, untuk memastikan ketersediaan dan kelancaran distribusi barang selama Ramadan dan Idul Fitri 2023.
Kemudian, melakukan operasi pasar dalam rangka menjaga keterjangkauan harga kebutuhan pokok di masyarakat selama bulan Ramadan dan menjelang Idul Fitri tahun 2023.
Selanjutnya, melakukan gerakan menanam satu juta cabe dengan membagikan bibit cabe di polybag. "Tujuannya untuk menggerakkan masyarakat memanfaatkan pekarangan untuk mencukupi kebutuhan keluarganya dan meningkatkan perekonomian," ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Perum Bulog Kanwil Sumbar, Sri Wulan Astuti mengatakan, total ketersediaan beras yang ada di Perum Bulog Kanwil Sumbar sebanyak 2.380 ton, hal tersebut cukup untuk menghadapi bulan Ramadan dan Idul Fitri 2023. Ia menginformasikan, bahwa Kanwil Sumbar akan kedatangan beras luar negeri asal Thailand sebanyak 5.000. Dan akan datang komoditi daging kerbau sebanyak 13.400 kilogram.
Lalu, Kepala Dinas Pangan Provinsi Sumbar, Efendi menyampaikan saran untuk memenuhi kebutuhan beras menjelang HBKN Tahun 2023, salah satunya adalah melakukan pembinaan intensif melalui Sekolah Lapang bagi para petani.
"Dengan Sekolah Lapang para petani akan belajar bagaimana cara merawat tanaman, mereka juga bisa berkonsultasi dengan para penyuluh pertanian. Sekolah Lapang ini dilakukan melalui pelatihan tatap muka setiap dua minggu di lapangan hingga 14 kali," katanya.
Baca Juga: Jalan Berbayar di Jakarta, Dimana Saja? Ini Rencana 25 Lokasi dan Tarifnya