SUARA SEMARANG - Apa itu Candi yang disebut dalam video viral tentang lokasi tempat judi besar dekat dengan Akpol yang ada di Kota Semarang.
Nama Candi mendadak populer seiring dengan pengakuan seseorang yang menyebut sebagai tempat judi besar dekat dengan Akpol diklaim dilindungi Ferdy Sambo, mantan Kadiv Propam Polri.
Mari mengenal Candi, yang merupakan nama wilayah yakni Kelurahan Candi, ada di Kecamatan Candisari Kota Semarang. Berikut informasi tentang wilayah Candi, dari sejarah hingga letak geografis, serta ada apa saja di lokasi tersebut.
Candi bagi warga Kota Semarang merupakan suatu kawasan pemukiman elit. Jika di Jakarta ada Menteng, maka Candi merupakan 'Menteng'nya Kota Semarang.
Daerah Candi menjadi kawasan elit sejak jaman Belanda, dan site plan tata wilayahnya juga dirancang oleh arsitek Belanda, Thomas Karsten, arsitek yang membangun Pasar Johar Semarang.
Di ketahui secara administratif, daerah Candi terbagi dua kawasan yaitu Candi Lama dan Candi Baru.
Kawasan Candi Lama sejak sebelum zaman penjajahan Belanda memang sudah menjadi daerah pemukiman penduduk. Di kawasan ini pula masih banyak peninggalan bangunan rumah atau villa bergaya Eropa, baik yang terawat ataupun tidak.
Dari kawasan ini dapat dilihat pemandangan kota Semarang dengan jelas. Kawasan ini sekarang dikembangkan dengan adanya rencana pendirian hotel dan pidestrian .
Sedangkan Candi Baru, adalah wilayah yang sejak zaman penjajahan memang direncanakan akan dibuat layaknya kawasan hunian mewah dengan taman tamannya yang hijau dan asri.
Candi Baru, dengan jalan utamanya yaitu Jalan Sultan Agung terkenal dengan kawasan elite-nya kota Semarang. Sepanjang rumah di jalan ini adalah gedongan, baik khas bangunan Belanda maupun modern.
Banyak orang-orang yang ingin membuktikan status ekonominya untuk membangun rumah di daerah ini. Kawasan ini masih terawat ke-asriannya.
Di kawasan ini juga terdapat fasilitas-fasilitas yang cukup memadai. Mulai dari restoran bergaya Eropa, Asia ataupun tradisional, fasilitas pendidikan dari SD-SMA yang bertaraf internasional, rumah sakit contohnya RS Elizabeth, Akpol, dan hotel dari melati hingga bintang 5.
Sebelumnya, pada saat Pemerintah Kotapraja (Gemeente) Semarang yang resmi berdiri pada tahun 1906. Di nilai bahwa kota Semarang sudah mulai padat penduduknya dan kumuh sehingga diputuskan untuk membuka daerah pemukiman baru ke arah selatan.
Sementara wilayah di selatan kota Semarang berkontur perbukitan yang cukup terjal. Untuk keperluan itu, maka pemerintah kota mengundang arsitek berkebangsaan Belanda Ir. Herman Thomas Karsten pada tahun 1916, untuk merancang sebuah kota baru yang tetap asri dan sejuk, diperuntukkan untuk golongan masyarakat kelas menengah ke atas.
Thomas Karsten tidak menerapkan konsep Garden City secara murni, namun disesuaikan dengan keadaan Hindia Belanda pada saat itu yang disebut dengan konsep Tropische Staad (tropical state).
Penerapan konsep ini terlihat pada peletakan rumah, taman, dan ruang terbuka yang mengikuti kondisi tanah. Perencanaan jalan mengikuti kontur mengingat berada di perbukitan. Dengan mengikuti bentuk kontur, maka jalan menjadi berkelok-kelok. Salah satu jalan berkelok di kawasan ini dikenal dengan jalan letter S (Jalan Rinjani).
Saat itu khusus untuk rumah, pembangunannya diawasi ketat melalui Peraturan Tata Bangunan Kota. Aparat birokrasi pemerintah, betul-betul menegakkan peraturan, tak mau kompromi dalam menindak pelanggaran dan tak bisa disuap.
Oleh karena itu, berdirilah rumah-rumah yang bentuknya sangat khas dan unik seperti bergaya klasik, oud indische stijl, art deco, dan gaya villa Eropa di alam tropis.
Karsten juga merancang fasilitas penunjang pemukiman dengan fasilitas kesehatan, yaitu Elizabeth Ziekenhuis (RS Elizabeth) dan Ooglijdershospital (RS Mata William Both). Kemudian fasilitas pendidikan yaitu Van Deventer School dan Neutrale School Huevel, Akpol.
Ada juga fasilitas olahraga berupa lapangan, tempat peribadatan yaitu gereja, taman yaitu Raadsplein (Taman Diponegoro), sarana dan prasarana penunjang seperti air, gas, kantor telepon, dan sarana transportasi publik untuk menghubungkan Candi Baru dengan Kota Semarang Lama.
Thomas Karsten sangat memperhatikan keberadaan ruang terbuka hijau berupa taman-taman, karena memang ingin mengedepankan fungsi kawasan ini sebagai 'kota taman'.
Beberapa taman skala lingkungan maupun skala kota dapat dijumpai di sekitar Jalan Merapi, Jalan Dieng, sekitar makam Belanda atau Ereveld Candi, Taman Diponegoro, dan taman lain dalam skala yang lebih kecil.
Berada pada perbatasan antara Semarang bawah dan Semarang atas menjadikan semua rumah di Candi Baru mempunyai panorama sangat indah, di mana ke selatan menghadap ke Gunung Ungaran, ke utara menghadap birunya Laut Jawa.