Selebtek.suara.com - Marshanda yang berhasil tumbuh menjadi sosok artis ternama, ternyata memendam kepedihan dalam hati dan pikirannya.
Marshanda tidak seperti yang orang pikirkan tentangnya. Belum lama ini ia mengungkap dirinya pernah berpikir sebagai korban disfungsional keluarga.
Sewaktu golden age, Marshanda tidak mendapatkan validasi semestinya dari papa dan mama atau diacuhkan.
Keadaan seperti itu memaksa dia jadi sosok struggle dari kecil, tetap rendah hati meski artis populer.
Apa yang belum terpenuhi olehnya itu ternyata masih membekas sampai sekarang.
Bahkan Ia sampai membongkar seperti apa sosok sang papa yang meninggalkannya dari usia 7 tahun.
"Dia adalah sahabat sejatiku, papa itu orang yang fun, lucu, sangat tampan, menyenangkan," ungkap Caca (Marshanda) dikutip dari YouTube Daniel Mananta Network pada, Rabu (9/8/2023).
Sambil menangis, ia tak malu atau ragu kalau sebenarnya sampai saat ini masih merindukan papanya.
"Aku masih kangen dia, sampai sekarang," kata Caca sambil berkaca-kaca.
Papa Caca ia akui termasuk sosok hangat, selalu ngajak bercanda kalau di rumah.
Caca berkeluh kesah kalau selama ini dia tidak paham persisnya karena sebab apa papa tercinta pergi.
"Ada beberapa versi cerita ya, tapi kan gue masih kecil, jadi nggak tahu yang benar mana. Aku tidak pernah mendengar dia secara langsung," tuturnya.
"Dari nyokap punya versi sendiri, tante punya versi sendiri, nenek punya versi sendiri," imbuhnya.
Selain karena ada versi cerita berbeda-beda, Caca mengungkap ia pernah ketemu papa, tapi saat ditanya hal itu selalu tidak bisa cerita.
"Jadi gue nggak tahu. Gue tahu bokap nyokap cerai saat gue umur ya 5,6,7 tahun lah ya dan dia berubah gitu," kata Caca.
Ia terlintas pikiran kalau papanya memiliki jalan yang mana sang papa tidak bisa mendapat apa yang diinginkan.
"Ada titik di dalam hidupku di mana gue merasa ya bokap gue memang laki-laki yang tidak bisa menjadi figur ayah dan itu tidak apa-apa, ada pria yang memang seperti itu," paparnya.
Seiring berjalannya waktu dan kematangan usia Caca. Ia menjadi merasa bersalah punya pemikiran seperti itu.
"Tapi sekarang gue tiba-tiba berpikir: 'Ca, elu ingat kan berhari-hari bokap elo duduk di warung depan rumah elo'," ungkapnya.
"Kamu bertemu dengan dia beberapa kali, kami berbincang-bincang," sambungnya.
Caca berpikir bahwa sang papa itu ingin melihat dia bertumbuh dan ingin jadi seorang ayah.
"So, mungkin nggak sih bokap lo duduk berjam-jam di depan rumah lo nungguin. Ia ingin melihatmu bertumbuh. Ia ingin menjadi seorang ayah," ujar Caca.
Dan kini Caca sangat menyesal dengan pikiran serta perasaannya, sambil menangis ingin minta maaf pada papa.
"Jadi aku salah gitu lho, kalau sampai bilang bokap bukan sosok ayah yang baik.
Dan aku ingin minta maaf kepada ayahku.
Minta maaf pernah bilang begitu ke papa, pernah mikir gitu," ujarnya dibarengi derai air mata.
"Bisa aja hidup lagi nggak berpihak sama dia gitu loh.Hal-hal yang terjadi pada dirinya itu, hal-hal yang tidak mendukung gitu," pungkasnya.(*)