Suara.com - Bulan Syaban memiliki makna yang spesial bagi umat Muslim. Lebih dari sekedar bulan penyambut Ramadan, Ustadz Adi Hidayat (UAH) bahkan menekankan bahwa Syakban seharusnya menjadi momentum bagi manusia untuk menata kembali niat dan tujuan hidupnya.
Beliau mengingatkan bahwa hakikat keberadaan manusia di dunia, sebagaimana tertuang dalam Surah Az-Zariyat ayat 56, adalah semata-mata untuk mengabdi kepada Sang Pencipta.
Menurut UAH, iman yang kokoh akan terpancar dari perilaku sehari-hari. Beliau menjelaskan bahwa setiap gerak-gerik manusia—mulai dari apa yang dilihat mata, diucapkan lisan, hingga langkah kaki—seharusnya diniatkan sebagai bentuk penghambaan kepada Allah SWT.
"Allah menciptakan jin dan manusia semata-mata untuk beribadah kepada-Nya. Seluruh aktivitas hidup sejatinya adalah bentuk penghambaan," tutur UAH dikutip dari kanal Youtube-nya.
Jika kesadaran ini telah tertanam, maka setiap aktivitas duniawi akan bertransformasi menjadi amal saleh yang mendatangkan rida-Nya.
Dalam rangkaian waktu spiritual, UAH memberikan tamsil yang memudahkan umat untuk memahaminya:
- Bulan Rajab: Masa awal latihan dan pembiasaan.
- Bulan Syakban: Masa penguatan, pendalaman, serta evaluasi diri.
- Bulan Ramadan: Puncak penyempurnaan dan panen ibadah.
Salah satu amalan utama yang sangat ditekankan pada bulan ini adalah puasa sunnah. Merujuk pada hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim, UAH menceritakan bagaimana Rasulullah SAW sangat sering berpuasa di bulan Syakban dibandingkan bulan-bulan lainnya, kecuali Ramadan.
Puasa dipandang sebagai perisai yang efektif untuk menahan hawa nafsu, melatih kesabaran, serta mengembalikan manusia pada fitrah sejatinya sebagai hamba yang jujur dan terkendali.
Selain aspek fisik melalui puasa, Syakban juga menjadi waktu yang tepat untuk melakukan "audit" terhadap kondisi hati.
Baca Juga: Jadwal Puasa Syaban 2026, Lengkap dengan Niat dan Malam Nisfu Syaban
UAH menyinggung keutamaan pertengahan malam Syakban (Nisfu Syaban), di mana Allah SWT membuka luas pintu ampunan bagi hamba-Nya.
Momentum ini harus dimanfaatkan untuk membersihkan batin dari penyakit hati seperti rasa dendam, kebencian, serta prasangka buruk terhadap sesama. "
Syakban adalah kesempatan untuk berdamai dengan diri sendiri dan dengan sesama, agar kita masuk ke bulan Ramadan dalam keadaan hati yang tenang dan bersih," jelas UAH.
Sebagai penutup, Ustadz Adi Hidayat mengajak seluruh umat Islam untuk tidak menyia-nyiakan waktu di bulan Syakban. Beliau mendorong jamaah untuk memperbanyak tobat, memperbaiki hubungan dalam keluarga, serta mengintensifkan amal kebaikan sebagai bekal utama sebelum memasuki madrasah Ramadan.
Kesadaran akan waktu yang terbatas di dunia seharusnya memacu setiap muslim untuk lebih serius mempersiapkan diri demi kehidupan di akhirat kelak.
Kontributor : Rizqi Amalia